
Jam makan siang baru saja selesai. Kanaya membereskan bungkus nasi bekas ia makan lalu membuangnya ke tempat sampah. Ia juga merapikan meja dan kursi ke tempatnya semula. Siang ini Kanaya makan sendirian di ruangannya. Ia menolak ajakan Reino untuk makan siang bersama di luar kantor karena alasan pekerjaan yang belum selesai meski sebenarnya hal itu hanya karangannya saja. Ia menghindari pertemuan yang dapat menimbulkan kecurigaan orang-orang di kantornya. Terlebih para karyawati.
"Permisi neng." sapa pak Dadang di depan pintu ruangan kebersihan.
"Masuk pak. Ada apa?" tanya Kanaya sembari mengambil alat pel, ia bermaksud melanjutkan pekerjaannya di lantai 2.
"Anu neng, maap mengganggu ya. Saya mau minta tolong sama neng Kanaya. Aduh tapi malu."
Kanaya menghentikan aktifitasnya sejenak dan berjalan menghampiri pak Dadang di depan pintu.
"Ada apa pak? Jangan sungkan."
"Begini neng, kalau boleh saya mau pinjam uang tiga ratus ribu. Gajian bulan depan saya kembalikan neng. Mendadak ada perlu di kampung." dengan malu-malu pak Dadang mengutarakan maksud kedatangannya.
"Oo..iya boleh pak. Kebetulan saya ada. Sebentar ya pak saya ambil dulu."
Kanaya meraih dompet kecil dari dalam tasnya, mengambil beberapa lembar uang lima puluh ribuan lalu menyerahkannya pada pak Dadang.
"Ini pak."
Mata pak Dadang berbinar saat menerima uang dari Kanaya. Ia tak menyangka bahwa Kanaya akan meminjaminya uang. Sejak pagi ia merasa bingung harus meminta bantuan pada siapa.
"Terima kasih atuh, neng. Saya tertolong." ujar pak Dadang seraya menjabat tangan gadis itu dengan penuh rasa terima kasih.
Kanaya membalas dengan senyuman tulus. Ia paham betul kondisi pak Dadang yang sedang kesulitan jadi dengan senang hati ia membantunya. Kebetulan kemarin ia baru menerima gaji dari restoran tempatnya bekerja paruh waktu. Rencananya ia akan mengirimkan uang itu untuk keperluan pengobatan sang ayah di kampung.
"Semoga ada rezeki lain ya. Pak, bu, tolong do'akan Nay ya." ucap Kanaya pada diri sendiri.
...***...
Kanaya meraih Hp dari dalam tas dan membaca beberapa pesan yang masuk. Semuanya dari Reino. Sejak sampai di restoran, ia belum sempat membuka hp nya sama sekali karena jumlah pengunjung yang datang lumayan ramai malam ini.
Reino
Pulang sama-sama ya?
Reino
Udah pulang?
Reino
Nay?
Panggilan tak terjawab (5)
__ADS_1
Reino
Reino
Angkat telponku, Nay.
"Waduh, banyak amat pesennya." ucap Kanaya tak percaya.
Kanaya hendak menelpon Reino untuk meminta maaf karena baru sempat membaca pesannya. Namun niat itu diurungkannya karena ia sendiri baru sadar bahwa ini sudah larut malam. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
Pasti pak Reino sudah tidur, batin Kanaya.
Setelah berganti pakaian, Kanaya berpamitan pada manajer restoran. Beberapa teman kerja Kanaya juga sudah ada yang pulang.
"Aku duluan ya kak." pamit Kanaya ramah pada Bisma, karyawan bagian dapur.
"Ati-ati, Nay. Kamu pulang naik apa? Aku anter ya?"
"Nggak usah, kak. Nay naik ojek." tolaknya halus agar tidak menyinggung niat baik Bisma.
Di depan pintu restoran Kanaya mencoba menghubungi bang Ajay karena tadi sore sudah berpesan agar menjemput Kanaya di tempat kerja.
"Iih, bang Ajay kemana sih kok nggak diangkat?!"
Diulangnya sekali lagi panggilan ke nomor bang Ajay namun tak ada jawaban. Kanaya resah. Ini sudah larut malam. Ia tidak berani naik ojek online. Harapan terakhir, ia kembali mencoba menghubungi hp bang Ajay sekali lagi, berharap laki-laki itu menjawab panggilannya.
"Tenang, Nay. Tarik nafas dalam-dalam biar nggak takut." ocehnya pada diri sendiri.
"Hey!" seru seseorang tiba-tiba dari belakang punggungnya sontak membuat Kanaya terkejut bukan main.
"Pak Reino!" pekik Kanaya merasa senang dan lega hingga tanpa sadar membenamkan diri di dada bidang Reino.
"Kok bapak bisa ada di sini sih?"
Reino tersenyum. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dengan senang hati ia balas memeluk gadis itu dengan erat hingga membuat Kanaya akhirnya tersadar akan sikapnya barusan.
"Maaf pak." ujar Kanaya malu-malu sembari melepaskan diri dari pelukan Reino.
Reino mengacak rambut Kanaya dengan gemas.
"Ayo pulang. Aku dari tadi nungguin kamu pulang di sini."
"Oh ya? Jadi bapak udah dari tadi?" bola mata bening Kanaya membulat menampakkan ekspresi terkejutnya.
Kenapa kamu begitu menggemaskan, Nay. Rasanya aku tak ingin melepaskan pelukanku.
__ADS_1
"Pak...kok malah ngelamun?"
"Udah nggak usah dipikirin. Ayo pulang."
Reino menggenggam tangan Kanaya lalu membawanya ke tempat parkir mobil. Suasana restoran semakin sepi. Namun, tanpa disadari ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka berdua sejak tadi. Ya, Bisma mengamati keduanya dari jendela restoran. Tampak rasa tidak suka di wajahnya.
Sementara itu, di dalam mobil, Kanaya merasa kelelahan hingga tertidur. Reino menarik tuas kursi agar Kanaya bisa tidur dengan lebih nyaman. Sesekali dipandanginya wajah pulas Kanaya sembari menyetir. Ada desiran halus yang ia rasakan di dalam hatinya.
"Aku mencintaimu, Nay."
...****...
"Nay....bangun. Udah sampai." ujar Reino perlahan agar tidak mengejutkan Kanaya.
"Hmm..iya, pak. Terima kasih."
Kanaya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya yang masih terasa berat. Hari ini begitu melelahkan baginya.
"Nay, mulai besok, kalau kamu pulang malam biar aku yang jemput. Tadi aku khawatir sekali."
Kanaya memandang wajah Reino, berusaha menyelami niat baik laki-laki itu.
"Iya, pak. Terima kasih. Saya masuk dulu ya?" pamitnya pada Reino.
"Tunggu, satu lagi. Kalau kita cuma berdua, panggil Reino aja ya. Kok nggak enak dengernya dipanggil pak terus."
Kanaya tersenyum mengangguk.
"Baik, pak. Eh maksud saya Reino. Duh saya nggak terbiasa panggil nama, pak. Nggak sopan rasanya." protes Kanaya tak enak hati karena bagaimanapun Reino adalah atasannya.
"Kalo gitu panggil mas aja ya?" saran Reino seraya mengulum senyum.
"Iya, mas."
"Nah, gitu dong. Enak banget dengernya."
Reino mengikuti Kanaya sampai depan pintu pagar.
"Sampai besok sayang."
Cup! Sebuah kecupan lembut mendadak nyasar ke puncak kepala Kanaya, membuat gadis itu seketika salah tingkah.
"Mas Reino..."
"Malammm..aku pulang dulu ya."
__ADS_1
Lagi-lagi Reino mengacak rambut Kanaya lalu segera meninggalkan tempat kost Kanaya dengan perasaan bahagia.