Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
BAB 89 PECEL SEMANGGI SPESIAL (1)


__ADS_3

Mentari masih bermanja-manja dalam belaian kabut pagi. Kanaya yang sejak subuh tadi sudah bangun kini mulai kembali mengawali hari dengan rutinitasnya sebagai seorang istri. Ia menyiapkan pakaian kerja Reino dan meletakkannya di atas tempat tidur.


"Mas, hari ini jadi meeting ke Surabaya?" tanya Kanaya begitu sang suami keluar dari kamar mandi. Aroma mint segar menguar memenuhi kamar mereka. Refleks Kanaya mendekat menghadang langkah Reino.


"Peluk, mas." pintanya manja. Dihirupnya aroma tubuh Reino dengan serakah.


Tumben nih, batin Reino senang mendapati kelakuan yang tak biasa dari sang istri.


Reino mengaitkan kedua lengannya di pinggang Kanaya, memberikan apa yang diinginkan sang istri dengan senang hati.


"Aku jadi meeting ke Surabaya, sayang. Jam 11 berangkat sama Maya. Apa kamu mau ikut?" tawar Reino antusias. Tentunya ia tak mungkin keberatan jika Kanaya ikut serta.


"Nggak ah, mas. Nanti mas nggak bisa konsentrasi kerja kalau aku ikut." jawab Kanaya yakin diiringi senyum nakal Reino yang sudah sangat dihafalnya di luar kepala.


"Tau aja, kamu. Kalau gitu kamu baik-baik di rumah ya? Mungkin aku pulang malam, sayang. Jadi nanti jangan menungguku ya? Kamu tidur seperti biasa aja."


Pelukan semakin erat, Reino mulai mengelus rambut panjang Kanaya dengan sebelah tangannya. Sedang tangan satunya lagi malah bergerilya di pinggang sang istri.


"Mas...." protes Kanaya saat menyadari tingkah Reino mulai tak terkendali.


"Apa, sayang. Cuma elus-elus aja, kok." ia tertawa terkekeh menyudahi aksinya.


"Kamu mau oleh-oleh apa?"


Kanaya terlihat sedang memikirkan sesuatu yang sejak kemarin membuatnya terbayang-bayang.


"Sebenarnya aku ingin makan pecel semanggi, mas." pinta Kanaya.


Pecel Semanggi?


"Makanan apa itu, sayang?"


"Itu makanan khas Surabaya, mas. Tapi udah jarang sih yang jual." ucap Kanaya ragu.


"Aku akan membawakannya untukmu nanti. Ada lagi, nyonya?" goda Reino membuahkan satu cubitan sayang di pipinya.


"Tidak, tuan. Cukup bawakan aku pecel semanggi, saja."


"Tentu, nyonya. Apapun untukmu." selorohnya seraya menggendong tubuh Kanaya.


"Turunkan aku, mas. Sekarang aku tambah berat loh."


Reino menimbang-nimbang dengan perasaannya.


"Benar juga, sayang. Naik berapa kilo?"


"Baru naik 5 kilo, mas. Hihi."


Reino menurunkan sang istri lalu mengecup keningnya dengan lembut.


"Tapi tubuhmu jadi lebih seksi jika begini." rayuan maut meluncur bebas dari mulut Reino, membuat Kanaya spontan memukul lengan suaminya.

__ADS_1


"Seksi dari mana coba? Bilang aja aku tambah ndut, iya kan?"


Reino terbahak-bahak. Sekilas ia mencium sang istri. Bibir manyun Kanaya sudah seperti magnet yang selalu menggoda Reino untuk mengecupnya berkali-kali.


"Biar saja kamu ndut. Yang penting aku sayang."


"Gombal."


Kanaya mendorong dada Reino menjauh, drama pagi ini harus segera disudahi jika tidak ingin berbuntut panjang nantinya. Bisa-bisa Reino memundurkan jadwal kerjanya sesuka hati.


"Cepat ganti baju mas. Aku tunggu di meja makan ya?"


"Iya."


......................


Meeting dengan klien penting sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Kini, Reino sedang berada di sebuah taman bersama sang sekretaris, Maya, untuk mencari pesanan sang istri, pecel semanggi. Menurut informasi dari koleganya tadi, makanan khas Surabaya itu memang sudah jarang ada. Tetapi, ia tetap menyuruh Reino untuk mencari di taman yang sedang ia jelajahi sekarang ini.


"May, kalau kamu capek, istirahatlah. Biar aku cari sendiri." usul Reino merasa iba pada sekretarisnya itu. Sudah hampir satu jam ia ikut berjalan berkeliling bersamanya mencari penjual pecel semanggi itu.


Maya menggeleng, menolak permintaan si bos karena dalam hati ia paham sekali bagaimana rasanya jika seorang wanita hamil sedang menginginkan sesuatu.


"Nggak apa-apa, pak. Demi bu Kanaya yang lagi ngidam pecel semanggi, hehe."


Setelah beberapa kali berputar-putar di area taman, Reino dan Maya akhirnya menemukan sebuah petunjuk. Seorang tukang parkir yang sejak tadi melihat keduanya berkeliling taman akhirnya bertanya.


"Cari apa, tuan?" tanya laki-laki muda itu.


"Biasanya ada, tuan. Mbok Nah namanya. Cuma dia yang jual pecel semanggi di sini. Tapi.."


"Tapi kenapa, Mas?" tanya Maya penasaran.


"Sudah seminggu ini Mbok Nah nggak jualan, mbak." jelasnya membuat Reino lesu.


"Apa anda tahu di mana tempat tinggal Mbok Nah?" tanya Reino lagi.


"Iya, tuan. Saya tahu."


"Tolong antar saya ke sana."


Akhirnya dengan diantar tukang parkir itu, Reino dan Maya berhasil menemukan rumah Mbok Nah. Sebuah rumah sederhana tepat berada di depan mereka. Namun, sepi sekali. Seperti tidak ada orang di dalamnya.


"Betul ini rumah Mbok Nah?" tanya Reino ragu.


Tukang parkir itu mengangguk yakin. Diketuknya pintu rumah Mbok Nah beberapa kali.


"Assalamualaikum." teriak laki-laki muda itu.


"Wa'alaikumsalam."


Tak lama kemudian pintu rumah yang sedikit berderit itupun terbuka lebar. Seorang perempuan tua muncul menyambut mereka bertiga dengan perasaan heran.

__ADS_1


"Nah ini dia, Mbok Nah, tuan."


"Ada apa, le? Tumben kamu kemari malam-malam begini, apa nggak markir? Siapa mereka le?" tanya Mbok Nah penasaran.


"Maaf mengganggu malam-malam begini, bu. Saya Reino. Saya kemari karena sedang mencari penjual pecel semanggi. Istri saya sedang ngidam." terang Reino akhirnya.


"Oalah, nggeh toh nak. Mari masuk. Silahkan duduk."


Reino dan Maya masuk ke dalam rumah Mbok Nah lalu mengambil tempat duduk di sudut ruang tamu yang sempit itu.


"Tuan, saya permisi dulu. Mau markir lagi." pamit laki-laki muda itu.


"Tunggu dulu, ini sebagai rasa terima kasih saya karena merepotkan anda." Reino mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya padanya.


"Wah, ini bener buat saya, tuan?" ucapnya tak percaya begitu melihat uang yang menurutnya jumlahnya sangat banyak itu.


"Iya. Terimalah."


"Terima kasih, tuan. Saya permisi dulu."


Tukang parkir itu beranjak pergi meninggalkan rumah Mbok Nah dengan perasaan gembira.


Di ruang tamu kecil itu, Mbok Nah memperhatikan dengan seksama penampilan keduanya dari atas hingga ujung sepatu mereka.


"Maaf, Mbok, apa pecel semangginya masih ada?" tanya Reino tak sabar.


"Sebenarnya sudah seminggu ini Mbok tidak berjualan."


"Nggak jualan? Tapi kenapa mbok?" Maya jadi ikutan tak sabar menanti penjelasan beliau.


"Mbok sedang sakit, bukan sakit badan tapi sakit fikiran." jelasnya seraya menerawang jauh seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Maksudnya gimana, Mbok? Saya tidak paham?" tanya Reino.


"Begini nak. Minggu lalu istri anak sulung Mbok yang sedang bekerja di Jakarta menelepon, mengabarkan jika anak Mbok mengalami kecelakaan serius dan dirawat di rumah sakit. Dia bingung harus bagaimana. Sementara mereka berdua tidak punya tabungan sama sekali untuk biaya rumah sakit itu. Mbok jadi bingung. Sejak telepon itu, tidak ada kabar lagi dari mereka. Mbok tidak tahu harus bagaimana. Pengen ke Jakarta mencari mereka tapi yo gimana si Mbok rasanya tidak berdaya."


Reino mendengarkan cerita Mbok Nah. Sementara mata Maya perlahan berkaca-kaca.


"Loh, kok jadi cerita begini. Maaf lo nak."


"Ah, tidak apa-apa, Mbok. Kami berdua tidak keberatan mendengar cerita Mbok Nah."


Perempuan tua itu mengusap setitik air yang menggenang di pelupuk matanya yang keriput. Pemandangan itu membuat Reino merasa iba.


"Jangan bersedih, Mbok. Apa Mbok Nah tahu alamat anak Mbok Nah di Jakarta?"


"Iya, nak. Mbok menyimpan alamatnya."


"Kalau Mbok Nah tidak keberatan, ikutlah bersama saya ke Jakarta. Biar saya bantu cari anak dan menantu Mbok Nah di sana."


"Benar, nak?" tanya beliau tak percaya. Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya lolos berjatuhan membasahi kulit wajahnya yang keriput dimakan usia. Reino menarik nafas panjang berusaha menghempaskan rasa sesak yang tiba-tiba menderanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2