Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 62 RENCANA RAHASIA ANDINI


__ADS_3

Suasana pagi di rumah orang tua Reino..


Andini dan Rahardian sedang berbincang di teras depan rumahnya yang mewah sambil mengawasi Sesilia bermain sepeda di halaman.


"Pa, aku ingin mengundang Marta dan keponakannya makan malam di rumah ini. Boleh kan?" tanya Andini pada suaminya.


Rahardian mengerutkan dahi. Baru kali ini istrinya ingin mengundang Marta ke rumah.


"Memang ada apa? Biasanya kalian lebih suka bertemu di luar." ujar ayah Reino sedikit heran.


"Ya, sekali-kali pengen juga makan malam di rumah, pa. Bosen kumpul-kumpulnya di mall lagi di mall lagi. Lagian Marta kan datang sama keponakannya juga. Cantik loh, pa. Namanya Nina."


"Pasti kamu mau menjodohkannya sama anak kita, kan?" tebak Rahardian merasa yakin.


Andini tersenyum penuh arti.


"Papa tau aja. Tidak ada salahnya kan, pa? Reino sampai sekarang juga tidak pernah kelihatan dekat sama perempuan. Usianya sudah matang, sudah waktunya berumah tangga, pa."


Ayah Reino menarik napas panjang, berusaha mencerna ucapan istrinya itu.


"Iya juga sih. Tapi lebih baik kamu tanya dulu sama Reino, ma. Barangkali dia punya pandangan lain. Atau mungkin dia sudah punya pacar."


"Ah, mana mungkin. Selama ini Reino belum pernah membawa perempuan untuk dikenalkan pada kita, kan? Wanda juga bilang begitu, pa. Dia tidak pernah lihat Reino jalan sama perempuan."


"Iya, tahu. Tapi sebaiknya kamu tanya langsung sama yang bersangkutan." saran ayah Reino bijak.


"Iya nanti aku tanya Reino, pa. Yang penting papa setuju. Aku sudah menyiapkan sebuah rencana agar Reino mau aku jodohkan dengan Nina." ucap Andini sangat percaya diri.


Rahardian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sangat memahami sifat keras kepala istrinya itu. Jika ia menginginkan sesuatu, ia akan berusaha sekeras mungkin untuk mewujudkannya.


"Terserah kamu saja, ma." putusnya mengalah. Ia tidak mau berdebat dengan Andini soal Reino.


"Papa tenang saja, sebentar lagi papa akan dapat menantu." ujar Andini, berdiri hendak masuk ke dalam rumah.


"Mau kemana, ma?"


"Aku mau ke kantor Reino, pa."


"Kamu ini pagi-pagi sudah mau mengganggu anakmu bekerja."


"Ah, papa ini. Cuma mau ketemu Reino kok dibilang mengganggu. Papa tolong jaga Sesil dulu ya. Siang nanti Wanda mau jemput dia."


Andini melenggang masuk meninggalkan suaminya di teras bersama Sesilia. Ia segera bersiap untuk pergi ke kantor Reino.


***


"Pagi, nyonya." sapa Maya saat melihat Andini masuk ke ruangannya.


"Pagi. Apa putraku ada di dalam?"


"Iya, nyonya. Beliau sedang ada tamu." jawab Maya sopan.


"Aku akan menyapanya sebentar, tolong bilang padanya aku datang."


Maya meraih telepon di meja kerjanya lalu menghubungi Reino.


"Maaf, pak, ibu anda ingin bertemu," lapor Maya, "Baiklah. Saya mengerti."


"Silahkan masuk, nyonya." ujar Maya mengantar Andini masuk ke ruangan Reino.


"Halo, sayang. Maaf jika mama mengganggumu." sapa Andini mendekati meja putranya. Begitu melihat siapa yang sedang bersama Reino, ia tampak terkejut.


"Nina? Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu, sayang."

__ADS_1


Nina berdiri menyambut Andini dengan sikap ramah.


"Pagi, tante. Kebetulan perusahaanku ada proyek kerja sama dengan RR group. Kami sedang mendiskusikan sesuatu."


Andini tersenyum. Ia melihat ke arah Reino dan Nina secara bergantian.


Kalian benar-benar pasangan yang serasi.


"Oh, ya, tumben mama kemari? Apa ada sesuatu?" tanya Reino heran.


"Sebenarnya mama ingin mengajakmu makan siang. Kebetulan sekali ada Nina juga di sini, sekalian kita makan siang bertiga. Bagaimana? Kamu mau kan, Nina?" ajak Andini menatap Nina penuh harap. Ini adalah kesempatan untuk mendekatkan putranya dengan Nina.


"Kalo aku sih mau aja, tante. Mungkin Reino yang banyak pekerjaan." jawab Nina menoleh sekilas pada laki-laki itu.


"Ayolah, sayang. Jarang-jarang kamu ada waktu untuk mama. Sebentar saja, hanya makan siang." pinta Andini memohon.


Reino menarik nafas panjang. Meski dengan berat hati, ia akhirnya mengiyakan permintaan sang ibu. Tetapi ia berjanji dalam hati akan segera menceritakan semuanya pada ibunya.


"Baiklah. Tapi aku tidak bisa lama, ma. Aku ada janji dengan klien jam 2 nanti." ujar Reino mencari alasan.


"Kau tenang saja. Tidak akan lama, sayang. Hanya makan siang. Mama janji."


Akhirnya mereka bertiga pergi makan siang di sebuah restoran dekat kantor. Andini berbincang akrab dengan Nina di sebuah meja di sudut ruangan sementara Reino pamit ke kamar kecil. Ia bermaksud untuk menghubungi Kanaya.


"Assalamualaikum, mas." sapa sang istri di ujung telepon.


"Wa'alaikumsalam, sayang. Kamu di mana?"


Kanaya yang sedang bersama kawan-kawannya pun sedikit menjauh dari mereka.


"Aku masih di kantor, mas. Tapi sebentar lagi aku dan teman-teman mau makan siang. Rita hari ini dapat rezeki, katanya mau traktir kami makan. Mas di mana?"


"Aku lagi makan siang, sayang. Sama mama."


"Iya, sayang. Sampai ketemu nanti ya."


Kanaya menutup telepon lalu segera bergabung dengan teman-temannya.


"Ayo, Nay. Lama banget sih."


"Iya, maaf, Rit. Aku minta ijin sama mas Reino tadi." bisik Kanaya pelan takut didengar oleh yang lain.


"Kita mau makan di mana nih?" tanya Dewi saat mereka berjalan keluar gedung.


"Aku mau ajak kalian makan di restoran." seru Rita bersemangat.


"Cieee...banyak duit nih ceritanya." celetuk Nia girang.


Mereka bergegas menuju restoran di dekat kantor, tempat di mana Reino, Andini dan Nina juga sedang makan siang.


Di dalam restoran...


Reino kembali bergabung bersama ibunya dan Nina yang sudah memesan makanan terlebih dulu. Andini sengaja mengatur tempat duduk untuk putranya tepat di samping Nina.


Saat hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, ponsel Andini berdering. Ia cepat-cepat meraihnya.


Kamu tepat waktu sekali, Wanda, batin Andini senang.


"Maaf, aku mau menjawab telepon dulu." pamit Andini pada keduanya lalu berjalan sedikit menjauh.


Setelah selesai, Andini kembali ke mejanya menemui Reino dan Nina.


"Maafkan, mama sayang. Mama harus pergi. Wanda meminta mama untuk menemaninya ke dokter." ujar Andini berbohong. Sebenarnya, dialah yang mengirim pesan terlebih dahulu, meminta Wanda untuk meneleponnya.

__ADS_1


"Apa kak Wanda sakit?" tanya Reino cemas.


"Ah, bukan masalah besar. Dia hanya ingin ditemani ke dokter untuk check up rutin." kilah Andini mengarang alasan.


"Biar aku antar, ma."


"Tidak usah, sayang. Mama bisa naik taksi. Kalian lanjutkan makan siangnya. Mama pergi dulu ya. Maafkan tante ya, Nin. Lain kali kita bisa pergi lagi."


Nina tersenyum. Dalam hati ia merasa senang akhirnya mendapat kesempatan berdua saja dengan Reino.


"Hati-hati, tante." pesan Nina disambut senyuman Andini.


Setelah Andini pergi, Reino kembali duduk dan melanjutkan makan siangnya. Nina melirik sekilas ke arahnya.


"Oh ya, Rei, kapan-kapan aku kenalin dong sama istri kamu." ujar Nina spontan membuat Reino tersedak makanan yang dikunyahnya.


"Maaf, Rei, kamu nggak apa-apa kan?"


Nina mengusap-usap punggung Reino setelah mengambilkan segelas air untuknya.


Tepat saat itu juga, Kanaya dan kawan-kawannya tiba di restoran. Posisi tempat duduk Reino dan Nina yang membelakangi pintu membuatnya tak terlihat oleh mereka.


"Ayo kita duduk di sana!" seru Rita memberi komando, menunjuk sebuah meja tidak jauh dari meja Reino dan Nina.


Mereka segera duduk di sana. Tak lama kemudian seorang pelayan datang dan menanyakan pesanan mereka. Satu-persatu membaca buku menu yang disodorkan oleh si pelayan restoran dan mulai memesan. Di sela-sela obrolan mereka, Dewi menyadari kehadiran Reino di sana.


"Eh, bukannya itu pak Reino, ya?" tanya Dewi setengah berbisik.


Kanaya dan Rita yang sedang melihat buku menu refleks menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Dewi. Dan benar saja, mereka melihat Reino di sana bersama seorang wanita yang sedang mengusap punggungnya.


Bukankah itu Nina? ujar Kanaya mulai terbakar emosi.


Seketika muncul amarah dalam hati kecilnya. Ia teringat kata-kata suaminya di telepon tadi bahwa dia sedang makan siang bersama ibunya. Tapi kenyataan yang dilihatnya sekarang benar-benar berbeda. Ia merasa dibohongi.


Apa maksud semua ini mas?! Kenapa mas berbohong lagi?!


Tanpa sadar Kanaya berdiri dengan penuh amarah. Ia bergegas keluar dari restoran. Sebelum mencapai pintu, Rita memanggilnya.


"Kanaya!!" teriak Rita keras.


Seisi restoran menoleh. Tak terkecuali Reino dan Nina. Betapa terkejutnya laki-laki itu saat melihat Kanaya setengah berlari meninggalkan restoran.


Reino bangkit dari kursinya lalu segera menyusul Kanaya keluar dari restoran.


"Nay! Tunggu! Aku bisa jelaskan semuanya." seru Reino begitu bisa menyusul istrinya di halaman restoran. Reino mencekal pergelangan tangan Kanaya.


"Lepasin, mas! Mas nggak perlu memberi penjelasan apapun." ujar Kanaya sambil terus berusaha melepaskan tangan Reino dengan penuh emosi.


"Tenang dulu, sayang. Dengarkan aku."


"Cukup mas. Aku tidak suka dibohongi." Kanaya berhasil melepas tangan suaminya.


"Sayang, kamu salah paham." sela Reino berusaha memberi penjelasan.


"Terserah mas aja. Silahkan kembali ke dalam. Jangan sampai wanita itu menunggumu terlalu lama." tegas Kanaya marah. Ia berlari meninggalkan Reino dan kembali ke kantor. Sementara itu, semua orang menyaksikan pertengkaran itu dari balik kaca restoran, tak terkecuali Nina dan teman-teman Kanaya. Mereka saling pandang dengan banyak pertanyaan berkelebat di kepala mereka.


*Apa ada sesuatu antara Kanaya dan pak Reino? mereka kompak membatin.


Rupanya dialah wanitamu, Rei.


(Nina*)


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2