
Andini terlihat berjalan tergesa-gesa menuju apartemen putranya. Dengan hati tak sabar diketuknya pintu itu beberapa kali.
"Mama?" Reino terkejut mendapati sang ibu sudah berada di dihadapannya sepagi ini.
"Ayo masuk, ma."
Mereka berdua beriringan masuk. Andini meletakkan paper bag yang ditentengnya sejak tadi.
"Mama sendirian?"
"Sama sopir, mama mau mengajak besan ke tempat fitting baju. Besok acaranya kan siang, jadi kalau ada yang kurang pas bisa segera diperbaiki. Kemana mereka, Rei? Kok sepi?" tanya Andini heran melihat suasana rumah begitu sepi.
"Lagi keluar sebentar, ma. Jalan-jalan di sekitar apartemen. Sebentar lagi juga datang. Mama mau minum teh?"
"Iya, sayang, boleh. Tapi tanpa gula ya?" pinta Andini.
"Siap, ma." jawab Reino segera berlalu.
Sementara di luar, Kanaya dan keluarganya sedang menikmati bubur ayam di pinggir jalan dekat komplek apartemen. Ponsel Kanaya berdering beberapa kali.
"Iya mas, ada apa?" sapanya setelah menjawab salam suaminya.
"Ada mama, sayang. Mama mau mengajak ibu dan bapak ke butik untuk fitting baju. Cepat pulang ya?"
"Baik, mas. Ini juga sudah selesai sarapannya. Nay pulang sekarang. Assalamualaikum."
Kanaya memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas lalu mengambil dompet untuk membayar bubur ayam sarapan mereka.
"Ada apa, nduk??" tanya sang ibu menghampiri.
"Mama datang, bu. Kita sudah ditunggu di rumah. Hari ini ibu dan bapak juga adik-adik akan fitting baju untuk acara resepsi besok."
"Oalah begitu toh nduk. Iya sudah ayo kita segera pulang. Kasihan mertuamu nanti lama menunggu kita."
"Iya, bu."
"Pak, ayo pulang. Ditunggu besan di rumah."
Sementara itu, di apartemen, Andini dan Reino menunggu di ruang tengah sembari menikmati teh tanpa gula buatan putranya.
"Rei, sepulang dari butik nanti, kita langsung check in hotel ya? Mama sudah urus semua keperluan kalian. Oh ya, jangan lupa bawa vitamin Kanaya. Mama nggak mau istrimu kelelahan."
"Siap, ma. Sepertinya Nay juga sudah packing semalam. Rei tinggal bawa."
"Benarkah? Wah, menantu mama ini memang gesit ya? Beruntung kamu, sayang."
"Iya, ma. Mama benar. Rei merasa sangat beruntung mendapatkan Kanaya. Dia adalah segalanya buat Reino ma." ucap Reino bahagia.
Andini mendekat lalu memeluk putranya erat. Ada binar bahagia di matanya.
"Semoga pernikahan kalian langgeng dan selalu diliputi kebahagiaan."
"Amin. Terima kasih atas doanya ma."
__ADS_1
"Assalamualaikum." ucap Kanaya begitu membuka pintu rumah.
"Wa'alaikumsalam." Reino dan Andini menjawab hampir bersamaan.
Semua orang masuk dan berkumpul di ruang tengah.
"Maaf, ma, tadi Nay masih sarapan dulu."
"Nggak apa-apa, sayang. Kita berangkat sekarang ya? Sudah ditunggu di butik. Oh ya, ibu sama bapak biar ikut mobil mama aja Nay. Kamu sama Reino bawa mobil sendiri ya?"
"Baiklah, ma. Sampai ketemu di butik ya." ujar Reino mengantar semuanya ke depan pintu.
"Hati-hati ma." lanjutnya sebelum menutup pintu.
Sepi nih nggak ada orang, batin Reino senang. Sepertinya dia akan curi-curi kesempatan.
"Aku ambil tas dulu ya mas."
"Eitss...sini dulu." Reino memeluk Kanaya dari belakang, membuat bulu tengkuk istrinya meremang sempurna.
"Maaass...mau apa pagi-pagi begini? Kita harus berangkat sekarang loh."
Bibir Kanaya mencebik. Kesal akan tingkah Reino yang sering menggodanya akhir-akhir ini.
"Biarkan mereka menunggu, sayang. Toh urusan fitting baju kita kan sudah selesai. Ada mama di sana yang akan mengurus keluargamu."
"Ck. Trus mau mas Reino apa sekarang?" todong Kanaya seraya membalikkan badan menghadap suaminya. Tubuh rampingnya sudah berada dalam pelukan Reino.
"Kita ke kamar yuk. Sebentar aja, sayang."
"Hehe. Boleh ya?"
"Ayo."
Reino menggendong tubuh Kanaya dan segera membawanya ke kamar. Pagi ini cuaca sedikit gerah rupanya. ^v^
...***...
"Ah, ini dia mereka datang. Kenapa kalian lama sekali sih?" cecar Andini akhirnya begitu melihat kemunculan Reino dan Kanaya.
"Eh, anu ma, tadi..."
"Tadi ponsel Nay ketinggalan ma, jadi kami kembali ke apartemen." bohong Reino sambil cengengesan.
Andini meneliti keduanya dengan pandangan menyelidik.
Rambut masih basah begitu. Dasar anak muda.
"Hah, kalian ini. Memang mama ini anak kecil." ujar Andini menyikut pelan lengan putranya.
"Ayo, masuk sana."
Reino tertawa lebar menanggapi ucapan Andini barusan. Sementara wajah Kanaya merona karena malu.
__ADS_1
"Ishhh...gara-gara mas Reino tuh." bisik Kanaya seraya mencubit gemas pinggang suaminya.
Di dalam ruang fitting, pemilik butik langganan keluarga Reino sedang melayani keluarga Kanaya dengan sangat ramah. Sang Desainer juga terlihat sibuk menyiapkan baju-baju untuk acara resepsi besok. Semuanya berjejer rapi di rak yang telah disiapkan.
"Sayang, kemarilah sebentar." panggil Andini pada Kanaya.
"Iya, ma, ada apa?"
"Apa kamu nyaman jika memakai kalung ini?" tanya Andini saat menunjukkan sebuah kalung berlian yang nampak mewah dan mahal.
"Tapi, ma, yang kemarin Nay coba juga sudah pas."
"Sayang, mama tahu itu. Tapi coba dulu yang ini ya? Mama yakin ini akan lebih cocok dengan gaunmu."
Tak ingin mengecewakan usaha sang ibu mertua, Kanaya memilih mengalah. Dicobanya perhiasan itu di depan cermin.
Tentu saja kalung ini cantik, mahal. Kanaya melirik sekilas bandrol harga yang menggantung di ujungnya. Bikin merinding.
"Tuh, kan, bagus sekali sayang. Mbak, tolong siapkan kalung yang ini untuk gaun yang itu ya?" pinta Andini pada seorang asisten toko yang dengan setia melayani mereka.
"Mas, mama mulai menggila. Aku merinding lihat harga kalung itu." bisik Kanaya pada suaminya.
Reino memeluk pundak Kanaya dengan sebelah tangannya, mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya itu.
"Turuti saja, sayang. Kamu pantas mendapatkannya. Bahkan kalau kamu mau, seluruh isi toko ini akan aku beli." selorohnya sambil berkedip genit.
"Ah, mas Reino jangan ikutan gila juga." semprot Kanaya dengan mata melotot.
Dasar orang kaya!!! Seenaknya aja main beli-beli barang kek beli gorengan.
"Ada apa, nduk?" tanya sang ibu saat melihat putrinya berjalan mendekatinya yang sedang mencoba kebaya.
"Nggak apa-apa, bu. Cuma sedikit kesal aja."
"Kesal kenapa toh? Besok kan hari penting kalian, kenapa wajahmu uring-uringan begitu?"
"Mama itu loh, bu. Kalau beli sesuatu suka nggak kira-kira. Ibu tahu berapa harga kalung yang Nay coba tadi?"
"Memang berapa, nduk?" tanya sang ibu penasaran.
"Sembilan ratus juta, bu!"
"Ap..apa nduk?? Sembilan ratus juta??? Ma..mahal sekali." dengan ekspresi syok ibu Kanaya menutup mulutnya yang menganga.
"Tuh, ibu juga kaget kan? Nay nggak habis pikir, bu."
"Kamu beruntung, nduk, punya suami dan mertua yang menyayangimu seperti anak sendiri. Itu rezeki dari gusti Allah. Jagalah kepercayaan mereka dengan baik. Meskipun sekarang kamu punya segalanya, tetaplah rendah hati dan berpijak pada bumi, nduk." ujar sang ibu menasehati dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, bu, Nay mengerti."
Keduanya berpelukan, air mata pun tumpah tanpa permisi membuat Reino yang sedang berbincang dengan ayah Kanaya datang menghampiri.
"Ada apa, sayang?" tanya Reino seraya mengecup puncak kepala istrinya dengan mesra, membuat iri beberapa pasang mata pegawai butik yang sedang bekerja.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, mas. Terima kasih untuk semua ini." ucap Kanaya tulus pada sang suami. Dipeluknya tubuh Reino tanpa sungkan lagi.
...----------------...