Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 43 KEMBALI KE IBUKOTA


__ADS_3

Di dalam kereta...


Kanaya dan Reino baru menempuh separuh perjalanan saat kereta api yang mereka tumpangi berhenti di sebuah stasiun di Jawa Tengah. Kanaya terbangun dari tidurnya.


"Maaf, mas. Aku ketiduran ya." ujar Kanaya baru sadar jika ia bersandar di pundak suaminya cukup lama.


Reino meregangkan otot sejenak untuk menghilangkan kaku di lehernya.


"Nggak apa-apa, sayang. Aku lihat kamu ngantuk banget tadi."


"Mas, aku laper. Aku beli makan dulu ya di restorasi." bisik Kanaya di telinga Reino.


"Kamu tunggu di sini aja, biar aku yang beli."


Tanpa menunggu persetujuan istrinya, Reino segera beranjak menuju gerbong restorasi. Ia membeli makanan, minuman dan kue untuk mereka berdua lalu segera kembali.


Di sepanjang gerbong kereta yang dilalui ada banyak mata yang sedang mengawasi Reino. Terutama para penumpang wanita. Mereka terpesona oleh ketampanan wajah Reino. Rambutnya yang diminyaki membuatnya terlihat segar dan macho. Ia memakai kaos putih yang sedikit ketat menempel di badan hingga menonjolkan otot dan dadanya yang bidang.


Kanaya melihat dari jauh sang suami yang sedang berjalan ke arahnya dengan membawa kantung plastik berisi makanan. Ia juga melihat beberapa wanita berbisik saat Reino melewati tempat duduk mereka.


"Ini sayang." ucap Reino seraya menyerahkan kantung plastik itu ke tangan istrinya.


"Makasih, mas."


Reino menerima satu kotak berisi nasi goreng komplit yang disodorkan Kanaya. Lalu mulai melahapnya. Perutnya juga keroncongan rupanya.


"Mas," panggil Kanaya setengah berbisik. Reino mendekatkan telinga ke bibir istrinya itu.


"Tau nggak sih tadi pas mas beli makan, banyak perempuan yang perhatiin mas Reino loh."


Kanaya berceloteh sembari mengunyah nasi miliknya. Reino melirik sekilas.


"Ah, masa, sayang? Kok mas nggak ngerasa ya?"


"Iih mas ini cuek sekali. Masa nggak sadar diliatin cewek-cewek??"


"Hehehe. Aku nggak liat kanan kiri tadi jadi mana tau, sayang. Nanti kalo aku lirik-lirik ada yang marah."

__ADS_1


Kanaya mencibir karena merasa tersindir.


"Awas kalo berani ngelirik perempuan lain ya!" ancam Kanaya terpancing kata-kata suaminya.


"Tuh, kan. Bawaannya udah sewot aja nih sayang. Makanya sayang kamu itu harus bersyukur dapet suami ganteng kayak aku. Hehe."


"Huh ge er. Sok cakep!"


"Emang cakep kan. Kalo nggak cakep mana mungkin sayang mau sama aku."


"Duh kebangetan mas pede nya. Udah ah berantem terus. Ayo kita makan lagi."


Keduanya melanjutkan makan malam yang tertunda karena obrolan yang tidak penting itu. Sementara, penumpang yang duduk di depan mereka hanya bisa tersenyum simpul menyaksikan adegan romi dan yuli antara Kanaya dan Reino.


...***...


"Assalamualaikum, Rit." sapa Kanaya siang itu saat dirinya baru saja sampai di ibukota.


Kanaya sedang berada di apartemen Reino.


"Naaay! Kamu di mana sih kok nggak ngasih kabar sama sekali. Kamu masih di kampung?" suara Rita bagai petasan di siang bolong, sungguh memekakkan telinga.


"Hehe. Maappp..saking senengnya aku denger suara kamu lagi, Nay. Habis kamu ngilang gitu aja nggak telpon aku. Cutimu melewati batas, neng."


Kanaya tersenyum. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hebohnya Rita bila tahu apa yang terjadi saat dirinya pulang kampung.


Kamu bisa syok kalo denger berita ini, Rit, ujar Kanaya membatin, belum saatnya kamu tahu.


"Aku kangen, Rit. Besok aku pulang. Aku bawa oleh-oleh banyak nih buat kamu sama ibu kos."


Mendengar kata 'pulang' Reino menghentikan aktivitasnya membongkar koper. Ia berjalan mendekati Kanaya yang sedang asyik menelepon Rita di atas tempat tidur dan mulai mengganggunya.


Dengan perlahan ia merangkak menaiki tempat tidur lalu membaringkan kepalanya di antara kaki Kanaya yang sedang duduk bersila.


"Mas, aku masih bicara sama Rita!" protes Kanaya sambil menjauhkan Hp dari telinganya, takut Rita mendengar.


"Suara apa itu, Nay? Kayak ada suara laki-laki??" tanya Rita sedikit curiga.

__ADS_1


Telingamu tajam juga, Rit.


"Eh, anu, ada adikku di sini." ujar Kanaya berbohong.


Reino tak mau diam. Ia menelungkupkan tubuhnya. Kepalanya bersandar di perut Kanaya dengan tangan melingkar memeluk pinggang istrinya itu.


"Rit, udah dulu ya nanti aku hubungi lagi. Assalamualaikum." putus Kanaya akhirnya, merasa terganggu oleh ulah suaminya yang usil.


Mendengar telepon dimatikan, Reino sangat senang. Ia dorong perlahan tubuh Kanaya hingga berbaring di bawah tubuhnya. Reino bertumpu pada kedua lengannya.


Wajah mereka berdua begitu dekat hampir tak ada jarak lagi. Kanaya bisa melihat bayangan wajahnya di kedua bola mata Reino. Dengan satu jari Reino menepikan anak rambut yang menutupi pipi istrinya.


Cup..


Satu kecupan singkat mendarat tanpa permisi di bibir Kanaya, membuat gadis itu terkejut dan refleks menutup mulutnya dengan punggung tangan. Pupil matanya melebar. Kedua pipinya merona.


Reino menurunkan tangan Kanaya dari bibirnya. Dikecupnya sekali lagi bibir itu sedikit lebih lama, lalu dilepasnya perlahan. Ia menunggu reaksi Kanaya.


Ya Tuhan, aku tidak tahu harus bagaimana, batin Kanaya polos.


Reino mengalungkan kedua tangan Kanaya ke lehernya lalu dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya menelusuri wajah istrinya. Satu-persatu kecupan ia berikan di kening, pipi dan hidung Kanaya.


Tubuh Kanaya bergetar sekali lagi menahan hasrat alami yang ditimbulkan oleh sentuhan-sentuhan kecil suaminya. Kedua tangannya memeluk leher Reino tanpa sadar.


"Mas.."


Mendengar namanya disebut, gairah Reino mulai terbakar. Kecupan lembut mulai berubah menjadi ciuman panjang. Reino mencium bibir Kanaya, ********** dengan hasrat yang mulai menggebu. Kedua mata mereka sama-sama terpejam. Deru nafas beradu diantara kobaran api asmara keduanya. Semakin lama semakin dalam. Kanaya tersengal seakan kehabisan nafas hingga akhirnya Reino pun mengalah. Ia melepaskan pagutannya perlahan. Memberi jeda bagi istrinya untuk sejenak beristirahat.


"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bisa menahan diri tadi." bisik Reino di telinga Kanaya.


Kanaya membelai rambut suaminya dengan penuh kasih sayang. Membiarkan laki-laki itu berbaring di dadanya.


"Nggak apa-apa, mas. Aku juga tahu kewajibanku. Tapi lebih baik kita mandi dulu, rasanya badan ini sudah lengket mas."


Reino mengangguk mengiyakan. Ia segera bangkit kemudian menuju kamar mandi untuk mengisi air di bath up.


Ayo kita berendam bersama, sayang, aku ingin menggosok punggungmu, batin Reino senang.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2