
Sejak siang tadi, kota Batam diguyur hujan lebat. Setelah rapat usai, Reino memilih duduk di cafe hotel sambil menikmati secangkir kopi. Tak lama kemudian Nina datang menyusulnya.
"Oh ya, Rei, apa kau ingat Daniel? Teman kita di kampus dulu?" tanya Nina membuka obrolan sore itu. Ia mencoba membuka memori masa lalu Reino, berharap laki-laki itu juga akan mengingat kenangan mereka berdua dulu.
"Daniel? Ah, ya aku ingat. Dia yang suka jail di kelas kan?"
Nina mengangguk kemudian dengan gerakan yang anggun dia menyesap sedikit kopi miliknya.
"Dia menghubungiku kemarin. Rupanya sudah setahun ini dia tinggal di Indonesia. Dia menikah dengan orang Padang."
"Benarkah? Sudah lama aku tidak berjumpa dengannya."
Nina membetulkan posisi duduknya lalu menyilangkan kaki dengan sengaja. Melihat hal itu, Reino lantas memalingkan wajah ke arah lain. Ia tahu Nina jelas-jelas sedang menggodanya.
"Maaf, Nin, aku mau kembali ke kamar." ujar Reino seraya bangkit dari tempat duduknya.
Nina meraih pergelangan tangan Reino dengan cepat.
"Tunggu, Rei. Kenapa harus buru-buru? Ini masih sore. Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar sebentar?" ajak Nina berusaha mencegah Reino pergi.
"Maaf, Nin, aku tidak bisa. Mungkin lain kali."
Reino berlalu meninggalkan Nina sendirian di cafe dan kembali ke kamarnya. Ia ingin segera menelepon sang istri karena sejak pagi ia belum sempat menghubunginya lagi.
Di kamar hotel...
Memanggil Kanaya...
"Assalamualaikum, mas." jawab Kanaya dengan suara yang terdengar sedikit serak.
"Wa'alaikumsalam. Sayang kenapa suaramu serak begitu? Kamu sakit?"
Kanaya menguap pelan sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan.
"Nggak mas. Aku nggak sakit. Cuma baru bangun tidur aja."
Tidur? Tidak biasanya Kanaya tidur sore-sore begini, batin Reino.
__ADS_1
"Apa hari ini nggak jadi pergi sama mama, sayang?"
"Jadi, mas. Tadi aku pergi sama mama dan kak Wanda lihat-lihat gedung untuk resepsi. Tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba kepalaku pusing. Akhirnya mama mengantarku pulang, mas. Aku langsung tidur tadi, baru bangun pas mas Reino telepon."
"Kenapa nggak telepon dokter, sayang? Aku khawatir kamu sakit."
"Aku nggak apa-apa, mas. Cuma pusing aja. Habis tidur rasanya sudah mendingan kok mas. Nggak pusing lagi. Mungkin karena tadi pagi nggak sempat sarapan jadi pusing kepalaku." jelas Kanaya bersikukuh.
"Ya, sudah. Nanti kalau ada apa-apa kamu bilang ya? Aku akan menyuruh dokter keluarga untuk memeriksamu di rumah." ujar Reino merasa sedikit cemas karena tidak bisa menemani Kanaya di rumah.
"Siap, bos. Hehehe. Oh, ya mas, bagaimana meeting mas Reino? Apa sudah selesai?"
"Belum, sayang. Besok masih ada pertemuan lagi. Dan lusa aku harus meninjau lokasi proyek."
"Berarti masih lama dong mas Reino pulang?" tanya Kanaya dengan nada kecewa.
Reino tersenyum. Ia memahami perasaan sang istri. Selama ini, ia tidak pernah meninggalkan Kanaya sendirian dalam waktu yang lama.
"Kenapa, sayang? Kangen ya?" goda Reino senang. Ia ingin sekali mendengar Kanaya mengatakan rindu padanya.
"Ih mas Reino PeDe amat. Siapa juga yang kangen."
Mendengar hal itu Kanaya sontak bangun dari tidurnya lalu duduk karena tiba-tiba saja nama Nina muncul di benaknya.
"Mas Reino jangan macam-macam loh ya? Jangan dekat-dekat sama perempuan ganjen itu!" seru Kanaya mulai sewot. Emosinya sedikit terpancing.
Perempuan siapa? Nina?
"Loh, kok marah sih sayang? Kan cuma bercanda?"
"Aku nggak marah! Aku cuma mau ngingetin mas Reino aja. Nina itu kan suka sama mas." cerocos Kanaya berapi-api.
Jangan-jangan dia sedang cemburu. Hehe.
"Sayang, jangan berpikiran macam-macam. Mana mungkin aku berpaling dari istriku yang cantik ini." ujar Reino merayu agar Kanaya tak marah lagi padanya.
"Gombal."
__ADS_1
"Beneran, sayang. Suer. Sudah nggak usah ngomongin Nina. Oh ya, sayang, bagaimana persiapan pesta pernikahan kita? Apa semua lancar?"
"Alhamdulillah mas lancar. Kata mama, semua detil keperluannya mama yang handle."
Reino tertawa renyah. Ia mengetahui dengan pasti jika sang ibu memiliki tenaga ekstra untuk urusan seperti ini. Meski sudah memakai jasa Wedding Organizer, beliau tetap akan memantau sampai ke hal-hal yang kecil sekalipun.
"Jangan menentang keinginan mama, sayang. Untuk masalah ini aku harap kamu bersedia menuruti kemauannya." pinta Reino.
"Iya, mas, aku mengerti. Kak Wanda juga bilang gitu. Eh mas sebentar ya, aku mau ke kamar mandi."
"Kenapa sayang?" tanya Reino heran namun tak ada jawaban karena Kanaya buru-buru meninggalkan ponselnya di atas tempat tidur.
"Hoeeekkk...."
Samar-samar Reino mendengar suara istrinya itu seperti sedang memuntahkan sesuatu.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Kanaya kembali.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Reino cemas.
"Nggak tahu, mas. Perutku tiba-tiba mual kayak diaduk-aduk. Mungkin masuk angin."
"Kamu istirahat aja sekarang. Aku akan menghubungi dokter."
"Nggak usah, mas. Sepertinya aku punya obat untuk masuk angin di lemari. Sebentar lagi aku mau makan terus minum obat. Mas Reino tenang aja, oke?"
Reino menghela nafas. Ia benar-benar mencemaskan keadaan Kanaya di rumah.
"Baiklah, sayang. Sekarang tutup dulu teleponnya. Cepatlah makan lalu minum obatnya." ucap Reino bersungguh-sungguh. Ia tidak ingin Kanaya mengabaikan kesehatannya.
"Iya, mas. Aku tutup dulu ya? Assalamualaikum."
Reino menghubungi Andini dan memintanya untuk melihat keadaan Kanaya di rumah. Pikirannya sedang tidak tenang karena berada jauh dari sang istri.
"Terima kasih, ma. Kabari Reino jika ada apa-apa."
"Kamu jangan khawatir, sayang. Mama akan menjaganya dengan sangat baik." janji Andini pada Reino.
__ADS_1
Baik-baiklah di rumah, Nay. Aku akan segera kembali, ucap Reino dalam hati.
...----------------...