
Pesawat Reino baru saja mendarat di Batam menjelang senja. Seorang utusan dari perusahaan Nina dikirim untuk menjemput dan mengantarnya ke hotel untuk beristirahat sebelum rapat besok.
Di dalam mobil, Reino mencoba menghubungi Kanaya. Terselip rasa rindu walaupun baru sebentar keduanya berpisah. Bayangan wajah sang istri menari-nari dalam benak Reino.
"Assalamualaikum, mas."
"Wa'alaikumsalam, sayang. Aku baru sampai. Apa kau merindukanku?" goda Reino.
"Ish..mas ini. Baru sebentar masa sudah kangen? Ada-ada aja mas ini. Oh ya, apa mas sudah sampai di hotel?"
Reino melirik sekilas ke arah luar mobil.
"Belum, sayang. Ini masih di jalan. Kamu sudah makan malam?"
Kanaya membetulkan posisi duduknya di atas sofa.
"Belum, mas. Sebentar lagi aja. Lagian juga belum lapar. Mas juga jangan lupa makan."
Senyum mengembang di wajah Reino. Ia senang mengetahui bahwa sang istri begitu perhatian padanya.
"Tentu. Sayang, aku hampir sampai di hotel. Nanti aku telepon lagi ya? Baik-baiklah di rumah. Aku mencintaimu, Nay."
Kanaya terdiam. Tiba-tiba pipinya bersemu merah. Rasanya aneh mendengar sang suami mengatakan hal itu di telepon. Ia belum terbiasa mendengarnya.
"Kenapa diam, sayang?" tanya Reino saat tak ada sahutan di ujung sana.
"Eh, anu mas. Nggak apa-apa kok."
Sekali lagi Reino tersenyum. Ia yakin jika Kanaya sedang tersipu malu sekarang.
"Ya, sudah. Sampai nanti ya? Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, mas."
Mobil yang dinaiki Reino berbelok memasuki sebuah hotel mewah di pusat kota. Di lobi hotel, Nina telah menunggunya. Beberapa orang staf terlihat mendampingi wanita itu.
__ADS_1
"Selamat datang, Rei, bagaimana perjalananmu?" sambut Nina menyapa Reino dengan tatapan hangat.
"Semua lancar, Nin. Terima kasih." ucap Reino.
"Sebaiknya aku antar kamu ke kamar untuk beristirahat. Silahkan, Rei."
Nina dan Reino berjalan beriringan menuju sebuah lift khusus. Kamar VVIP telah disiapkan untuk Reino menginap selama beberapa hari.
"Ini dia kamarmu, Rei. Selamat beristirahat. Jika butuh sesuatu kau bisa menghubungiku. Oh, ya meeting besok akan dimulai pukul 10." terang Nina mengingatkan.
Reino mengangguk mengiyakan meski sebenarnya ia tak terlalu memperhatikan ucapan Nina. Ia hanya ingin cepat masuk ke kamar untuk membersihkan diri lalu menelepon Kanaya.
"Terima kasih, Nin. Sampai ketemu besok." pamit Reino seraya menutup pintu.
Diletakkannya jas dan koper di atas ranjang sebelum menghubungi sang istri.
Memanggil Kanaya...
Terdengar nada sambung beberapa kali tetapi tak ada jawaban. Kanaya tidak menjawab teleponnya.
Apa kamu sudah tidur, sayang? ujar Reino dalam hati.
Tak lama setelah itu, terdengar suara pintu diketuk. Reino segera keluar dari dalam kamar mandi. Ia mengambil kaos polo berwarna putih dari dalam koper lalu segera memakainya sebelum membuka pintu.
"Nina?" sapanya heran.
Karenina berdiri di depan pintu. Pakaian formal yang dikenakannya saat menyambut Reino tadi sudah berganti dengan pakaian kasual. Ia mengenakan
atasan tanpa lengan berwarna biru muda dipadukan dengan rok mini yang seksi, memperlihatkan dengan jelas kulitnya yang putih mulus.
"Ada apa, Nin?" tanya Reino membuyarkan lamunan singkat Nina yang sedang terpesona memandang laki-laki di hadapannya itu.
Malam ini kamu terlihat sangat jantan, Rei, bisik batin Nina mulai tak bisa mengendalikan perasaannya saat melihat penampilan Reino.
"Maaf mengganggumu, Rei. Apa kau mau makan malam di luar bersamaku?" tawar Nina penuh harap.
__ADS_1
"Maaf, Nin, bukannya aku menolak, tapi jujur aku lelah. Aku ingin segera beristirahat." jawab Reino berterus terang.
Terlihat gurat kecewa di wajah Nina namun ia tetap mengumbar senyumnya yang menawan.
"Tidak apa-apa, Rei. Memang sebaiknya kamu beristirahat. Kalau begitu aku pergi dulu ya?"
"Maaf ya, Nin." ucap Reino.
Nina mengangguk sebelum pergi meninggalkan kamar Reino dengan perasaan kesal.
Sial!! Sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan perhatianmu, Rei.
...***...
"Rei, semua sudah siap menunggu kedatanganmu." ujar Nina memberitahu Reino.
"Baiklah, aku akan segera ke sana." jawab Reino, memberi isyarat pada Nina untuk pergi terlebih dahulu karena ia sedang dalam panggilan telepon.
"Sayang, maaf aku harus pergi. Mereka sedang menungguku."
"Iya, mas, pergilah. Semoga semuanya lancar dan mas cepat pulang." ujar Kanaya dengan suara manja hingga membuat Reino enggan beranjak dari tempat duduknya.
"Kau sengaja menggodaku ya? Kenapa suaramu terdengar seksi begitu, sayang?"
"Ih, apaan sih mas. Seksi apanya. Sudah sana cepat pergi, mas. Nanti mas terlambat."
Dengan berat hati Reino mengakhiri panggilan itu lalu segera menuju ballroom hotel tempat rapat berlangsung. Di sana, orang-orang telah menunggunya. Semua berdiri memberi penghormatan saat laki-laki itu memasuki ruangan.
Penampilan Reino pagi itu sangat gagah. Tubuh tegapnya dibalut dengan setelan jas berwarna navy. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Beberapa orang dewan direksi dari perusahaan Nina, yang dulu pernah bekerja sama dengan RR group pun mengakui dalam hati bahwa Reino mewarisi darah pebisnis dari ayahnya, tuan Rahardian. Meski usianya terbilang masih muda, ia terlihat sangat profesional dalam menangani proyek kerja sama itu.
"Proyek ini akan dimulai bulan depan. Saya harap bagian
perencanaan sudah fix dengan rancangannya. Jangan ada lagi perubahan-perubahan yang nantinya bisa mempengaruhi proses pembangunan." terang Reino memberi ultimatum.
Semua orang yang hadir mengangguk setuju. Masing-masing bagian mencatat tugas mereka dengan teliti, kecuali Nina. Wanita itu sedang melamun sambil memandangi wajah Reino. Pikirannya melayang. Ia sedang memikirkan cara untuk menarik perhatian Reino. Selagi ada kesempatan, ia tidak akan menyia-nyiakannya.
__ADS_1
Masih ada waktu dua hari lagi. Aku yakin kau akan jatuh ke pelukanku Reino Rahardian. Kau akan melupakan istrimu yang kampungan itu. Aku bersumpah.
...----------------...