
"Mas Reino?? Kok mas udah pulang? Ini baru jam 11?" tanya Kanaya begitu melihat suaminya datang.
"Mana mama?" Reino balik bertanya, mengabaikan pertanyaan istrinya itu. Ia ingin segera bicara kepada sang ibu.
"Udah pulang, mas. Baru aja."
"Pulang?"
"Iya, mas. Tadi ada telpon dari mamanya Sesil, lalu ibu pamit pulang."
Reino meraih ponsel dari saku jasnya, bermaksud untuk menelepon ibunya.
"Eh, mas mau telpon siapa?"
"Mama, sayang. Aku akan beritahu mama soal kita."
Kanaya menghentikan Reino, mengambil ponsel dari tangan suaminya.
"Jangan beritahu ibu, mas. Jangan sekarang. Aku belum siap." pinta Kanaya merajuk dengan tatapan memohon.
"Tapi, sayang, mau sampai kapan? Apa ada yang salah dengan pernikahan kita?"
Kanaya diam menunduk. Ia tidak tahu harus berkata apa. Air mata berebut turun di sudut matanya.
Memang tidak ada yang salah mas, tapi aku merasa belum siap menghadapi keluargamu, apa yang akan mereka pikirkan bila tahu putra mereka menikah dengan gadis kampung sepertiku?
Melihat reaksi Kanaya, hati Reino melunak. Ia tidak ingin melihat istrinya bersedih. Diangkatnya dagu sang istri agar ia bisa menghapus air matanya.
"Baiklah, sayang. Aku nggak akan bilang ke mama sekarang. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk bicara sama mama."
"Terima kasih, mas." Kanaya memeluk Reino, berusaha menumpahkan kegundahan hati yang sedang ia rasakan.
Reino membalas pelukan itu lebih erat seakan tak ingin kehilangan istrinya. Di kecupnya puncak kepala Kanaya lalu diangkatnya tubuh istrinya itu ke dalam kamar.
"Maaas! Turunin. Mau ngapain, sih?!" protes Kanaya.
"Aku ada urusan pribadi dengan Ny. Reino jika dia sedang tidak sibuk." ujar Reino sambil tersenyum genit.
Kanaya paham apa arti senyuman nakal suaminya itu. Ia membiarkan Reino mendapatkan apa yang diinginkannya meski sebenarnya ia masih merasakan pegal di seluruh badannya.
...***...
Usai melakukan adegan percintaan yang panas di tengah hari, keduanya segera membersihkan diri. Kanaya menagih janji suaminya untuk pergi berbelanja keperluan dapur. Reino memilih berbelanja di sebuah supermarket di dekat apartemen karena ia tidak ingin membuang-buang waktu dengan berlama-lama di luar rumah. Ia ingin selalu berdua dengan istrinya itu di rumah saja. Maklumlah, pengantin baru. 🤗
Sesampainya di supermarket, Kanaya segera mengambil troli untuk membawa barang belanjaan. Ia sudah mencatat dengan rapi barang apa saja yang diperlukannya di rumah.
__ADS_1
"Mas, sukanya makan apa?" tanya Kanaya saat mereka sampai di tempat sayuran dan daging-dagingan.
"Makan kamu, sayang."
"Ck...bercanda terus. Aku serius mas."
Reino terkekeh. Di ambilnya troli itu dari tangan istrinya.
"Makan apa aja aku mau, sayang. Udah sana kamu yang pilih. Biar aku yang dorong ini."
Kanaya tersenyum senang. Ia mulai memilih bahan makanan yang tersedia dengan teliti. Dalam benaknya sudah tersusun rapi menu masakan yang ingin ia buat untuk menyenangkan hati sang suami.
Di tengah keasyikannya berbelanja, Kanaya dikejutkan oleh kemunculan seseorang yang ia kenal di depan mereka.
Jessica! Kenapa harus bertemu dia di sini?
Dengan sigap, Kanaya meraih troli dari tangan Reino sebelum Jessica melihatnya. Untung saja keadaan supermarket itu lumayan ramai. Ia segera berjalan mendahului Reino agar Jessica tidak menaruh curiga.
"Reino...!" panggil Jessica bersemangat, tak menyangka bisa bertemu dengan Reino di sana.
Menyadari kedatangan Jessica, Reino mendengus kesal. Ia menoleh ke sana kemari tapi sudah tidak melihat keberadaan istrinya.
Cepat sekali kau menghilang, sayang. Awas kau ya, kau telah berani meninggalkanku dengan nenek sihir ini!
"Kamu ngapain di sini?" tanya Jessica.
"Apa perlu aku temani, Rei?" tanya Jessica menawarkan diri saat melihat Reino berbelanja sendirian saja, jelas ia tak ingin membuang kesempatan.
"Nggak perlu, Jess. Aku lebih suka sendiri. Permisi."
Reino segera pergi meninggalkan Jessica dan mencari keberadaan istrinya. Tak dihiraukannya Jessica yang berteriak kesal memanggil namanya hingga membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahnya.
Sial! Kenapa harus ketemu dia sih! gerutu Reino kesal.
Reino berjalan menyusuri lorong demi lorong supermarket itu.
"Sayang!" panggil Reino begitu menemukan Kanaya sedang memilih-milih gelas di tempat berbagai macam perabot dapur di pajang.
Kanaya menoleh, ia hadiahkan senyuman paling manis agar Reino tak memarahinya karena tiba-tiba pergi meninggalkannya dengan wanita itu.
"Mas Reino. Mana Jessica? Udah pulang?"
"Ck. Kamu ini ya sengaja menghilang." protes Reino seraya mencubit hidung Kanaya dengan kesal.
"Jangan marah, mas. Aku nggak mau Jessica liat kita berdua." rajuk Kanaya manja.
__ADS_1
"Kalo gitu nanti aku akan menagih imbalan atas perbuatanmu ini." ancam Reino dengan seringai nakal.
Cih... pasti ujung-ujung begitu, omel Kanaya dalam hati.
"Modus!" oceh Kanaya bersungut-sungut.
Reino tertawa lepas melihat ekspresi marah istrinya itu. Rasa kesalnya karena bertemu dengan Jessica sudah menghilang entah kemana.
"Mas ayo kita ke kasir. Aku udah selesai belanjanya." ajak Kanaya melihat trolinya sudah terisi penuh.
Reino menurut saja. Di dorongnya troli itu hingga sampai di dekat kasir. Antrian siang itu lumayan ramai. Kanaya berdiri di belakang suaminya. Dan seperti biasa, pesona wajah sang suami mengundang decak kagum beberapa kaum hawa yang sedang mengantri di sekitar keduanya.
Reino tak bergeming. Ia tak menyadari jika dirinya sedang menjadi pusat perhatian.
"Mas," panggil Kanaya pelan dan sedikit berjinjit agar ia bisa menjangkau telinga suaminya, "Mas nggak merasa diperhatiin cewek-cewek itu?"
Reino spontan melihat sekitar dan berhasil menangkap basah beberapa remaja abg dan ibu-ibu sedang menatap genit ke arahnya. Reino menggosok tengkuknya lalu menoleh ke arah sang istri.
"Sayang, tolong aku. Mereka seperti akan menelanku hidup-hidup." ujarnya bergidik ngeri.
Kanaya hampir tak bisa menahan tawanya. Dengan segera ia maju selangkah dan berdiri di samping suaminya.
"Kamu gantengnya kelewatan sih, mas!"
Giliran Reino dilayani di meja kasir. Dengan segera ia memindahkan barang-barang yang ada di dalam trolinya ke meja kasir. Terlihat sang kasirpun ikut-ikutan terpikat pesona Reino. Kanaya menggigit bibir menahan senyum.
Kalian hanya beberapa menit melihatnya sudah terhipnotis dengan ketampanannya, bagaimana denganku yang setiap hari bersamanya? 😍
"Sudah kak, totalnya satu juta tujuh ratus ribu rupiah." ujar sang kasir sambil tersenyum menggoda.
Reino mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya lalu menyerahkannya pada si kasir untuk membayar belanjaan.
"Dek, boleh minta nomer hp kakaknya?" tanya si kasir setengah berbisik kepada Kanaya sementara Reino sedang memindahkan kantong-kantong belanjaan kembali ke dalam troli.
Jadi dia kira aku ini adiknya? Mungkin karena tinggi badanku ini ya, Hihihi.
"Boleh. Tapi dia itu galak loh, kak." jawab Kanaya asal.
"Ada apa, sayang? Apa ada yang lain?" tanya Reino saat melihat Kanaya belum beranjak dari meja kasir.
Sayang?? Jadi dia bukan kakaknya?? 😭
"Ah, nggak apa-apa, mas. Ayo."
Reino menggenggam jemari Kanaya dengan mesra saat meninggalkan meja kasir, membuat iri perempuan-perempuan yang sejak tadi berusaha menarik perhatiannya.
__ADS_1
💔💔💔💔
...----------------...