
"Saya pamit istirahat dulu, pak, bu, karena besok sore kami akan kembali ke Jakarta."
"Iya, le. Istirahatlah. Kamu pasti capek." ucap ibu Kanaya mengiyakan.
Pukul 11 malam Reino baru masuk ke dalam kamar. Ia mengobrol dengan bapak dan ibu Kanaya di ruang tamu hingga lupa waktu. Mereka asyik menceritakan masa kecil hingga masa remaja Kanaya di kampung ini. Reino nampak senang dan antusias mendengarnya. Apapun yang menyangkut gadis itu membuatnya tertarik.
Reino berjalan perlahan mendekati ranjang dan mendapati Kanaya tidur membelakanginya. Nampak tubuh istrinya itu terbungkus selimut hingga menutupi leher.
"Sayang...." panggilnya perlahan, takut membuat istrinya terkejut.
Kanaya yang belum sepenuhnya tertidur merasakan ada pergerakan di belakangnya. Reino mendekat dan tidur menempel di punggung Kanaya. Laki-laki itu melingkarkan tangannya di perut Kanaya, membuat jantung gadis itu seakan ingin berlompatan keluar.
Ini adalah saat pertama kalinya tubuh Kanaya bersentuhan dengan seorang laki-laki secara intim. Kanaya merasakan tubuhnya gemetar saat tubuh mereka menempel tanpa ada jarak.
"Sayang..." ulang Reino sekali lagi namun kali ini Kanaya bisa merasakan hembusan nafas hangat Reino di tengkuknya. Tangannya memeluk Kanaya dengan erat dari belakang.
"Kamu udah tidur, sayang?"
"Belum mas." jujur Kanaya berterus terang. Memang sejak tadi ia tidak bisa memejamkan mata sama sekali.
"Kemarilah, sayang. Aku merindukanmu." ujar Reino seraya menarik tubuh istrinya itu hingga menghadap ke arahnya.
Pandangan mereka berdua beradu. Reino menatap lekat Kanaya yang sekarang telah resmi menjadi Ny. Reino Rahardian, istrinya.
"Apa kamu bahagia, sayang?"
Kanaya mengangguk. Tatapan mata Reino masih menelusuri tiap sudut wajah Kanaya hingga membuat wajah sang istri merona merah.
"Jangan ngeliatin aku kayak gitu mas. Aku malu."
Melihat ekspresi malu-malu Kanaya, Reino mulai merasakan gairahnya terbakar. Sekarang mereka berdua sudah sah menjadi suami istri. Tentu saja sebagai pria normal Reino ingin memiliki Kanaya seutuhnya.
Diraihnya tengkuk Kanaya perlahan lalu diciumnya dengan lembut kening gadis itu. Ia tak menolak.
"Aku mencintaimu, sayang..." ungkapnya tulus, tatapan mereka berdua masih berpadu.
Kanaya masih tak percaya Reino telah menikahinya. Rencana Tuhan memang tak pernah bisa diduga. Padahal tadi pagi ia berkata pada ibunya bahwa ia sudah ikhlas menerima takdir pernikahannya dengan Galih. Namun, dalam sekejap takdirnya berubah. Saat ini ia justru sedang menghabiskan malam dengan Reino, orang yang sangat dicintainya.
Ciuman lembut di kening perlahan turun ke leher. Kanaya merasakan geli di telinga saat Reino mengecup leher jenjangnya dengan perlahan.
"Mas..."
"Apa sayang..." jawab Reino tanpa menghentikan aktivitasnya menjelajahi leher sang istri dengan kecupan-kecupan lembut.
__ADS_1
Kanaya memejamkan mata. Tubuhnya bergetar menikmati sensasi yang ditimbulkan setiap Reino menyentuh bagian tubuhnya dengan lembut.
"Aku malu mas.." ucap Kanaya seraya membenamkan kepalanya di dada suaminya yang bidang.
Reino terkekeh. Dipeluknya Kanaya lebih erat.
"Baiklah, sayang. Aku nggak akan maksa bila kamu memang belum siap."
Reino mengecup puncak kepala istrinya dengan perasaan sayang. Ia mengerti jika Kanaya belum siap menyerahkan dirinya seutuhnya.
"Maafin aku ya mas."
"Iya, sayang. Udah, ayo kita tidur. Besok kita harus kembali ke Jakarta."
Kanaya mengangguk. Mereka berdua saling berpelukan hingga akhirnya benar-benar tertidur lelap.
...***...
Kanaya terbangun. Sekilas ia melihat jam dinding di kamar. Pukul 4 pagi. Ia baru menyadari Reino tidak ada di sampingnya.
Kemana mas Reino?
Setelah merapikan tempat tidur, Kanaya keluar dari kamar menuju kamar mandi.
"Eh, ibu. Iya mas Reino nggak ada di kamar."
"Dia ke mushollah sama bapakmu."
"Oh ya? Nay nggak tau mas Reino bangun."
"Tadi pas ibu bangun jam 3, suamimu ada di ruang tamu. Jadi sama bapak diajak subuhan sekalian."
"Dia nggak kan nggak bawa baju ganti, bu."
Sang ibu tersenyum.
"Dia pakai baju koko dan sarung bapakmu."
"Oalah..iya bu. Nay ke kamar mandi dulu."
Kanaya segera mandi lalu sholat subuh. Setelah itu, ia membuatkan kopi untuk suaminya yang sebentar lagi pulang dari sholat jamaah di mushollah.
"Jam berapa kalian pulang, nduk?" tanya sang ibu sambil memasak di dapur.
__ADS_1
"Keretanya berangkat jam 3 bu."
Kanaya menata pisang goreng yang dibuat ibunya ke atas piring. Ia juga menambahkan beberapa jajanan pasar yang ia beli dari tukang sayur yang lewat di depan rumah tiap subuh.
"Assalamualaikum."
"Tuh, mereka pulang. Cepat kamu bawa kopi dan kue ini ke depan, nduk."
"Iya, bu."
Dengan perasaan bahagia Kanaya menghidangkan kopi dan kue untuk bapak dan suaminya di teras depan. Kedua laki-laki itu tengah asyik membicarakan ceramah seorang ustadz yang baru saja mereka dengar di mushollah.
"Kopinya pak, mas Reino." tawar Kanaya sembari menata gelas dan piring kue di meja.
Reino melirik istrinya sekilas lalu mengerlingkan sebelah mata kepadanya.
Kanaya menahan senyum. Reino begitu pandai membuat dirinya tersipu malu. Tak peduli meski ada sang ayah di sana.
"Duduklah, nduk."
"Iya pak, ada apa?" tanya Kanaya sembari duduk di kursi di samping Reino.
"Bapak tadi sudah ngobrol panjang lebar sama suamimu dan dia bilang kamu tidak ingin memberitahukan tentang pernikahanmu ini kepada siapapun dalam waktu dekat sebelum meresmikan pernikahan kalian di KUA, apa betul?"
"Iya, pak. Rencananya begitu. Nay merasa nggak enak aja sama orang kantor kalo ada yang tahu kami sudah menikah."
"Sebenarnya saya kurang setuju sama keinginan Kanaya, pak. Untuk apa menutup-nutupi pernikahan ini toh memang kami berdua saling mencintai dan tidak merugikan siapapun. Iya kan, pak? Tapi dia ini ngeyel orangnya." jelas Reino sengaja menyudutkan Kanaya di depan sang ayah karena ia tahu bagaimana respon istrinya itu bila merasa terpojok.
"Mas, kemarin kita kan udah sepakat soal ini. Kenapa di depan bapak mas Reino beda ngomongnya!" protes Kanaya kesal.
Tuh kan ekspresimu pas lagi marah itu bener-bener bikin gemes.
"Sudah-sudah jangan bertengkar. Baru sehari menikah sudah ribut, itu tidak baik." nasehat sang ayah bijak sambil berlalu maauk ke dalam rumah.
Reino tertawa senang.
"Bercanda, sayang. Jangan marah dong. Kamu ini kalo marah gitu jadi tambah cantik loh." goda Reino tak mau berhenti.
"Cih! Gombal! Bodo' amat!!"
Kanaya pun ikut masuk ke dalam meninggalkan suaminya sendirian di teras.
...----------------...
__ADS_1