Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 59 UNDANGAN MAKAN MALAM


__ADS_3

Pagi itu, Reino berdiskusi dengan Bastian, karyawan bagian perencanaan sekaligus orang kepercayaan Reino di perusahaan. Ayah Bastian dulunya bekerja pada ayah Reino selama beliau menjabat menjadi presiden direktur.


Reino dan Bastian sedang membahas usulan perubahan design yang dibawa Nina kemarin.


"Menurutku, lebih baik kita pakai design sebelumnya aja, Rei. Semua detil telah aku hitung dengan teliti. Sedangkan perubahan yang mereka ajukan itu terlalu beresiko mengingat kondisi perekonomian sekarang ini yang sedang kurang baik." ujar Bastian memberi saran.


"Aku pikir juga begitu, Bas. Makanya kemarin aku belum memberi keputusan. Aku ingin meminta pendapatmu dulu."


Reino meraih gagang telepon di atas meja.


"May, tolong ke ruanganku."


Tak lama sekretarisnya itu datang membawa notes untuk mencatat.


"Tolong kau atur pertemuan dengan Nina siang nanti. Oh, ya Bas, kamu juga ikut. Sekalian aku kenalkan kamu pada Nina."


"Siap, bos."


"May, kamu juga ikut."


"Baik, pak."


Bastian dan Maya pamit kembali ke ruangannya setelah diskusi mereka selesai. Sementara Reino mulai disibukkan dengan laptopnya. Banyak email masuk yang harus diperiksanya satu-persatu. Di tengah kesibukannya, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari sang ibu.


"Halo, ma."


"Reino, apa kamu ada waktu nanti malam? Mama mau ajak kamu makan di luar." suara sang ibu terdengar bersemangat.


Tumben sekali mama ngajak makan malam diluar?


"Baiklah, ma. Memang mama mau makan malam di mana biar aku jemput."


"Di kafe tante Marta. Jangan lupa Rei jemput mama jam 7 ya?"


"Oke, ma. Sampai nanti."


"Bye, sayang."


Reino meletakkan kembali ponsel itu di atas meja lalu melanjutkan pekerjaannya. Beberapa dokumen menunggu untuk segera ditandatangani. Ia membaca dengan teliti setiap berkas yang masuk ke mejanya. Ini adalah bentuk dari sikap kehati-hatiannya.


"Permisi, pak. Ada tamu menunggu di bawah. Apa bapak mau menerimanya?" ujar Maya memberitahu.


"Siapa?"


"Pak Gunawan dari Hiro Company."


"Suruh dia masuk."


*A*pa yang sedang kamu lakukan, sayang? Maaf aku hari ini sibuk sekali, tidak bisa menemuimu di kantor, batin Reino.


Sambil menunggu tamu itu datang, Reino mencoba mengganggu Kanaya dengan meneleponnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, mas." terdengar suara di seberang sana menyapanya dengan lembut.


Kenapa suaramu terdengar begitu seksi di telepon, sayang?


Pikiran Reino mulai berkelana membayangkan sang istri sedang berada di hadapannya kini, sedang tersenyum manja menggodanya.


"Halo, mas?? Mas lagi ngelamun ya?" tegur Kanaya membuyarkan lamunan liar suaminya.


"Hmm...nggak kok sayang. Cuma lagi mikir sedikit."


Kanaya yang sedang mengepel lantai, membetulkan posisi headset di telinganya.


"Mas, lagi mikirin apa sih?" tanya Kanaya sedikit cemas.


"Lagi mikir gimana caranya bisa berduaan sama kamu sekarang. Hahaha." goda Reino senang.


Kanaya mencibir. Ternyata dugaannya salah. Ia sempat mengira jika Reino sedang menghadapi masalah di kantor.


"Ck..mas ini bercanda aja! Kirain ada apa." sungut Kanaya kesal. Ia melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai.


"Sayang, nanti malam mama ngajak makan di luar. Kamu ikut ya, sekalian aku mau jelasin semua ke mama tentang pernikahan kita."


"Jangan dulu, mas. Aku belum siap. Beri aku waktu sedikit lagi ya?" pinta Kanaya dengan nada memohon.


Reino menarik nafas panjang.


"Tapi sampai kapan, sayang? Apa kamu tidak ingin orang-orang tahu bahwa kamu ini istriku?"


Reino memijit keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Ia tidak ingin berdebat dengan Kanaya soal ini lagi. Ia memilih mengalah lagi.


"Baiklah, sayang. Aku akan memberimu waktu lagi. Tapi aku tidak ingin berlama-lama menyimpan rahasia ini. Kau mengerti?"


Kanaya tersenyum lega. Ia memang merasa sangat egois dengan sikapnya, tetapi jujur ia belum punya keberanian untuk bertemu dengan keluarga suaminya sebagai seorang menantu.


\*\*\*


"Mas, nggak ganti baju dulu?" saran Kanaya begitu dirinya turun dari mobil.


Reino melihat arlojinya.


"Udah hampir telat, sayang. Aku takut mama nunggu lama. Kamu nggak apa-apa naik sendiri? Apa perlu aku temenin masuk dulu?"


"Ck..mas pikir aku ini anak kecil. Udah sana berangkat."


Reino meminta istrinya mendekat ke jendela mobil.


Cup! Satu ciuman kilat mendarat di bibir Kanaya, membuatnya malu seketika.


"Issh...mas ini nggak tau tempat." protesnya sembari menyentuh bibirnya.


"Nanti kita lanjut di kamar." ujar Reino sambil tersenyum genit lalu mengemudikan mobilnya keluar dari halaman apartemen menuju rumah sang ibu untuk menjemputnya.

__ADS_1


Selang beberapa saat, di sebuah kafe di pusat kota Jakarta.


Reino berjalan di samping sang ibu, masuk ke sebuah kafe yang nampak sedikit lengang malam ini.


"Marta!" panggil sang ibu pada seorang wanita paruh baya yang sedang berkutat di meja kasir.


"Oh Hai, Andini. Kemarilah." wanita itu melambaikan tangan.


Reino dan ibunya masuk kemudian mengambil tempat duduk sesuai yang ditunjuk Marta.


"Apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya?" tanya Marta seraya bercipika-cipiki dengan ibunda Reino.


"Kenalkan ini putraku, Reino, yang kemarin aku ceritakan di telepon." terang ibu Reino.


Marta mengamati Reino dari ujung kaki hingga kepalanya dengan tatapan tak percaya.


"Are you kidding, Andini? Apa kamu yakin dengan kata-katamu kemarin?"


Putramu ini sangat tampan, mana mungkin tidak ada perempuan yang jatuh cinta padanya??


"Maka dari itu, Marta, aku meminta bantuanmu." bisik Andini saat menyuruh Marta mendekatkan telinganya.


"Halo, tante. Senang bertemu denganmu." sapa Reino sopan.


Apa yang sedang kalian bicarakan?? Kenapa mama berbisik begitu??


"Halo, Reino. Tante juga senang bisa bertemu lagi denganmu. Rasanya baru kemarin melihatmu memakai seragam SMA. Coba lihat sekarang. Kau berubah jadi pria tampan, sayang."


"Ah, tante bisa saja."


"Tunggu sebentar lagi, Andini. Keponakanku masih di perjalanan. Untung saja dia ada waktu. Kau tahu, dia itu sibuk sekali. Mumpung dia belum kembali ke Batam. Aku membujuknya untuk datang ke kafe."


Tunggu dulu, rasanya ada yang tidak beres di sini, bisik hati Reino menerka.


"Ma," panggil Reino pelan, "apa mama punya rencana tertentu dengan tante Marta?" lanjut Reino setengah berbisik.


Andini tersenyum.


"Kau tenang saja, nak. Ini hanya pertemuan kecil. Untuk selanjutnya semua terserah padamu." ucap Andini sumringah.


Sial. Rupanya mama mau menjodohkanku dengan keponakan tante Marta.


"Ma, maafkan aku. Ini semua tidak benar ma, aku sudah..."


"Oh, sayang kemarilah. Kami di sini." seru tante Marta saat seseorang muncul di pintu kafe.


Reino dan ibunya menoleh bersamaan ke arah pintu. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat siapa yang datang menghampiri meja mereka.


"Nina???!" seru Reino tak percaya dengan penglihatannya.


----------------------

__ADS_1


__ADS_2