Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 83 PERTEMUAN DUA KELUARGA


__ADS_3

Suasana apartemen Reino riuh oleh gelak tawa dari ruang tamu. Tuan Rahardian dan Andini segera berkunjung setelah mendengar berita tentang kedatangan keluarga menantunya itu. Karena insiden pernikahan yang mendadak dulu, kedua keluarga mereka pun tak bisa saling bertemu.


Kali ini suasana hangat terasa sejak Andini dan suaminya berbincang-bincang dengan besan mereka. Mereka terlihat akrab satu sama lain seakan-akan mereka telah lama saling mengenal. Sikap Andini begitu luwes dan santai. Awalnya ibu dan bapak Kanaya ragu saat pertama kali bertemu karena mereka sadar ternyata besan mereka bukan orang sembarangan.


Namun, Andini dan Rahardian adalah orang yang humble. Mereka memperlakukan orang tua Kanaya dengan sangat baik. Kesederhanaan ibu dan bapak menantunya itu telah berhasil menyentuh hati kedua orang tua Reino.


"Oh ya, maaf sekali loh tadi saya tidak bisa ikut menjemput njenengan ke stasiun." ujar Andini meminta maaf diamini anggukan kepala Rahardian.


"Tidak apa-apa. Tadi tole dan nduk ini sudah menyempatkan diri menjemput kami, itu pun sudah alhamdulillah." jawab ayah Kanaya lugas.


"Bagaimana perjalanannya? Lancar?" imbuh Rahardian ingin tahu.


"Iya alhamdulillah, ini baru pertama kalinya kami bepergian jauh. Untungnya semuanya lancar."


"Makan malam sudah siap." sela Kanaya dari dalam.


Reino berdiri lalu mengajak semua orang ke ruang makan. Kanaya menyiapkan hidangan istimewa request-an sang ibu mertua. Di atas meja ada nasi, penyetan ayam goreng, tempe tahu plus sambal kemangi dan lalap timun.


Andini menelan ludah. Aroma sambal terasi telah berhasil menggelitik ***** makan mereka semua.


"Ayo silahkan ma, pa. Bapak sama ibu juga duduk dong."


Semuanya mengambil tempat duduk masing-masing. Tak sabar ingin segera menyantap masakan Kanaya yang terlihat menggugah selera itu.


"Oh ya ma, kak Wanda kok nggak ikut?" tanya Kanaya di tengah acara makan malam itu.


"Maaf, sayang, kakakmu itu sedang ada acara malam ini. Tapi dia berjanji untuk datang kemari besok." terang Andini menyampaikan pesan Wanda.


"Iya, ma. Tidak apa-apa. Besok Nay akan memasak rendang kesukaan kak Wanda."


"Wah, dia pasti senang sekali. Apalagi suaminya juga ikut. Dia penasaran sama rendang buatanmu." celetuk Andini bangga akan kemampuan memasak sang menantu.


"Jenengan beruntung jeng punya putri yang pandai memasak dan pandai mengurus suami seperti Kanaya." imbuhnya.


Kedua orang tua Kanaya tersenyum. Terselip rasa bangga di hati mereka.


"Mbak yu Andini terlalu memuji. Kanaya ini masih perlu dibimbing dan dididik oleh mbak yu dan kang mas Rahardian."


"Ibu dan mama memang benar. Istriku ini memang pandai dalam segala hal. Iya kan, sayang?" goda Reino di hadapan semua orang membuat telinga Kanaya tiba-tiba memerah menahan malu.


"Apaan sih, mas. Iseng aja." omel Kanaya seraya mencubit perut Reino yang persis duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Loh, dipuji kok malah sewot."


"Sudah-sudah kok malah ribut di meja makan. Tidak baik, nduk, le." nasehat ayah Kanaya sambil tersenyum bijak.


"Hehe. Bercanda kok, pak. Akhir-akhir ini istri saya ini memang lebih sensitif. Saya sering jadi korban amukannya." seloroh Reino sengaja.


"Ishhh..mas Reino. Bohong, pak."


"Rei...kamu ini suka sekali ngisengin istrimu. Awas loh nanti anak yang ada di perut istrimu itu jadi usil seperti papanya."


"Astaghfirullah...iya-iya, maaf. Nak papa cuma bercanda ya. Jangan ditiru." ucap Reino bersungguh-sungguh seraya mengelus perut Kanaya, diiringi derai tawa semua orang di meja makan.


"Ayo, kita lanjutkan makan malamnya. Keburu dingin." kata Rahardian mengakhiri drama antara anak dan menantunya itu.


...***...


Sepulangnya Andini dan Rahardian, kedua orang tua serta adik-adik Kanaya segera beristirahat untuk melepas lelah di dalam kamar tamu. Kanaya telah mengganti sprei dan korden di kamar itu untuk menyambut kedatangan mereka.


"Wah...mbak kamar ini besar sekali. Rasanya sebesar rumah kita di kampung ya bu?" celetuk sang adik takjub.


Kanaya hanya tersenyum melihat kepolosan kedua adik laki-lakinya itu.


"Kalau ibu butuh sesuatu jangan sungkan bangunkan Nay ya bu."


"Iya, nduk. Tidurlah. Kamu kelihatan lelah."


Setelah menutup pintu, Kanaya berjalan ke arah dapur karena mendengar suara kran air menyala.


"Mas, Reino kok malah nyuci piring sih? Biar aku yang kerjain. Mas istirahat aja di kamar."


Kanaya mendekati sang suami hendak mengambil alih cucian piring itu.


"Nggak apa-apa, sayang. Sebentar lagi juga selesai. Tadi kamu udah capek masak kan? Biar aku yang melakukan ini." tegas Reino.


Hati Kanaya trenyuh. Ia tidak menyangka Reino begitu memanjakannya.


"Kau pergilah ke kamar dan berbaringlah. Aku segera menyusul."


Kanaya patuh. Ia meninggalkan sang suami di dapur setelah mengecup lembut pipi sang suami.


"Terima kasih, mas."

__ADS_1


Reino tersenyum. Tumben sekali Kanaya berinisiatif menciumnya terlebih dahulu.


Apa bawaan bayi ya? Sering-sering dong, sayang. Aku mau kok. Hehe.


Tidak sampai 10 menit, Reino sudah kembali ke kamar. Kanaya bangkit dari tempat tidur untuk mengambilkan piyama suaminya.


Setelah berganti baju, Reino merebahkan diri di tempat tidur. Kanaya beringsut mendekati sang suami lalu bersandar di pundaknya. Reino memeluk Kanaya dengan sebelah tangannya.


"Mas, apa boleh aku keluar rumah besok? Aku ingin mengajak bapak ibu jalan-jalan."


"Boleh, sayang. Tapi sepertinya aku tidak bisa mengantar kalian, besok aku ada meeting di Bogor. Tidak apa-apa kan?"


"Iya mas. Nggak apa-apa."


"Kalau begitu aku akan meminta sopir untuk mengantar kalian."


"Terima kasih ya, mas."


"Iya, sayang. Tapi ingat, jangan terlalu lelah. Demi bayi kita." lanjut Reino mengingatkan.


"Tentu saja, mas. Aku akan hati-hati."


Cup! Sebuah kecupan singkat namun lembut tiba-tiba mendarat di bibir Reino, mau tak mau membuat tubuh laki-laki itu spontan bereaksi.


"Aku tidur dulu ya mas? Rasanya badanku pegal."


Nay...kau sengaja menggodaku ya?


Kanaya segera berbalik memunggungi Reino sambil memeluk guling sementara tubuh Reino mulai menegang menahan hasrat.


"Sayang..." panggil Reino.


"Hmm...apa mas. Mas cepat tidur. Besok kan harus ke Bogor." jawab Kanaya dengan mata setengah terpejam menahan kantuk.


Ahhh sial. Bagaimana aku bisa tidur??


Terdengar dengkuran halus Kanaya menandakan bahwa perempuan itu benar-benar sudah terlelap.


Reino meraup wajahnya frustasi karena si junior sudah terlanjur bangkit meminta jatahnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2