Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 25 SEMAKIN MEMBURUK


__ADS_3

Kanaya meraba meja di samping tempat tidurnya saat mendengar hp nya berdering.


Ibu Memanggil...


"Assalamualaikum, bu...." sapa Kanaya masih dengan suara berat karena baru bangun tidur.


"Nak, bapakmu...kondisinya memburuk.." suara isak tangis ibu Kanaya terdengar jelas di telinganya.


"Ibu tenang dulu. Apa kata dokter bu?" ujar Kanaya berusaha agar tetap tenang meski jujur dalam hati ia khawatir akan kondisi sang ayah.


"Ayahmu harus segera dioperasi nak karena keadaannya semakin parah. Ini satu-satunya kesempatan kita."


Operasi? Ya Allah berilah hambamu jalan keluar, ucap Kanaya dalam hati.


Air mata perlahan mengalir di pelupuk mata Kanaya namun ia berusaha agar tetap tegar. Ia tidak ingin ibunya merasa semakin khawatir.


"Ibu..dengarkan Nay. Lakukan operasi itu secepatnya bu. Biar Nay usahakan biayanya. Ibu jangan khawatir ya? Insyaallah nanti Allah akan menolong kita bu." ujar Kanaya memberi semangat pada ibunya.


Percakapan mereka berduapun berakhir dengan saling menguatkan hati. Kanaya segera bangun dari tempat tidur dan mengambil air wudhu. Ia bermaksud untuk menceritakan kegundahan hatinya pada Sang Pencipta lewat sholat tahajud. Ia ingin meminta yang terbaik untuk ayahnya.


Tiada sebaik-baiknya penolong selain Allah SWT.


...***...


"Nay, aku minta maaf sebelumnya. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu." ucap Rita pagi ini saat mereka berdua hendak berangkat kerja.


"Ada apa, Rit?" tanya Kanaya heran.


Rita mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah dompet kecil berwarna putih ia berikan pada Kanaya.


"Apa ini, Rit?"


"Ini perhiasan simpananku, Nay. Aku ingin meminjamkannya padamu, untuk tambahan biaya pengobatan ayahmu. Aku tahu ini mungkin tak seberapa nilainya, tapi semoga bermanfaat Nay."


Air mata Kanaya jatuh perlahan. Ia tidak menyangka Rita akan melakukan hal itu. Rupanya Rita tidak sengaja mendengar pembicaraan Kanaya dan ibunya tadi malam tentang kondisi sang ayah.


"Tapi aku nggak tahu kapan bisa mengembalikannya, Rit. Apalagi dalam waktu dekat ini."


"Jangan dipikirin sekarang, Nay. Yang penting cepat kirimkan uang untuk ibumu. Beliau pasti sedang bingung."

__ADS_1


"Terima kasih, Rit. Tolong do'akan ayahku juga ya?" ujar Kanaya seraya memeluk sahabatnya itu. Dalam kondisi seperti saat ini, Kanaya benar-benar membutuhkan sandaran. Beruntung ia memiliki sahabat seperti Rita dalam hidupnya.


"Tentu, Nay. Beliau pasti akan sembuh. Yakinlah." kata Rita memberi semangat.


Setelah berpamitan pada ibu kost, keduanya berangkat kerja bersama. Kebetulan Kanaya dan Rita mendapat shift pagi. Namun, langkah mereka terhenti tepat di pengkolan dekat jalan raya, tempat mereka berdua biasa menunggu bus.


Sebuah mobil mewah berwarna silver berhenti tepat di depan mereka. Kanaya dan Rita saling pandang.


"Ayo cepat masuk." pinta sebuah suara dari dalam mobil. Suara yang terdengar tak asing di telinga keduanya.


"Pak Reino??" seru mereka hampir bersamaan.


Reino keluar dari dalam mobil. Pagi ini laki-laki itu terlihat sudah rapi dan wangi. Setelan jas berwarna abu-abu tua membungkus tubuh tegap Reino dengan sempurna. Seperti biasa, Rita tak berkedip memandang ketampanan bosnya itu.


"Ayo masuk, kita berangkat sama-sama." ajak Reino sekali lagi.


"Nggak usah, pak. Kami naik bus aja." jawab Kanaya cepat, membuat kedua mata Rita melotot ke arahnya.


"Nay..! Gimana sih kamu ini, ada tumpangan gratis ditolak. Kan lumayan kita bisa ngirit, iya kan pak Reino?"


Reino berusaha menahan senyumnya melihat tingkah Rita. Sementara Kanaya masih berusaha menolak ajakan Reino.


"Ayo, sayang cepat masuk." bisik Reino di telinga Kanaya.


"Pak Reino!"


"Hahaha. Udah jangan manyun gitu. Ayo berangkat keburu siang."


Akhirnya mau tak mau Kanaya masuk juga ke dalam mobil. Ia duduk bersama Reino di kursi belakang sementara Rita duduk di depan. Suasana di dalam mobil lebih meriah saat ada Rita karena sejak mobil mulai melaju, gadis itu tak berhenti berceloteh ini itu. Untung saja sopir Reino orangnya sopan dan ramah, tak merasa keberatan sedikitpun menjawab setiap pertanyaan Rita.


"Tiap pagi aku jemput ya?" tanya Reino meminta persetujuan Kanaya.


"Nggak usah, pak. Ngerepotin bapak."


"Kamu ini gimana sih, Nay. Kan enak di antar jemput sama yayang bebeb..."


"Ritaaa! Kamu kalo ngomong nggak ada remnya ya!!" satu cubitan melayang ke lengan Rita.


"Aww..sakit, Nay. Apa kata-kataku ada yang salah?? Kan bener pak Reino itu..."

__ADS_1


"Ritaaaa! Bisa diem nggak sih nih mulut?!" dengan kesal Kanaya membekap mulut Kanaya dari belakang.


"Udah jangan berantem. Ayo turun, udah sampai kantor."


Kedua gadis itu celingukan. Ternyata benar mereka sudah berada di parkiran kantor RR group.


"Perasaan baru berangkat ya, Nay? Kok udah nyampe aja sih. Ternyata kalo pake mobil bagus begini nggak berasa yaa, hihihi." oceh Rita saat turun dari mobil.


Kanaya merasa kikuk. Beberapa karyawan kantor yang kebetulan ada di sana memandang heran ke arahnya karena mereka hapal betul siapa pemilik mobil mewah itu.


"Pak, terima kasih atas tumpangannya. Kami masuk dulu." pamit Kanaya saat Reino juga turun dari mobil.


"Oke. Nanti makan siang bareng ya?"


Kanaya terlihat berpikir sejenak. Saat istirahat siang nanti ia sudah berencana akan pergi ke toko emas untuk menjual perhiasan Rita dan segera mengirimkan uangnya pada sang ibu.


"Maaf, pak, nanti saya tidak bisa. Mungkin lain kali ya?" tolaknya merasa tidak enak karena ini kedua kalinya Kanaya menolak ajakan Reino untuk makan siang.


"Oke. Mungkin next time. Udah cepat sana masuk."


Kanaya dan Rita segera berhamburan ke tempat kerja masing-masing sementara Reino berjalan menuju lobi utama RR grup.


"Pagi, pak Dadang." sapa Reino ramah saat melewati pintu lobi. Sekuriti senior itu nampak heran melihat si bos datang pagi-pagi sekali.


"Pagi, pak Reino. Mari saya bawakan tasnya."


"Ah, nggak usah pak Dadang. Biar saya bawa sendiri."


Reino langsung masuk ke dalam lift khusus, menuju ruangannya di atas.


"Aihh tumben si bos pagi sekali datangnya." ujar pak Dadang pada dirinya sendiri.


"Pagi, pak." sapa Kanaya ramah begitu bertemu pak Dadang di lobi. Pagi ini ia bertugas membersihkan area lobi utama.


"Pagi juga, neng. Sok atuh dilanjut kerjanya, saya ke depan dulu neng."


"Siaaap."


Kanaya memulai pekerjaannya menyapu dan membersihkan jendela dengan penuh semangat agar semua dapat terselesaikan sebelum jam makan siang nanti. Ia ingin segera mengirimkan uang untuk ibunya

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2