Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 73 SIASAT


__ADS_3

Di sebuah restoran mewah, Nina telah memesan tempat untuk makan malam bersama Reino. Suasana hangat sudah terasa sejak keduanya masuk ke tempat itu. Temaram lampu yang menghias langit-langit menimbulkan kesan romantis bagi pengunjung yang sebagian besar adalah pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran. Namun, rupanya Reino sendiri tidak menyadarinya. Sejak berangkat tadi, ia sedang memikirkan keadaan Kanaya di rumah.


"Silahkan, meja anda ada di atas." ucap seorang pelayan wanita saat Nina menunjukkan sebuah kartu pelanggan VIP padanya.


Nina dan Reino berjalan beriringan mengikuti pelayan itu menuju ke lantai 2. Begitu sampai di sebuah meja di sudut ruangan yang terbuka, Reino menarik sebuah kursi lalu mempersilahkan Nina duduk.


"Thanks, Rei."


"Mau pesan apa, nona?" pelayan itu menyodorkan sebuah buku menu.


"Mau makan apa, Rei?" tanya Nina pada Reino yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Dia sedang apa sih? Aku harus bisa mengalihkan perhatiannya, ujar Nina dalam hati.


"Terserah kau saja, Nin." jawab Reino singkat. Pandangannya tak beralih dari layar ponsel. Ia sedang mengetikkan sesuatu di sana.


Reino


Sayang, maaf aku belum sempat meneleponmu. Aku sedang makan malam sekarang.


Kanaya


Nggak apa-apa, mas. Nanti aja kalau mas udah pulang.


Reino tersenyum usai menerima pesan balasan dari Kanaya. Sebuah emotikon bergambar kecupan mengakhiri percakapan singkatnya dengan sang istri.


"Oh, ya Rei, makanan di resto ini lezat loh. Kamu pasti ketagihan." ujar Nina sengaja mengusik perhatian laki-laki itu.


Reino meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Ia baru sadar bahwa ia mengabaikan keberadaan Nina sejak tadi.


"Benarkah? Kau sering datang kemari?"


"Well, begitulah. Aku suka suasana di sini. Hangat dan romantis. Ah, tapi sayang, Rei..." ucap Nina membiarkan kalimatnya menggantung begitu saja.


"Kenapa memangnya?"


"Aku iri melihat mereka." jawab Nina sembari mengurai senyum, menunjuk ke arah sepasang pengunjung yang sedang bercengkrama mesra di seberang mereka.


Reino baru menyadari jika hampir seluruh pengunjung restoran adalah pasangan muda-mudi. Adegan romantis pun menjadi pemandangan lazim di sana.


"Kalau begitu cepatlah cari jodohmu."


Sekali lagi Nina tersenyum. Kedua bola matanya yang berwarna coklat itu memandang Reino dengan tatapan intens, membuat laki-laki itu merasa sedikit tidak nyaman. Ia tahu Nina sedang berusaha menarik perhatiannya. Namun, perasaannya pada Kanaya lebih kuat dari apapun. Ia telah membentengi hatinya sejak pertama kali mengenal Kanaya.


"Sayang sekali, Rei. Laki-laki yang aku inginkan sekarang telah menjadi milik orang lain." ucap Nina tanpa basa-basi lagi.


"Jangan berkata seperti itu, Nin. Aku menghargaimu sebagai seorang teman. Jangan sampai ada kesalahpahaman di antara kita." tegas Reino dengan nada serius. Ia merasa harus memperjelas batasan di antara mereka.


"Hei, rileks, Rei. Aku cuma bercanda. Aku tahu posisiku." kilah Nina untuk menutupi rasa malunya.


Sesaat kemudian seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Keduanya menikmati makan malam masing-masing nyaris tanpa berbicara sepatah kata pun.


Sebaiknya aku harus berhati-hati dengan ucapanku. Jangan sampai aku membuatnya marah dan menjauhiku, ujar Nina dalam hati.


...***...


"Thanks ya, Rei, sudah mau menemaniku makan malam. Aku senang sekali." ujar Nina setelah makan malam mereka usai.


Reino mengantar Nina sampai ke depan pintu kamarnya demi kesopanan. Wanita itu sempat menoleh dan tersenyum padanya.


"Sama-sama, Nin. Sebaiknya aku kembali ke kamarku. Seharian ini aku belum sempat menghubungi istriku."


Cih!! Apa peduliku, Rei! Sebentar lagi kau akan melupakan perempuan kampung itu!

__ADS_1


"Tentu saja. Pergilah. Dia pasti menunggu telponmu."


Reino segera kembali ke kamarnya. Ia merasa sangat letih karena seharian ini ia tidak sempat beristirahat. Apalagi, ia juga sangat merindukan Kanaya.


"Halo, mas Reino?" sapa sebuah suara yang amat dirindukannya seharian ini.


Reino berbaring malas di atas tempat tidur dengan mata tertutup sambil membayangkan kehadiran Kanaya di sisinya.


"Bagaimana kabarmu hari ini, sayang?"


"Aku baik-baik aja, mas. Mas baru pulang?"


"Iya, sayang. Hari ini jadwalku padat sekali. Bahkan aku tidak sempat menghubungimu. Maaf ya?"


"Nggak apa-apa, mas. Lagian ada mama sama papa di rumah. Jadi aku nggak kesepian. Apa mas jadi pulang besok?"


"Iya, Nay. Pekerjaanku sudah selesai di sini. Aku pulang besok siang. Kau tahu? Aku sangat merindukanmu, sayang."


Mendengar ucapan Reino, hati Kanaya berbunga-bunga. Sebenarnya, ia juga sangat merindukan sang suami. Namun, untuk mengungkapkannya ia merasa malu. Ia belum terbiasa membalas ungkapan-ungkapan romantis yang seringkali diucapkan oleh Reino dengan lugas.


"Iya, mas. Aku tahu. Cepatlah pulang. Aku punya kejutan untuk mas."


"Kejutan apa, sayang?" tanya Reino mulai penasaran. Ini pertama kalinya Kanaya memberinya sebuah kejutan.


"Kalau dikasih tahu sekarang bukan kejutan namanya. Pokoknya, kalau mas Reino sudah pulang aku beri tahu."


"Baiklah. Aku akan cepat pulang. Sekarang, kamu istirahat dulu ya? Sudah malam, sayang."


"Iya, mas. Aku juga sudah ngantuk."


"Assalamualaikum, sayang."


"Wa'alaikumsalam, mas."


"Nay, apa kau lapar? Mama baru saja membuat roti bakar keju." tanya Andini saat mengintip Kanaya dari balik pintu kamarnya.


"Mama, Nay kan baru makan malam setengah jam lalu?" jawab Kanaya sambil meringis. Berkali-kali Andini menyuruhnya makan ini dan itu. Rasanya perutnya sudah tak muat lagi untuk menampung apapun.


"Baiklah, sayang. Panggil mama kalau tiba-tiba kau merasa lapar tengah malam. Jangan sungkan."


"Iya, ma. Terima kasih."


Ya, Tuhan, aku beruntung sekali punya ibu mertua sebaik beliau.


Sementara itu, sebelum tidur Reino memilih untuk mandi agar badannya terasa lebih segar. Ia mengambil jubah mandi lalu segera menuju shower. Tetapi, tiba-tiba bayangan Kanaya menari-nari di pelupuk matanya.


Ah, sial! Kenapa tiba-tiba hasratku bangkit? Andai kamu ada di sini sekarang, sayang.


Di tengah ritual mandinya, samar-samar Reino mendengar suara ponselnya berdering. Ia segera keluar dari kamar mandi untuk menjawab panggilan yang ia yakini berasal dari sang istri di rumah.


Pasti kau juga sangat merindukanku, sayang, bisik batin Reino senang.


Reino meraih ponsel dari atas meja.


"Nina? Untuk apa dia menghubungiku malam-malam begini?" gumam Reino heran begitu melihat nama Nina yang tertera di layar.


"Halo, Nin, ada apa?"


"Rei? Ah akhirnya kau mau mengangkat telponku. Kau tahu aku telah menunggumu bertahun-tahun lamanya. Apa kau sudah lupa pada janjimu..." terdengar suara Nina meracau di seberang sana.


"Apa maksudmu, Nin?" jawab Reino tidak mengerti maksud ucapan Nina.


"Rei, aku begitu mencintaimu....aku.... Bukankah dulu kau juga menginginkanku? Hah? Kenapa jadi begini..."

__ADS_1


Bicara apa dia? Apa dia mabuk?


"Nina? Apa kau sedang minum?"


Nina tertawa. Beberapa kali terdengar suara dentingan gelas beradu dengan meja.


"Aku cuma minum sedikit, Rei. Aku tidak mabuk. Aku masih waras..." kilah Nina.


"Nin, di mana kau sekarang? Halo...halo...?" ulang Reino saat suara Nina tiba-tiba menghilang.


Reino mencoba menghubungi kembali ponsel Nina. Ia merasa khawatir jika wanita itu benar-benar mabuk.


"Halo, Nin? Di mana kau?"


"Maaf, tuan. Apa anda mengenalnya? Nona ini ada di bar di lantai 8. Dia terlalu banyak minum." ujar seseorang yang menerima panggilan itu.


"Tolong jaga dia. Aku akan segera ke sana."


Dengan tergesa Reino berganti pakaian lalu segera menuju bar yang dimaksud orang itu. Dan benar saja, ia melihat Nina sedang mabuk berat di sana.


"Maaf tuan, sebaiknya anda bawa nona ini. Dia terlalu banyak minum." ujar seorang bartender di balik meja bar.


"Terima kasih. Ini untukmu." ucap Reino seraya memberikan sejumlah uang sebagai tips pada bartender itu.


Reino segera mengangkat tubuh Nina dan membawanya kembali ke kamar.


"Kamu jahat, Rei..." oceh Nina tanpa sadar saat Reino membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Maafkan aku, Nin. Aku harap suatu saat kau akan menemukan laki-laki yang baik untukmu.


Reino menutupi tubuh Nina dengan selimut. Terselip sedikit rasa iba di sudut hati Reino saat melihat keadaan wanita yang dulu pernah dicintainya itu.


"Rei...jangan pergi..." cegah Nina begitu ia sadar Reino hendak beranjak meninggalkannya. Ia mencoba untuk bangun namun tubuhnya sempoyongan dan kembali ambruk. Reino refleks menopang tubuh Nina agar tidak terjatuh.


"Istirahatlah, Nin. Jangan pikirkan apapun." nasehat Reino bijak.


"Tidak, Rei. Aku ingin bersamamu malam ini." ujar Nina seraya memeluk erat tubuh Reino.


"Jangan seperti ini, Nin. Aku masih menghargaimu sebagai teman." jawab Reino berusaha melepaskan tangan Nina.


"Sekali saja, Rei. Ijinkan aku bersamamu malam ini."


Dengan gerakan cepat Nina mencium bibir Reino, berusaha ********** dengan rakus.


"Hentikan, Nina! Kau melampaui batas!" bentak Reino dengan nada tinggi hingga membuat Nina tersentak.


Nina mematung di tempatnya berdiri saat melihat kedua bola mata Reino berkilat penuh emosi. Ia belum pernah melihat laki-laki itu marah sekalipun.


"Cukup, Nin!! Jangan pernah berani berbuat seperti ini lagi. Perlu kau tahu, perasaanku padamu sudah hilang sejak kau putuskan memilih laki-laki itu dulu. Terlebih lagi sekarang aku telah memiliki Kanaya. Dia adalah segalanya. Tidak ada tempat untuk perempuan lain di hatiku. Camkan itu baik-baik!" tegas Reino sebelum berlalu meninggalkan kamar Nina dengan rasa jengkel. Ia memutuskan untuk terbang kembali ke Jakarta malam ini juga.


"Rei! Tunggu! Maafkan aku!Aaargghhh!! Sialaaan!!! Dasar perempuan kampung!! Lihat saja nanti. Aku akan merebut Reino darimu!" teriak Nina kesal setelah Reino pergi meninggalkannya di kamar. Ia tidak menyangka bahwa laki-laki itu sudah benar-benar melupakannya.


Tenangkan dirimu, Nin. Kau masih punya satu kesempatan lagi.


Nina mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Bagaimana hasilnya? Apa foto-fotonya jelas?" tanya Nina.


.................


"Hmm..baguslah. Kirimkan padaku. Aku akan memberimu imbalan yang besar." ujar Nina dengan senyum penuh kemenangan.


Tunggulah Kanaya, aku akan memberimu kejutan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2