Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 75 ADA APA DENGANMU?


__ADS_3

"Sayang, apa kau di dalam?" panggil Reino mengejutkan Kanaya yang sedang melamun di dalam kamar mandi.


Kanaya bangkit lalu menghapus air mata di kedua pipinya. Ia tidak ingin Reino melihatnya menangis.


"Sebentar mas."


Usai mencuci muka, Kanaya keluar dari kamar mandi tanpa berucap apapun. Reino memperhatikan sikap sang istri yang tiba-tiba saja berubah dingin padanya.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?"


"Aku nggak apa-apa, mas. Aku ke dapur dulu ya." jawab Kanaya singkat tanpa menoleh padanya.


Ada apa denganmu, Nay? Kenapa tiba-tiba kau murung?


Reino bergegas menyusul Kanaya ke dapur untuk mencari jawaban atas pertanyaannya.


"Sayang, tunggu, aku ingin bicara." pinta Reino seraya menyentuh pundak Kanaya yang sedang menyeduh kopi untuk Reino.


"Kamu kenapa? Apa kamu sakit?"


"Aku nggak apa-apa, mas. Aku..."


"Reino, pagi-pagi begini kamu sudah bangun? Kenapa tidak istirahat di kamar?" sapa Andini tiba-tiba masuk ke dapur menyela pembicaraan keduanya.


"Kamu juga, Nay, seharusnya kamu jangan banyak beraktifitas. Kamu kan sedang...."


"Mama, apa mama mau minum teh juga? Nay buatkan ya?" potong Kanaya cepat. Ia tidak ingin ibu mertuanya itu membocorkan rahasia tentang kehamilannya pada Reino.


"Teh? Oh baiklah, mama juga mau minum teh. Tapi biar mama yang buat. Kamu istirahatlah. Rei, bawa istrimu ini kembali ke kamar. Nanti teh dan kopimu mama bawakan ke kamar kalian." ujar Andini sedikit memaksa.


Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? tanya Reino heran.


"Ayo, sayang, kita kembali ke kamar." ajak Reino hendak merangkul pundak Kanaya namun ditepisnya perlahan.


Kanaya berjalan mendahului Reino dan terpaksa kembali ke kamar. Sementara Reino yang sedang kebingungan dengan perubahan sikap sang istripun lebih memilih untuk bersabar.


Di dalam kamar, Kanaya masih enggan bicara. Foto Reino yang sedang menggendong Nina berkelebat dalam benaknya. Sebenarnya, ia ingin menanyakan hal itu secara langsung pada sang suami namun diurungkannya. Sejujurnya, dalam hati Kanaya merasa takut bila mengetahui ternyata foto itu asli bukan rekayasa. Betapa hancur hatinya nanti.


Ya, Allah, apa yang harus aku lakukan?

__ADS_1


Di tengah kegundahan hatinya, Kanaya menerima sebuah pesan lagi di ponselnya. Mengetahui siapa pengirim pesan itu, hati Kanaya semakin kalut.


Nina! Apa yang kau inginkan sebenarnya?


Kanaya


Apa maumu, Nin?


Nina


Nikmati saja sisa waktumu bersama Reino. Tak lama lagi dia akan jadi milikku.


Kanaya


Jangan harap kau bisa merebut suamiku!!


Nina


Kita lihat saja nanti dasar wanita kampung!! Kau tidak pantas bersanding dengan Reino.


Ya, Allah, kenapa dia begitu membenciku? Apa salahku padanya?


"Sayang, ini minuman kalian."


"Rei, sepertinya mama dan papa harus pulang ke rumah sekarang. Kakakmu dan suaminya akan bepergian ke luar negeri untuk beberapa hari. Sesilia tidak bisa ikut. Jadi mama akan menjaganya di rumah."


"Tentu, ma. Terima kasih mama dan papa sudah menemani Kanaya selama aku pergi."


"Tak masalah, sayang. Mama dan papa tidak keberatan sama sekali. Rei, kamu harus menjaga istrimu ini baik-baik. Jangan biarkan dia lelah atau banyak pikiran."


"Pasti, ma."


"Nay, jaga diri baik-baik ya? Coba lihat Rei, sepertinya wajah Kanaya pucat ya?" pesan Andini seraya menyentuh pipi sang menantu.


"Nay, nggak apa-apa ma. Jangan khawatir."


"Mama benar, sayang. Wajahmu pucat. Sebaiknya kita panggil dokter."


"Jangan, mas nggak usah. Aku baik-baik, saja."

__ADS_1


Sekali lagi Reino merasa heran dengan perubahan sikap Kanaya yang terkesan dingin padanya. Dalam hati ia bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan Kanaya.


...***...


Sepanjang siang hingga sore hari, Kanaya masih bertahan dalam diam. Hal ini membuat Reino mulai tak sabar. Berkali-kali ia berusaha mengajak sang istri untuk bicara tetapi Kanaya selalu menghindar.


"Sayang, aku mohon bicaralah. Ada apa sebenarnya? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Reino hampir putus asa menghadapi kebungkaman sang istri.


"Aku nggak apa-apa, mas. Bukankah sudah aku katakan berkali-kali tadi?"


"Lantas kenapa kau mendiamkan aku?"


"Aku hanya lelah. Itu saja, mas."


"Tapi, Nay.." kalimat Reino terhenti saat mendengar ponselnya berdering di atas nakas tepat di samping Kanaya.


Panggilan dari Nina. Ya, Allah, apa yang harus aku lakukan?


"Ada telepon, mas." ujar Kanaya seraya mengambil ponsel itu dan menyodorkannya pada Reino dengan nada ketus.


Begitu melihat nama Nina tertera di layar, Reino urung menjawabnya.


"Kenapa nggak dijawab, mas? Mungkin penting." pancing Kanaya ingin melihat reaksi sang suami.


Atau karena ada aku di sini jadi mas Reino tidak leluasa berbicara dengannya?


"Abaikan, saja. Aku sudah menyuruh Maya menghandle segala urusan proyek Batam."


Reino meletakkan ponsel itu kemudian memilih untuk menyendiri di ruang tamu. Ia bermaksud untuk menenangkan pikiran sejenak. Mendapat perlakuan dingin dari Kanaya seharian ini membuat pikiran Reino bimbang. Di satu sisi, ia ingin menceritakan tentang Nina, tetapi di sisi lain ia merasa waktunya belum pas. Ia yakin Kanaya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Jika ia menceritakan hal itu sekarang, ia takut Kanaya salah paham dan tak mempercayainya lagi.


"Mas, aku mau tidur. Kalau mas lapar, aku sudah menyiapkan makan malam di meja makan."


"Kamu nggak makan?"


"Aku nggak lapar, mas. Nanti saja aku makan."


Kanaya meninggalkan Reino sendiri di ruang tamu lalu kembali ke kamar untuk beristirahat. Rasa lelah dan penat seringkali ia rasakan belakangan ini.


*Assalamualaikum, Nak. Ini ibu. Apa kamu bisa mendengarku? ucap Kanaya dalam hati seraya mengusap perutnya.

__ADS_1


Ya, Allah, kapan aku bisa memberitahu mas Reino tentang ini? Apa dia akan senang mendengarnya*?


...----------------...


__ADS_2