
Kanaya terbangun saat merasakan ada pergerakan di balik punggungnya. Mendapati Reino tengah memeluknya dengan erat, ia berusaha untuk melepaskan tangan laki-laki itu perlahan namun gagal. Justru tubuh keduanya semakin merapat erat tanpa jarak.
"Mau kemana, sayang..." gumam Reino saat menyadari istrinya hendak pergi.
"Aku mau ke kamar mandi mas. Tiba-tiba perutku rasanya tidak enak. Kayak diaduk-aduk."
Hoeekkk...!!!
Kanaya segera bangkit, menepis tangan Reino dari pinggangnya kemudian menuju kamar mandi.
"Nay...kamu sakit?" tanya Reino spontan mengikuti istrinya ke kamar mandi. Dipijitnya tengkuk Kanaya perlahan.
Hoeekkk....hoeekkk!!!
Tak ada apapun yang keluar dari tenggorokan Kanaya. Kedua matanya mulai berair. Reino mengusap punggung istrinya untuk meredakan rasa mual itu.
Setelah beberapa saat, mual yang dirasakan Kanaya mulai hilang. Dengan satu tangan, ia membasuh muka. Dilihatnya pantulan wajah Reino di cermin yang menyiratkan kekhawatiran.
"Kita ke dokter ya?" ajak Reino cemas.
Kanaya menggeleng. Diambilnya sebuah handuk kecil di dekat wastafel untuk mengeringkan wajah.
"Aku tidak apa-apa, mas. Jangan khawatir." seulas senyum tersungging di wajah Kanaya.
Reino memeluk pinggang istrinya lalu menuntunnya kembali ke tempat tidur.
"Tapi sayang, aku benar-benar khawatir. Lebih baik kita check up ke dokter. Atau aku panggil Dr. Daniel kemari ya?"
"Mas...benar aku tidak apa-apa. Aku hanya..." kalimat Kanaya terjeda. Ia sedang merangkai kata yang tepat untuk memberitahu sang suami tentang kehamilannya.
"Hanya apa? Kamu selalu mengabaikan kesehatanmu." wajah Reino cemberut, merasa sedikit kesal karena Kanaya tak mau menuruti nasehatnya.
Melihat perubahan pada raut wajah Reino, Kanaya menyentuh lembut jemari sang suami.
"Mas, jangan marah dulu. Maafkan aku. Aku benar-benar baik-baik saja. Aku memang merasa mual tadi,"
"Makanya aku ingin Dr. Daniel memeriksamu." sela Reino cepat memotong ucapan sang istri.
"Tidak perlu. Mas tahu kenapa aku begini?" tanya Kanaya seraya meletakkan tangan Reino di atas perutnya yang rata.
"Ini ulah anakmu, mas." lanjut Kanaya sembari tersenyum. Ia mengusap perutnya dengan tangan Reino.
"Apaaa? Anakku? Maksudmu, kamu hamil, sayang?" seru Reino terkejut. Kedua bola matanya membulat lebar. Ada binar kebahagiaan di sana.
__ADS_1
"Iya, mas. Aku hamil. Di dalam sini ada anak kita."
Tiba-tiba saja air mata Reino menggenang di pelupuk matanya. Ditatapnya wajah Kanaya lekat-lekat, lalu perlahan dikecupnya mesra kening sang istri.
"Terima kasih, sayang. Ini adalah hadiah terindah untuk pernikahan kita. Aku mencintaimu, Nay."
Reino memeluk erat tubuh Kanaya seolah tak ingin melepasnya lagi. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat kabar bahagia tentang kehadiran buah hati mereka secepat ini.
Terima kasih Tuhan, aku berjanji akan membahagiakan mereka berdua.
Kanaya membalas pelukan hangat Reino. Kedua matanya terpejam, menikmati dekapan nyaman sang suami.
"Mas, apa kau bahagia?" usik Kanaya seraya mendongakkan kepala menatap manik mata Reino dalam-dalam.
"Tentu saja, sayang. Aku sangat bahagia. Apa kau sudah memberitahu mama dan papa? Mereka pasti akan senang mendengar berita ini, Nay."
"Mama sudah tahu, mas. Justru beliaulah yang pertama kali mengetahui kehamilanku."
"Benarkah?"
"Iya, mas. Sebenarnya aku ingin memberi mas kejutan setelah pulang dari Batam. Tapi rencanaku gagal." terang Kanaya cemberut mengingat peristiwa pertengkarannya dengan Reino beberapa hari ini.
Reino menarik nafas panjang. Ia merasa bersalah pada Kanaya karena ulah Nina waktu itu. Andai saja ia tidak pergi ke Batam, mungkin semua itu tak akan pernah terjadi.
"Ada apa, mas? Apa yang sedang mas pikirkan?"
"Aku sedang memikirkan anak kita, sayang. Boleh aku menyapanya?"
"Tentu saja, mas. Bicaralah padanya."
Reino tersenyum.
"Assalamualaikum, sayang. Ini papa. Kau tahu, papa merasa sangat bahagia sekarang. Kehadiranmu di kehidupan papa dan mama adalah anugerah dari Tuhan. Baik-baiklah bersama mama di sini. Papa akan selalu menjaga kalian." ucap Reino lembut membuat air mata Kanaya meleleh turun.
Ya Allah, terima kasih atas kebahagiaan yang engkau anugerahkan kepada kami, batin Kanaya terharu.
...***...
Baru beberapa jam berada di kantor, Reino sudah merasa tak betah. Pikirannya selalu teringat pada Kanaya di rumah. Ia merasa tidak tenang meninggalkannya sendirian di rumah.
Apa Kanaya baik-baik saja di rumah? gumam Reino.
Untuk menghilangkan kekhawatiran, Reino memutuskan untuk menelepon Kanaya.
__ADS_1
"Iya, mas, ada apa?" jawab Kanaya dengan suara tenang di seberang sana.
Mendengar suara sang istri, Reino merasa sedikit lega.
"Apa kamu butuh sesuatu, Nay? Katakan padaku bila kau ingin makan sesuatu."
"Tidak ada, mas. Aku baru selesai makan buah. Rasanya mualku hilang setelah makan buah-buahan yang dingin."
"Syukurlah. Makanlah yang banyak. Jangan sampai telat makan, sayang. Kasihan bayi kita nanti."
"Iya, mas. Aku tahu. Mas Reino tenang saja."
"Ya, sudah. Nanti aku telepon lagi ya? Aku lanjutkan pekerjaanku dulu."
"Iya mas. Sampai nanti."
Reino mulai menekuri pekerjaannya kembali. Ia ingin menyelesaikan semuanya dan segera kembali ke rumah untuk menemani Kanaya. Berada jauh darinya membuat hati Reino gelisah.
Tok....tok....tokkk
"Masuk." jawab Reino singkat. Pandangannya tetap tertuju pada layar komputer di hadapannya.
Maya masuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Reino melirik sekilas lalu kembali konsentrasi pada pekerjaannya.
"Ada apa, May?"
"Ini ada beberapa proposal dari Marshal Company, pak. Menunggu persetujuan anda."
"Hm. Letakkan saja di sana. Aku akan memeriksanya nanti. Ada lagi?"
"Iya, pak. Ada bu Nina di luar ingin bertemu anda."
Nina? Masih berani dia datang kemari!
"Kau urus saja dia. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Dia sudah membuatku repot, May. Hampir saja aku kehilangan istriku gara-gara ulahnya."
"Baik, pak. Saya akan mengurus bu Nina. Permisi." pamit Maya segera.
Sementara di ruangan sekretaris, Nina sedang duduk menunggu. Tak lama Maya datang dan memberitahunya bahwa Reino sedang sibuk tidak bisa diganggu.
"Apa ada pesan, bu? Nanti saya sampaikan."
"Tidak, aku akan kembali lagi besok." jawab Nina.
__ADS_1
Aku tidak akan menyerah Rei. Tunggu saja.
...----------------...