Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 44 AKU MILIKMU SEUTUHNYA


__ADS_3

(Bab ini mengandung adegan dewasa ya, harap bijak dalam menyikapinya, happy reading, terima kasih😀)


Kanaya mengijinkan Reino menggendongnya sampai ke kamar mandi, menurunkan gadis itu di dekat bath up.


Satu-persatu Reino melepas pakaian yang dikenakannya tanpa sungkan hingga membuat Kanaya memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia merasa tidak siap melihat pemandangan polos di hadapannya.


"Mas, vulgar sekali!"


Reino tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Dengan perlahan, ia berjalan mendekati Kanaya. Di sentuhnya dagu sang istri agar mengahadap padanya.


"Jangan malu, sayang. Aku suamimu sekarang."


Perlahan Reino membantu Kanaya melepaskan baju yang di kenakannya satu demi satu hingga gadis itu pun nampak polos di hadapan suaminya.


Reino mengangkat tubuh Kanaya dan membawanya ke dalam bath up. Ia membiarkan Kanaya duduk didepannya agar leluasa memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Reino membasahi pundak dan punggung Kanaya dengan air hangat, membasuhnya dengan lembut. Gadis itu menggeliat merasakan kedua tangan Reino mulai memijit lembut pundaknya.


"Hmm..enak mas."


Reino memijit pundak hingga tengkuk Kanaya dengan penuh kelembutan. Ia merasakan tubuh istrinya itu begitu mungil di hadapannya.


"Mulai sekarang kamu harus makan yang banyak, sayang."


"Memang kenapa, mas?"


"Coba lihat kamu ini kurus sekali."


"Ck..kalo aku gendut, nanti mas ngelirik perempuan lain." sungut Kanaya seraya menoleh ke belakang. Bibirnya mengkerut membuat Reino refleks mengecupnya.


"Iiiih mas Reino ini suka curi-curi kesempatan!"


"Biarin. Kamu itu gemesin, sayang."


Reino memeluk Kanaya dari belakang hingga tubuh keduanya menempel tanpa ada jarak lagi. Ia menyandarkan dagunya di pundak sang istri sementara Kanaya bersandar di dada suaminya dengan nyaman.


"Makasih, sayang udah mau terima aku jadi suamimu. Mulai saat ini, berbagilah kisah hidupmu denganku, jangan pernah menanggung beban sendiri. Kau mengerti?"


"Iya mas. Aku ngerti. Mas tau? Aku bahagia bisa menikah dengan mas Reino. Sebelumnya, aku sempat berfikir bahwa akhirnya aku harus mengorbankan perasaanku dengan menikahi pria lain."


Reino mempererat pelukannya. Ia tak sanggup membayangkan apa yang terjadi bila waktu itu dirinya dan Samira datang terlambat.


"Jangan pernah tinggalkan aku, Nay." ucap Reino lirih. Ia tidak ingin kehilangan istrinya itu.


...***...

__ADS_1


Usai mandi, keduanya memutuskan untuk makan malam di apartemen saja. Kanaya memesan makanan dari ojek online karena ia tidak menemukan bahan makanan sama sekali di dalam kulkas.


"Mas, sepertinya besok kita harus berbelanja kebutuhan dapur." seru Kanaya setelah mengecek isi kulkas di dapur yang hanya berisi botol air mineral dan vitamin saja.


"Iya, sayang. Besok kita belanja." jawab Reino dari ruang TV.


Kanaya membawa dua cangkir teh hangat yang baru dibuatnya ke ruang TV Ialu meletakkannya di atas meja. Belum sempat menjangkau sofa, Reino sudah menarik tubuhnya hingga terjatuh di pangkuan Reino seketika.


"Mas...aku mau ke dapur sebentar." protes Kanaya.


"Mau ngapain lama-lama di dapur, sayang? Enakan duduk di sini."


"Dasar genit. Aku mau ambil piring sama sendok mas. 'Bentar lagi makanan kita dateng."


Mau tak mau Reino melepaskan Kanaya. Dibiarkannya sang istri kembali ke dapur dan menyiapkan peralatan makan mereka. Ia harus bersabar meski sebenarnya keinginan untuk bercinta dengan sang istri sudah semakin tak tertahankan.


Ting...tong...


Terdengar suara bel. Reino beranjak untuk membukakan pintu.


Di depan pintu, seorang ojol menyerahkan pesanan. Setelah menerima pembayaran, ia pun segera pamit. Reino menutup pintu lalu kembali ke ruang TV.


"Waah..udah datang ya mas. Aku laper banget." seru Kanaya kegirangan.


Makan yang banyak sayang karena nanti kita akan olahraga malam, hehehe.


"Hmm...sepertinya ini enak." ujar Reino mencomot martabak manis dari kotaknya.


"Ayo, mas, makan nasi dulu." pinta Kanaya sembari menyuapkan sesendok nasi padang ke mulut suaminya.


Dimanjakan seperti itu oleh Kanaya sungguh membuat Reino bahagia. Ia merasa sangat beruntung bisa menikahi wanita yang amat dicintainya itu. Dalam hati ia berjanji akan membahagiakan Kanaya selama sisa hidupnya.


Kanaya dan Reino menghabiskan semua makanan yang ada di meja. Rupanya, mereka berdua benar-benar kelaparan.


Setelah membereskan meja, Kanaya menuju dapur untuk mencuci piring. Ia meninggalkan suaminya sendirian menonton acara berita di televisi.


Sementara itu di dapur, Kanaya menata kembali piring dan gelas yang telah dicuci ke dalam lemari piring.


"Nah, selesai." gumamnya.


Kanaya kembali ke ruang TV untuk menemani suaminya menonton berita namun ternyata Reino sudah tertidur di sofa dengan TV menyala. Kanaya mengambil remote dan mematikan TV.


"Mas...tidur di kamar aja. Jangan di sini." ujar Kanaya membangunkan suaminya perlahan. Ia merasa kasihan jika Reino tidur di sofa.


Tinggi badan Reino yang di atas rata-rata membuatnya tidak leluasa berbaring di sana.

__ADS_1


"Hmm..iya, sayang ayo kita tidur."


Setelah mematikan lampu, Reino masuk ke dalam kamar. Ia melihat Kanaya hendak masuk ke dalam kamar mandi.


"Mau kemana sayang?" cegahnya seraya menarik sebelah tangan istrinya.


"Mau ganti baju, mas."


"Ganti di sini aja." pinta Reino


Tanpa menunggu jawaban istrinya, Reino membantu Kanaya membuka kancing atas baju yang dikenakannya. Senyuman nakal menghiasi bibirnya.


"Kalo begini caranya, aku nggak bakal selesai ganti baju, mas." sela Kanaya saat tangan Reino perlahan turun ke kancing berikutnya.


Reino tersenyum penuh hasrat saat baju Kanaya berhasil terlepas dan meluncur turun tanpa hambatan di dekat kakinya. Kini Kanaya hanya memakai pakaian dalam saja. Tubuh mulus istrinya seketika membuat gairahnya kembali muncul.


Reino mengangkat tubuh Kanaya, membawanya ke tempat tidur.


Malam ini aku akan menyerahkan milikku seutuhnya padamu mas, batin Kanaya pasrah. Ia tidak ingin mengingkari kewajibannya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya.


Reino membaringkan tubuh Kanaya perlahan. Dengan lembut ia mulai mencium kening istrinya. Hasratnya pun mulai terbakar ketika tanpa ia duga Kanaya merespon setiap sentuhannya dengan terbuka.


"Apa kamu siap sayang?" tanya Reino ragu takut menyakiti istrinya.


Kanaya menatap kedua bola mata Reino yang telah terbakar hasrat kelaki-lakiannya. Ia tidak akan menunda lagi untuk memenuhi keinginan suaminya. Malam ini akan menjadi milik mereka berdua.


Kanaya mengangguk. Reino tak mau berlama-lama lagi. Diraihnya tengkuk Kanaya lalu dilumatnya bibir ranum milik istrinya itu. Desahan demi desahan terdengar dari mulut keduanya, membuat gairah mereka membuncah semakin tak terkendali.


Tangan Kanaya secara alami mulai menjelajahi punggung kokoh sang suami, mengimbangi gerakan Reino yang semakin liar mengeksplor tubuhnya.


"Mas..." sesekali terdengar Kanaya memanggilnya, membuatnya hasratnya semakin menjadi.


Reino membuka kaitan bra yang masih melekat di tubuh Kanaya lalu melemparkannya jatuh ke lantai.


Reino mencari kenikmatan di sana. Memberikan banyak tanda kepemilikan. Tubuh Kanaya menggelinjang, merasakan kenikmatan yang belum pernah ia alami sebelumnya.


"Aku sudah tak tahan sayang..." ujar Reino dengan suara berat menahan hasrat.


Perlahan Reino melakukan penyatuannya. Keduanya mulai berpacu dengan hasrat yang semakin liar tak terkendali hingga akhirnya mereka pun bisa melepaskannya bersama-sama.


"Terima kasih, sayang. Kamu telah menjaga kehormatanmu hanya untuk suamimu."


Reino merengkuh tubuh Kanaya yang terkulai kelelahan, membawanya ke dalam pelukan.


Ada setitik air di sudut mata Kanaya. Ia telah menyerahkan miliknya yang paling berharga untuk Reino. Setelah ini, pengabdiannya sebagai seorang istri akan ia jalani dengan penuh tanggung jawab.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Nay." ucap Reino seraya mengecup lembut kening istrinya.


...----------------...


__ADS_2