Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 54 KARENINA


__ADS_3

Keduanya masih terpaku, saling menatap tak percaya. Dunia terasa sangat sempit karena nyatanya takdir telah berhasil mempertemukan mereka kembali sekarang.


Nina memilih mendekat. Tatapannya tak lepas dari laki-laki itu. Menyadari Reino sama terkejutnya seperti dirinya, ia mencoba untuk lebih dekat lagi. Keduanya berdiri saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat hingga Reino bisa memandang kedua bola mata Nina yang jernih itu. Rasanya seperti tersihir, ia bisa melihat kembali masa lalunya bersama perempuan itu.


"Apa kabar, Rei? Aku tak percaya bisa melihatmu lagi sekarang." kalimat pertama yang meluncur lugas dari mulut Nina.


Reino menarik nafas dalam-dalam, ingin menghilangkan sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya.


Kenapa Tuhan mempertemukan kita lagi sekarang? Reino membatin.


"Aku baik-baik saja. Silahkan duduk." jawab Reino sedikit ragu, ia memilih menghindar.


Nina mengikuti Reino duduk di sofa, saling berhadapan. Suasana sejenak hening. Keduanya nampak canggung untuk mulai bersuara.


Di tengah kebisuan keduanya, tiba-tiba Maya masuk dengan membawa setumpuk berkas di tangannya.


"Maaf, pak. Ini dokumen proyek yang dibawa nona Karenina." ujar Maya memberitahu.


Karenina, ulang Reino dalam hati, sebuah nama yang dulu pernah lama merajai hatinya.


Reino menerima berkas-berkas itu lalu membacanya satu-persatu. Ia berusaha memusatkan pikirannya pada pekerjaan, bukan pada wanita di hadapannya iti.


Sementara itu, jantung Nina masih berdegup kencang sejak pertemuan tak terduga dengan Reino tadi. Laki-laki di hadapannya itu nampak jauh berbeda, lebih gagah dan lebih dewasa daripada terakhir kali mereka bertemu dulu.


"Jadi kau perwakilan dari Hutama group?" tanya Reino memulai pembicaraan tentang proyek itu. Ia berharap bisa bersikap sewajar mungkin, selayaknya berbicara dengan seorang klien.


"Benar. Aku yang memimpin cabang di Batam." tukasnya berusaha mengimbangi sikap profesional yang Reino tunjukkan.


Perbincangan serius mengenai proyek kerja sama antara RR group dengan Hutama group sedikit banyak bisa mengalihkan perhatian keduanya dari bayang-bayang masa lalu yang tiba-tiba menari di benak mereka.


Tanpa terasa satu jam telah berlalu. Nina akhirnya mengakhiri pertemuan pagi itu dengan berpamitan pada Reino.

__ADS_1


"Aku harap kerja sama perusahaan kita bisa berjalan lancar." ucap Nina sebelum pergi. Maya berdiri untuk mengantar Nina keluar.


"Semoga saja. Hubungi sekretarisku jika kau butuh sesuatu." tandas Reino.


Karenina mengulurkan tangan. Meski pada awalnya ragu, akhirnya Reino mau menjabat tangannya. Untuk pertama kalinya mereka bersentuhan lagi sejak perpisahan beberapa tahun lalu. Ada getaran aneh yang mereka rasakan di dalam hati.


Reino menghembuskan nafas panjang ketika melihat Nina menghilang dari balik pintu.


Ya Tuhan, kenapa dia harus muncul lagi di hidupku?


...***...


"Om, mbak Kanaya mana? Katanya dia mau nemenin aku?" tanya Sesilia menagih janji siang itu.


Reino melihat arloji di tangannya. Pukul 1 siang.


"Maafin om ya? Sesil dari tadi main sendiri. Kerjaan om banyak banget hari ini."


Reino meraih telepon di mejanya.


"Baik, pak. Segera." jawab Maya sambil tersenyum.


Tak lama kemudian Kanaya masuk ke ruangan Reino disambut wajah ceria Sesilia.


"Mbak, Nay!" seru Sesil senang. Ditariknya tangan Kanaya agar mengikutinya duduk di sofa.


"Iya, sayang pelan-pelan dong."


Reino menghentikan sejenak pekerjaanya dan bergabung dengan mereka di sofa.


"Udah makan, sayang?" bisik Reino pelan saat Sesil sibuk bermain dengan gadgetnya.

__ADS_1


Kanaya menggeleng. Ia memang belum sempat makan siang karena Maya memintanya segera ke ruangan Reino tadi.


"Aku pesenin aja ya? Kita makan di sini." tawar Reino.


"Sesil mau makan apa, sayang?" tanya Kanaya pada gadis kecil itu.


"Aku mau sushi, mbak." pinta Sesilia tanpa menoleh. Ia sedang asyik bermain game.


Reino meraih ponsel dan mulai memesan makanan sesuai permintaan keponakan tercintanya itu.


"Sesil, kalo main hp jangan terlalu deket gitu, sayang. Nanti mata kamu rusak loh." ujar Kanaya memperingatkan.


Sesilia menoleh lalu tersenyum menggemaskan.


"Iya, mbak. Begini ya?" jawabnya seraya menjauhkan hp dari kedua mata bulatnya. Setelah itu ia kembali tenggelam dalam permainan.


Kanaya mengalihkan pandangannya pada Reino yang sedang duduk di balik mejanya. Ia melihat suaminya itu sedang termenung seperti melamunkan sesuatu.


"Ada apa, mas? Kok mas Reino melamun?" tanya Kanaya pelan agar tidak didengar Sesil.


Reino tersentak dari lamunannya.


"Nggak ada apa-apa, sayang." ucapnya berbohong karena sebenarnya, pikirannya sedang tertuju pada kedatangan Karenina yang tiba-tiba itu.


Kanaya tersenyum, meski sebenarnya ia bisa merasakan sesuatu yang aneh pada sikap suaminy. Tidak biasanya Reino melamun.


Apa ada yang sedang kamu pikirkan, mas?


"Mbak, coba liat sini. Aku nggak tau cara mainnya." panggil Sesilia.


Kanaya mendekat lalu duduk di samping Sesilia untuk menemaninya bermain. Namun, pikirannya justru kembali pada Reino. Ia merasa suaminya sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Ada apa denganmu, mas?


...----------------...


__ADS_2