
Tok...tok...tok....
Suara ketukan di pintu terdengar beberapa kali. Ibu Kanaya yang baru selesai sholat subuh pun segera bangkit untuk membukakan pintu.
Masih dengan memakai mukena, sang ibu membuka pintu.
"Assalamualaikum. Maaf menganggu." sapa Reino sopan.
Ibu Kanaya kebingungan karena tak mengenal siapa laki-laki yang datang di pagi buta itu.
"Wa'alaikumsalam. Anda siapa?"
"Saya Reino, bu."
Deg! Jantung ibu Kanaya serasa mau copot mendengar nama itu disebut.
"Ooh..ma..mari masuk." dengan terbata sang ibu mempersilahkan Reino masuk.
Reino masuk kemudian duduk di ruang tamu sementara ibu Kanaya masuk ke dalam untuk memanggil Kanaya yang sedang membuat teh di dapur.
"Nduk. Kanaya.." panggil sang ibu sambil teegopoh-gopoh.
"Ada apa, bu? Kok ibu kayak ketakutan gitu sih?"
Sang ibu berusaha mengatur nafas agar bisa berbicara dengan lebih jelas.
"Ada tamu, nduk. Di depan."
"Siapa bu?" tanya Kanaya semakin penasaran.
Siapa pagi-pagi begini bertamu?
Dengan langkah cepat Kanaya segera keluar menuju ruang tamu. Dan betapa terkejutnya gadis itu setelah melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Mas Reino?"
Reino berjalan menghampiri Kanaya kemudian segera memeluk gadis itu tanpa peduli jika sang ibu sedang memandang ke arahnya.
"Aku mengkhawatirkanmu, sayang." ujarnya tanpa sedikitpun melepas Kanaya.
Kanaya sejenak terbawa suasana. Dipeluknya laki-laki itu dengan erat demi menumpahkan kegundahan hatinya. Ia tak menyangka jika Reino ada di hadapannya kini.
"Maafkan aku, mas." isak Kanaya akhirnya tak terbendung lagi.
Reino mengerutkan kening tak mengerti.
__ADS_1
"Maaf untuk apa, sayang?"
Kanaya menoleh kepada sang ibu untuk meminta dukungan karena ia benar-benar tak mampu menjelaskan semuanya pada Reino.
"Duduklah, nak." pinta sang ibu pada Reino.
Reino menjangkau sofa diikuti Kanaya dan ibunya.
"Nak Reino maafkan ibu. Ini semua salah ibu."
"Kenapa kalian berdua minta maaf?"
Kanaya tertunduk, ia terisak pelan. Rasanya ia tak sanggup menatap wajah Reino.
"Nak, Reino, Kanaya baru saja dijodohkan."
"Apaaa?!!"
Reino berdiri lalu menghampiri Kanaya yang duduk di hadapannya. Laki-laki itu berlutut seraya menggenggam jemari Kanaya.
"Jelaskan padaku, sayang. Aku tak mengerti."
"Maafkan aku mas. Salahku tak pernah berterus terang pada ibu tentang hubungan kita."
"Nak, Reino, ayah Kanaya baru saja dioperasi jantung. Dan seluruh biayanya ditanggung oleh kawan baiknya, pak Dibyo. Saat Kanaya baru pulang dari Jakarta, pak Dibyo rupanya tertarik ingin menjodohkan putranya dengan Kanaya. Karena kami merasa berhutang budi, akhirnya kami pun menerima lamaran itu tanpa bertanya dulu pada Kanaya. Waktu itu ibu pikir dia tidak punya pacar jadi apa salahnya jika menerima lamaran itu." jelas sang ibu merasa tak enak hati.
"Aku tak peduli bu. Aku akan bicara dengan keluarga Dibyo. Cepat katakan di mana alamat rumah mereka!" cecar Reino terbawa emosi. Ia tak ingin kehilangan Kanaya.
"Jangan mas! Aku mohon jangan ke sana! Aku nggak mau sakit bapakku kambuh jika tahu masalah ini. Beliau sangat menghormati pakde Dibyo. Jangan hancurkan hubungan baik mereka mas." ucap Kanaya di sela isak tangisnya.
"Tapi keputusan sepihak ini sudah menghancurkan hubungan kita, Nay!"
Reino meraup wajahnya frustasi. Ia tidak menyangka hal ini bisa terjadi. Andai saja Kanaya mau menerima bantuan Reino dari awal tentu saja tak kan seperti ini akhirnya.
Ah sial...!!! rutuknya dalam hati.
"Ibu mohon kalian tenangkan diri dulu, sebentar lagi bapakmu pulang dari mushollah. Jangan sampai dia dengar kalian bertengkar."
Kanaya menghapus air matanya sebelum pamit untuk ke kamar mandi. Sementara Reino tetap duduk bersama ibu Kanaya di ruang tamu. Deru nafasnya naik turun menahan emosi.
"Assalamualaikum."
Pak Karno baru saja pulang dari surau untuk sholat subuh berjamaah. Langkahnya terhenti ketika melihat sang istri sedang berada di ruang tamu dengan seseorang yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
"Ada tamu, bu?"
__ADS_1
"Iya pak. Ini nak Reino baru datang dari Jakarta. Dia teman Kanaya."
Reino berdiri menghampiri ayah Kanaya lalu mencium punggung tangannya.
"Saya Reino, pak. Mohon maaf pagi-pagi begini saya datang berkunjung."
Pak Karno mengulas senyum lalu menyuruh Reino duduk bersamanya di sofa.
"Bu, ada tamu kok tidak disuguhi minum? Ibu ini piye toh, nak Reino ini pasti capek karena perjalanan jauh. Buatkan teh hangat bu."
Sang ibu bergegas ke dapur untuk membuat minuman. Di sana, ia menemukan Kanaya sedang melamun.
"Nduk, cepat buatkan teh. Bapakmu sudah pulang."
Kanaya mengangguk. Pikirannya benar-benar kacau sekarang. Kedatangan Reino menyusulnya ke kampung jelas tak pernah terbayangkan olehnya. Dengan mudahnya laki-laki itu bisa menemukannya.
"Semoga mas Reino tak menanyakan masalah ini sama bapak ya, bu. Nay takut bapak drop." ujar Kanaya sambil mengaduk minuman yang dibuatnya.
"Kita berdo'a saja nduk. Sekarang bawa ini ke depan."
Kanaya membawa dua cangkir teh hangat dan sepiring pisang goreng untuk sang ayah dan Reino di ruang tamu.
...***...
"Saya pamit dulu, pak, bu." pamit Reino siang itu pada orang tua Kanaya. Ia memutuskan untuk menenangkan pikiran dulu di hotel yang telah disiapkan anak buahnya.
Kanaya mengantar Reino sampai pintu pagar. Ia memilih berjalan di belakang Reino. Dipandanginya punggung tegap laki-laki itu. Jujur, ingin sekali rasanya ia memeluk Reino dan mengungkapkan semua yang ia rasakan. Meski sekarang ia terikat status dengan orang lain tetapi hatinya tetap milik Reino.
"Mas..." panggil Kanaya saat Reino hendak masuk ke dalam mobil.
Reino berhenti dan menoleh. Ditatapnya Kanaya dengan tatapan mata sendu. Ada kekecewaan yang tergambar jelas di wajahnya.
"Iya, Nay?"
"Maafkan aku ya, mas." ucapnya entah sudah berapa kali ia katakan pada Reino.
"Ini bukan perpisahan, Nay. Aku pasti akan kembali."
Reino masuk ke dalam mobil lalu segera meninggalkan kediaman Kanaya.
"Bram, cepat cari tahu semua hal tentang orang ini." perintah Reino memberikan sebuah nama dan alamat kepada orang kepercayaannya itu.
Tak akan aku biarkan kamu merebut kekasihku.
Rupanya dari perbincangan dengan ayah Kanaya, Reino mendapatkan alamat rumah Galih. Dalam hati ia bersumpah akan membuat perhitungan dengannya karena telah berani merebut Kanaya darinya.
__ADS_1
...----------------...