Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 26 INTEROGASI


__ADS_3

"Bu, tadi Nay kirim uang. Bisa ibu pakai untuk pengobatan bapak. Sisanya Nay akan usahakan bu. Ibu jangan khawatir ya?"


"Iya nak, Alhamdulillah. Doa'akan operasi bapakmu besok lancar."


"Iya bu, mudah-mudahan bapak segera sembuh."


"Kalo gitu Nay tutup dulu telponnya ya bu. Nay harus kembali bekerja. Assalamualaikum."


Kanaya bisa sedikit bernafas lega mendengar kabar bahwa besok sang ayah akan segera dioperasi. Setidaknya masih ada waktu beberapa hari lagi untuk mencari sisa kekurangan biaya operasi sang ayah yang jumlahnya tidak sedikit itu.


Aku masih punya Allah SWT yang akan menolongku, ujar Kanaya menguatkan hati.


"Lagi mikirin apa, sayang?"


Tiba-tiba saja Reino muncul di hadapan Kanaya yang sedang bersiap melanjutkan pekerjaannya membersihkan ruangan karyawan di lantai 2.


"Pak Reino, jangan begitu nanti didengar orang nggak enak."


"Hahaha, biar aja. Lagian dari tadi aku cari kamu nggak ada. Dari mana tadi? Diajak makan siang nggak mau, aku kira ada kerjaan. Ternyata pergi."


Eh, jadi pak Reino nyariin aku tadi? Aku harus bilang apa ya?


"Mm..tadi saya..saya ada perlu sebentar."


"Perlu apa?" cecar Reino tak berhenti di situ. Ia sengaja bertanya untuk memastikan apakah Kanaya akan berkata jujur atau tidak padanya, karena sebenarnya Rita telah memberitahunya kemana Kanaya pergi siang tadi.


"Anu pak..tadi saya ke bank. Kartu ATM saya terblokir jadi harus saya urus."


Kenapa kamu berbohong padaku, Nay? Apa kamu masih belum bisa percaya padaku?


Reino menarik nafas panjang. Kali ini ia tidak melanjutkan interogasinya. Ia paham mengapa Kanaya menyimpan semua masalahnya sendiri. Itu karena ia tak mau merepotkan siapapun. Termasuk dirinya.


"Apa kamu sudah makan siang?"


"Mm..belum pak."


Reino menggelengkan kepalanya. Ini sudah hampir jam tiga sore.


"Ayo ke ruanganku." ajak Reino sedikit memaksa seraya menarik tangan gadis itu agar mengikutinya.


"May, tolong suruh Rita antar makanan ke ruanganku." pinta Reino saat mereka melewati ruang sekretris.


Maya mengangguk sopan. Kanaya menyapa perempuan itu dengan senyuman canggung karena jelas Maya melihat Reino berjalan sambil menggenggam tangannya.


"Untuk dua orang pak?" tanya Maya untuk memastikan.


"Iya."


"Baik, pak."


Maya tersenyum melihat keduanya hingga mereka masuk ke dalam ruangan Reino.

__ADS_1


Ada hubungan apa ya antara mereka berdua? Harus cari tahu nih. 😁


Tak berapa lama Maya datang mengetuk pintu ruangan direktur utama sedangkan Rita di belakangnya berdiri dengan membawa sebuah nampan berisi makanan.


"Maaf, pak, ini makanannya ditaruh di mana?" tanya Maya begitu Kanaya membukakan pintu.


"Taruh di meja saja."


Rita masuk ke dalam ruangan lalu meletakkan makanan itu di atas meja di dekat sofa. Sekilas ia melirik ke arah Kanaya, tersenyum menggoda sahabatnya itu.


"Kalau tidak ada lagi yang bapak perlukan, saya permisi dulu." pamit Maya dijawab anggukan ringan oleh Reino.


Rita dan Maya keluar dari ruangan Reino dengan pandangan menggoda Kanaya.


Aduh, Rita! Semoga kamu bisa jaga rahasia, batin Kanaya resah. Ia takut sahabatnya itu keceplosan menceritakan semuanya pada Maya, sekretaris Reino.


"Ayo, makan." sentuhan tangan Reino di pundak Kanaya membuyarkan lamunan gadis itu.


Kanaya berjalan mengikuti Reino. Mereka berdua duduk di sofa dan mulai menyantap hidangan yang dibawa Rita tadi.


"Ini buat saya ya, pak?" tanya Kanaya saat melihat laki-laki itu sama sekali tak menyentuh sambel terasi di atas meja.


"Makanlah. Aku nggak biasa makan pedas." jelas Reino jujur.


"Benarkah? Padahal sambel ini enak loh, pak. Bikin kita nafsu makan."


Dengan semangat 45 Kanaya menuang semua sambel itu ke atas piring lalu mulai melahapnya.


"Loh, pak Reino kok malah bengong. Nasinya nggak dimakan, pak?"


Reino baru menyadarinya. Sejak tadi ia hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya.


"Ayo, dimakan pak. Mubadzir loh kalo dibuang." nasehat Kanaya seraya bangkit merapikan piring dan sendok bekas makannya.


Reino menurut. Ia melahap makanannya dengan perasaan senang. Setidaknya untuk saat ini Kanaya sudah mulai mau diajak makan bersama tanpa ada penolakan seperti biasanya. Dengan begitu Reino mendapat kesempatan untuk mengobrol lebih banyak dengannya.


"Hmm..pak, kalo bapak sudah selesai makan, saya pamit dulu ya? Masih ada kerjaan di bawah."


"Besok aja, Nay. Ini udah sore. Kamu di sini aja sampai jam pulang."


Reino meletakkan piringnya di atas meja sementara Kanaya mengambilkan air minum untuk Reino.


"Terima kasih, sayang." ucap Reino tulus, membuat pipi Kanaya merona karena malu terus-terusan dipanggil 'sayang'.


Reino menyadari perubahan roman muka Kanaya yang bersemu merah. Hal itu semakin membuat laki-laki itu senang bukan kepalang.


Reino mendekati Kanaya lalu meraih kedua tangan gadis itu.


"Terima kasih, sayang, karena hari ini kamu udah mau makan siang di sini."


"Iya, pak, sana-sama."

__ADS_1


"Nay...jangan panggil saya 'pak'. Kita cuma berdua di sini. Nggak perlu bersikap formal."


"I..iya, mas. Maaf, aku masih belum terbiasa. Lagian ini kan masih dikantor mas. Nanti ada yang denger kan nggak enak."


Tok...tok...tok...


"Tuh kan, mas, baru aja dibahas. Coba kalo mbak Maya denger kan bisa heboh di kantor."


Reino hanya mengulas senyum. Dengan satu gerakan cepat ia berhasil mencium puncak kepala Kanaya sebelum dirinya bangkit dari sofa.


"Mas, Reino!"


"Hahaha."


Reino berjalan ke arah meja kerjanya lalu duduk di sana.


"Masuk, May."


"Maaf, pak, mengganggu. Ada tamu di bawah."


"Siapa?"


"Jessica."


Jessica? Mau apa lagi dia kemari?!


Reino menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kedatangan Jessica membuat moodnya seketika berantakan. Ia menoleh ke arah Kanaya yang sedang membereskan piring dari atas meja dan bersiap keluar dari ruangannya.


"Saya permisi dulu, pak." pamitnya pada Reino.


Reino mengangguk mengiyakan. Namun, belum sempat Kanaya membuka pintu, Jessica sudah muncul di hadapannya. Wanita itu masuk tanpa permisi melewati Kanaya dan Maya dengan tatapan angkuh.


"Hai, Rei." sapanya dengan senyuman manis merayu. Tanpa sungkan ia bermaksud memeluk Reino.


"Maaf, pak, kami permisi dulu." ujar Maya merasa jengah melihat tingkah tamu tak undang itu.


"Ayo, Nay." ajak Maya sambil menggamit lengan Kanaya agar segera keluar dari ruangan Reino.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan ruangan Reino.


"Dasar wanita tak tahu malu." omel Maya saat tiba di meja kerjanya.


"Kamu jangan khawatir, Nay. Pak Reino nggak bakalan jatuh cinta sama cewek model kayak Jessica. Dia tuh tipe laki-laki setia." lanjut Maya menjelaskan.


"Maksud mbak?"


"Eh..nggak apa-apa kok. Cuma mau bilang gitu aja, nggak ada maksud apa-apa, Nay. Hahaha."


Aduh, keceplosan. Bisa gawat nih si Rita nanti diomelin Kanaya.


"Dasar Rita." gumam Kanaya kesal karena sahabatnya itu pasti sudah bercerita tentang pak Reino pada Maya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2