Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 90 PECEL SEMANGGI SPESIAL (2)


__ADS_3

"Sayang." panggil Reino pelan karena tidak ingin membuat Kanaya terkejut. Sang istri yang sedang terlelap itu pun terbangun. Ia mengerjapkan kedua matanya yang terasa berat.


"Mas, Reino? Kapan mas Reino pulang?" tanya Kanaya heran karena ia sama sekali tidak mendengar suaminya masuk.


Reino mencium pipi Kanaya lalu menuntunnya berdiri.


"Ayo ikut aku sebentar."


Kanaya berjalan sempoyongan karena masih mengantuk. Reino memeluk pundak sang istri untuk menjaga keseimbangannya.


Di ruang makan, Kanaya mendapati sepiring pecel semanggi yang sangat diinginkannya beberapa hari ini. Tanpa komando lagi Kanaya segera melesat meraih piring itu dan mencicipinya. Satu suapan meluncur cepat ke dalam mulutnya. Begitu seterusnya hingga piring itu kosong hanya dalam waktu kurang dari 5 menit.


Reino tersenyum puas setelah melihat sang istri mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Wah, mas Reino hebat deh bisa dapet pecel semangginya. Terima kasih suamiku, sayang." Kanaya menghambur ke pelukan Reino. Menghadiahinya dengan kecupan singkat di pipi suaminya tanpa menyadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua.


Mbok Nah senyum-senyum sendiri, merasa malu melihat adegan mesra dua orang di hadapannya itu.


"Sayang, kita kedatangan tamu loh." Reino menunjuk Mbok Nah yang sedang berdiri di dekat pintu dapur.


Spontan Kanaya menoleh ke arah yang ditunjuk sang suami.


"Siapa beliau, mas?" tanyanya penasaran.


Reino memberi isyarat agar Mbok Nah mendekat dan duduk bersamanya di meja makan.


"Dia Mbok Nah. Penjual pecel semanggi yang baru saja kamu makan, sayang. Beliau khusus datang ke sini untuk membuatkan pecel semanggi seperti yang kamu minta."


"Benarkah? Mas jangan bercanda deh. Aku cuma minta dibawain pecel semanggi, kan? Kenapa penjualnya mas bawa juga?" bisik Kanaya pelan.


Reino menyimpulkan senyum manis di wajahnya mendengar ocehan Kanaya yang lugas itu.


"Sayang, Mbok Nah ini memang penjual pecel semanggi di Surabaya. Aku membawa beliau kemari karena ada sesuatu yang harus beliau lakukan di sini."


Kanaya mengerjapkan mata berkali-kali. Otaknya sedang berpikir dan berusaha mencerna kata-kata Reino.


"Maaf, nak. Mungkin istrimu bingung." ucap Mbok Nah merasa tak enak hati.


"Sayang, aku mau membantu Mbok Nah mencari anaknya yang bekerja di Jakarta dan sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan."


"Ya Allah. Jadi anak Mbok Nah kecelakaan? Lantas bagaimana keadaannya mas?" tiba-tiba Kanaya merasa khawatir.


"Itulah yang sedang aku cari tau, sayang. Mungkin besok aku akan menyuruh seseorang untuk tugas itu."


Kanaya berdiri lalu menghampiri Mbok Nah yang nampak sedih.


"Mbok Nah jangan khawatir ya? Insyaallah kami akan membantu Mbok Nah. Sekarang sudah larut. Sebaiknya Mbok Nah istirahat dulu. Mari saya antar ke kamar tamu."

__ADS_1


"Terima kasih, nak. Mbok memang merasa sedikit pusing karena naik pesawat tadi. Mbok belum pernah pergi jauh, apalagi naik pesawat. Rasanya perut ini seperti diaduk." jelasnya lugu.


Kanaya tersenyum. Dibukanya pintu kamar tamu untuk Mbok Nah. Ia mengambil selimut tebal dari dalam lemari dan meletakannya di atas kasur.


"Mbok, istirahat di sini dulu ya? Besok kita bicara lagi. Kalau Mbok Nah butuh sesuatu bilang saja sama saya, jangan merasa sungkan. Kamar kami ada di sana."


Mbok Nah melihat ke sekeliling kamar. Ia merasa takjub melihat kemewahan yang ada di hadapannya itu. Semuanya terlihat seperti mimpi.


Kalian baik sekali, bisik hati Mbok Nah terharu.


"Terima kasih, nak." ucapnya sebelum Kanaya keluar dan menutup pintu kamar tamu perlahan.


......................


Pagi-pagi sekali, Mbok Nah sudah bangun. Selesai sholat subuh beliau keluar dari kamar menuju dapur. Ia melihat Kanaya sedang memasak sesuatu di sana.


"Loh, Mbok Nah kok sudah bangun?"


"Iya, nak. Sudah terbiasa bangun pagi. Kalau di rumah, pagi-pagi begini Mbok sudah pergi ke pasar."


"Wah, Mbok Nah mengingatkan saya sama ibu di kampung. Pagi-pagi sudah sibuk. Dari pasar langsung memasak untuk jualan nasi."


"Benarkah?" Mbok Nah sedikit tidak percaya mendengar cerita Kanaya. Masa iya orang sekaya itu ibunya berjualan nasi?


Melihat Mbok Nah yang terdiam, Kanaya tersenyum.


Kanaya meracik teh untuk Mbok Nah sembari melanjutkan ceritanya.


"Mbok tau tidak? Saya ini juga berasal dari kalangan biasa kok. Bisa dibilang 'rakyat jelata'. Di kampung, ibu saya berjualan nasi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan sampai sekarang pun masih tetap berjualan." terang Kanaya jujur.


"Terima kasih." balas Mbok Nah ketika Kanaya menyodorkan secangkir teh hangat untuknya. Ia menyesap sedikit teh itu untuk menghangatkan badan.


"Sebelum menikah dengan suami, saya juga perantau di Jakarta ini, Mbok. Saya bekerja sebagai cleaning service di kantor suami saya."


"Tapi takdir mempertemukan kalian dalam ikatan perkawinan." sela Mbok Nah yakin.


Senyum Kanaya mengembang.Bila dipikir-pikir lagi, semua hal yang terjadi di kehidupan Kanaya itu bagaikan mimpi. Bahkan sampai detik inipun Kanaya masih tak percaya.


"Kamu beruntung, nak. Suamimu begitu baik. Bahkan kepada Mbok yang baru saja dikenalnya."


"Mbok Nah benar. Mas Reino memang selalu bersikap baik kepada semua orang. Tidak perduli orang itu kaya atau tidak. Dia selalu menghormati siapa saja. Dia..."


Belum sempat Kanaya meneruskan pujiannya, Reino tetiba muncul di dapur. Ia berjalan menghampiri sang istri sembari mengancing lengan kemejanya.


"Pagi sayang." kecupan lembut mendarat di kening Kanaya tanpa rasa risih sedikitpun.


"Pagi Mbok Nah. Apa Mbok Nah bisa tidur nyenyak semalam?" sapa Reino ramah.

__ADS_1


Mbok Nah tersenyum. Ia mengangguk pelan.


"Mbok tidur pulas sekali. Kasurnya empuk." tawanya renyah mengudara.


"Oh ya mas, tadi mbak Maya telpon, titip pesan supaya mas Reino menghubungi pak Bram. Ada hal penting katanya. Memang hp mas Reino ga aktif ya?"


Reino mengeryitkan kening, mengingat-ingat di mana ia meletakkan benda itu. Semalam, ia pasti lupa menge-charge batreinya.


"Aku lupa, sayang. Bisa minta tolong carikan di kamar?" pinta Reino.


"Iya, mas, aku carikan. Tapi aku siapkan sarapan mas dulu ya?"


Mbok Nah meletakkan cangkir tehnya kemudian berinisiatif mengambil alih pekerjaan Kanaya.


"Biar Mbok yang siapkan." tawarnya dengan senang hati. Beliau sudah terbiasa beraktifitas di pagi hari. Menyiapkan hidangan untuk sarapan tentu saja pekerjaan yang mudah baginya.


"Terima kasih ya, Mbok. Saya ke kamar dulu." pamit Kanaya sebelum meninggalkan dapur.


"Apa nasinya cukup, nak?" tanya Mbok Nah saat menunjukkan piring yang di pegangnya dibalas anggukan kepala Reino.


Mbok Nah menyendok beberapa potong daging lalu menatanya di piring. Pagi ini Kanaya memasak rendang kesukaan sang suami.


"Ini mas hp nya." Kanaya mengangsurkan benda pipih itu kepada sang suami.


"Terima kasih, sayang."


"Mbok Nah ayo duduk juga. Kita makan sama-sama." ajak Kanaya. Mbok Nah menggeleng.


"Tidak usah, nak. Biar Mbok Nah makan di dapur saja." tolaknya halus.


"Mbok Nah makan di sini saja, bareng kita Mbok. Ayo." Kanaya membimbing Mbok Nah agar duduk di sampingnya sementara Reino terlihat berkutat dengan ponsel di tangannya.


"Batreinya habis, sayang. Aku pakai telpon rumah aja, sayang."


Dengan cekatan Kanaya meraih telpon rumah yang terletak tak jauh dari meja makan.


"Ini, mas."


Reino menelepon Maya, sekretarisnya.


"Halo, May, tolong kau hubungi Bram. Suruh datang ke kantor jam 9. Ok?" pinta Reino pada sekretarisnya itu.


Reino akan meminta Bram untuk mencari keberadaan putra Mbok Nah dengan berbekal alamat yang diberikan Mbok Nah kemarin malam padanya.


Mbok Nah menatap Reino dan Kanaya secara bergantian. Dalam hati, perempuan tua itu merasa tak percaya bahwa di dunia ini masih ada orang sebaik mereka. Tanpa ragu sedikitpun Reino bersedia menolongnya mencari sang anak yang sekarang ini masih belum diketahui di mana rimbanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2