Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 81 TAK SANGGUP LAGI


__ADS_3

Reino melajukan mobilnya perlahan menembus dinginnya malam demi mencari tukang martabak telor yang masih beroperasi. Kanaya merapatkan jaketnya. Ia merasakan tubuhnya sedikit menggigil karena AC.


"Dingin?" tanya Reino menelisik bahasa tubuh sang istri sejak tadi.


"Iya, mas. Matikan AC nya ya?" pinta Kanaya.


Dengan gerakan cepat Reino mematikan AC mobilnya agar Kanaya merasa nyaman.


"Mas, kok pada tutup ya?" terdengar nada kecewa dari mulut sang istri saat melihat beberapa kios martabak telor yang mereka lewati sudah tutup.


"Ini kan sudah malam, sayang. Wajar dong tutup." Reino melirik sekilas wajah Kanaya yang terlihat masam.


"Tapi aku lagi pengen banget makan martabak telor mas..." ucapnya lirih sembari mengelus perutnya.


"Ya sudah, sabar. Kita cari lagi ya. Barangkali masih ada yang buka." jawab Reino meyakinkan.


Setelah beberapa saat mencari berkeliling akhirnya pencarian merekapun berakhir di sebuah kedai yang masih menyala lampu-lampunya. Ada dua orang laki-laki tengah sibuk di balik etalase besar kedai itu.


Reino segera turun dari mobil lalu menghampiri sang penjual.


"Maaf, apa martabak telornya masih ada?" tanya Reino bersemangat.


"Maaf mas sudah habis. Ini lagi beres-beres mau pulang." jawab salah seorang dari mereka.


"Habis ya? Sayang sekali padahal istri saya lagi ngidam."


Dengan langkah lesu Reino kembali ke mobil.


"Kok balik mas? Nggak ada ya?"


Reino mengangguk. Ia tahu pasti Kanaya kecewa.


"Kita cari di tempat lain ya? Mudah-mudahan ada, sayang." putus Reino akhirnya.


Namun, ketika hendak menstarter mobil, laki-laki dari kedai itu berlari kecil sambil melambaikan tangan ke arah mobil Reino.


"Ada apa, mas?" tanya Reino kembali turun dari mobil.


"Kalau mau mari mampir ke rumah saya di belakang sana. Barusan saya telpon istri di rumah, katanya masih ada bahan, jadi saya bisa buatkan martabaknya di rumah. Kasihan kalau orang ngidam nggak keturutan bisa ngeces bayinya." terang laki-laki itu tersenyum ramah.


"Alhamdulillah, terima kasih."


Dengan senang hati Reino memberitahu Kanaya tentang hal itu. Keduanya turun dari mobil kemudian berjalan mengikuti laki-laki itu sampai ke rumahnya yang terletak tidak jauh dari kedai.


"Mari silahkan masuk. Maaf rumahnya kecil." pinta sang tuan rumah malu-malu.

__ADS_1


Reino dan Kanaya masuk ke dalam. Mereka duduk lesehan di ruang tamu, beralaskan karpet tipis yang sudah usang.


Tak lama kemudian muncul seorang perempuan muda dari dalam rumah sembari membawa nampan berisi teh dan kopi.


"Mari kak di minum dulu, suami saya sedang membuat martabak di belakang." ujarnya ramah.


"Terima kasih. Jangan panggil kakak dong. Sepertinya kita seumuran. Aku Nay. Ini suamiku, Reino." Kanaya mengulurkan tangan lalu disambut hangat oleh perempuan itu. Begitu pula dengan Reino yang tak sungkan menjabat tangan Ratri.


"Ratri. Oh ya, kata suami saya, Nay lagi ngidam ya?"


Kanaya mengangguk mengiyakan.


"Tiba-tiba saja pengen makan Martabak telor, Rat. Mana sudah malam begini. Untung s


aja tadi ketemu suamimu." Reino menjelaskan perihal ngidamnya sang istri yang tiba-tiba itu.


Ratri tersenyum.


"Kalau ngidamnya orang hamil itu memang macem-macem. Dulu istri saya juga gitu. Malam-malam pengen makan asinan bogor. Muter-muter saya cari asinan sampe ketemu. Takut bayinya ngiler. Hehe." suami Ratri muncul menimpali obrolan mereka bertiga.


Mereka tertawa lepas membayangkan betapa repotnya para suami demi menuruti kemauan si jabang bayi yang terkadang aneh-aneh itu.


"Tolong ambilin kotak ya di lemari." pinta laki-laki itu pada istrinya.


"Sebentar ya, saya bungkus dulu martabaknya." pamit Ratri menuju dapur mengikuti suaminya.


Setelah selesai, Ratri memberikan satu kantung kresek kepada Kanaya. Aroma martabak telor yang gurih menggelitik indra penciuman Kanaya. Tak sabar rasanya untuk segera pulang dan mencicipinya.


"Kami pamit dulu ya. Terima kasih atas bantuan kalian." ucap Reino tulus menghargai kebaikan mereka berdua. Tak lupa Reino membayar martabak telor itu sebelum beranjak pulang.


"Eh, tapi ini terlalu banyak." seru laki-laki itu berusaha menyusul Reino dan Kanaya untuk mengembalikan uang tersebut.


"Itu untuk kalian. Simpan saja." imbuh Reino seraya tersenyum penuh arti.


Keduanya segera berlalu menuju rumah. Reino merasa lega begitu melihat raut wajah Kanaya nampak bahagia setelah mendapat apa yang diinginkannya.


"Terima kasih ya mas." ucap Kanaya dengan binar mata bahagia.


"Sama-sama sayang. Kita pulang ya..?"


"Iya, mas."


...***...


Sesampainya di rumah, Kanaya segera melesat ke dapur untuk mengambil piring lalu memindahkan martabak telor itu ke atasnya.

__ADS_1


Reino memperhatikan Kanaya yang sedang sibuk mengunyah makananya.


"Enak, mas. Sini deh aku suapin."


Reino bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri sang istri.


Disuapinya Reino dengan perlahan.


"Iya, sayang. Enak."


"Kalau begitu mas duduk sini ya. Aku suapin lagi." pinta Kanaya bersemangat.


Satu kali.


Dua kali.


Tiga kali.


Kanaya tak berhenti menyuapkan martabak telor itu ke mulut suaminya.


"Hmm..sudah, sayang. Kenapa jadi aku yang disuapin?" protes Reino seraya menutup mulutnya karena penuh.


"Aku sudah kenyang mas. Sudah nggak pengen lagi. Sekarang, aku mau mas Reino yang makan semuanya." rajuk Kanaya sumringah.


Tatapan mata Reino beralih ke piring yang ada di tangan istrinya. Martabak telor itu belum berkurang separuhnya dan Kanaya bilang sudah kenyang.


Kamu bercanda kan, sayang? Masa iya aku harus habisin semuanya?


"Tapi tadi kamu cuma makan dua potong aja, sayang?" tuntut Reino meminta penjelasan.


"Iya mas aku tahu. Tapi itu sudah cukup. Tiba-tiba aku kenyang. Pokoknya mas Reino harus makan ini semua." kilah Kanaya dengan tatapan memohon.


Ini martabak telor bisa dimakan untuk 5 orang sekaligus. Eneg.


Demi untuk menyenangkan Kanaya akhirnya Reino mengalah lalu mulai menyantap makanan itu tanpa berpikir panjang lagi. Hingga potongan terakhir hampir masuk mulut Reino pun membatin.


Sepertinya ini akan menjadi yang terakhir kalinya, aku tidak mau lagi makan martabak telor. Hweekkk.


Isi piring itu pun tandas. Reino berlari ke dapur untuk mengambil air putih.


"Wah, mas Reino hebat. Padahal tadi aku mau bilang, kalau mas nggak sanggup memakannya, aku nggak akan marah kok."


Jreeeeng...!!! Telat banget infonya sayang, gerutu Reino dalam hati.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2