Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 47 BERPISAH SEBENTAR SAJA


__ADS_3

Sepanjang sore, Kanaya merapikan barang belanjaan yang tadi dibelinya di supermarket. Ia menata bahan-bahan makanan di lemari penyimpanan sementara Reino sesekali memperhatikan aktivitas istrinya dari balik layar laptopnya. Laki-laki itu sedang menikmati semangkuk mie instan berkuah plus telur mata sapi setengah matang sembari mengecek email dari rekanan bisnisnya.


"Gimana mas enak kan mienya?" tanya Kanaya saat melintasi meja makan. Ia melihat isi mangkuk suaminya hanya tinggal kuahnya saja.


"Iya, sayang, ini enak banget. Lain kali ditambah ya irisan cabenya." usul Reino memberi saran.


Ini pertama kalinya Reino makan hasil masakan sang istri. Kanaya memasak mie instan rasa soto kesukaannya dengan tambahan bahan lain seperti telur mata sapi, irisan cabe rawit, sawi dan bawang goreng. Dengan lahap Reino menyantapnya sambil terus menekuri laptop.


"Nanti lama-lama lidah mas akan terbiasa dengan rasa pedas. Kalo di kampung, rata-rata orangnya suka makan yang pedas-pedas mas. Ibaratnya nih mas, meskipun makan nggak ada ikannya, cukup dengan nasi dan sambel aja udah enak makannya."


Reino tersenyum saat mengingat makan malam pertamanya di rumah Kanaya. Makan malam yang hangat bersama keluarga kecil istrinya. Bukan masalah menu masakan yang dihidangkan di atas meja makan melainkan keakraban antar anggota keluargalah yang membuat hati Reino tersentuh.


"Kapan-kapan kita pulang kampung lagi ya, sayang?"


Kanaya yang sedang mengambil air minum untuk Reino pun menoleh.


"Benarkah, mas?"


"Tentu saja, sayang. Paling tidak satu bulan sekali kita pergi." ujar Reino seraya meletakkan mangkuk mie nya ke dalam bak cuci piring.


"Biar aku yang cuci, mas lanjutin aja kerjanya." sela Kanaya menyuruh Reino untuk kembali bekerja.


Namun, saat Kanaya mencuci mangkuk, Reino justru memeluknya dari belakang, menempelkan dagunya dengan manja di pundak sang istri.


"Sayang, apa malam ini kamu jadi menginap di tempat kosmu itu?"


Kanaya selesai mencuci mangkuk lalu segera mengeringkan tangannya dengan handuk kecil di dekat wastafel.


"Iya, mas. Kemarin aku sudah terlanjur bilang ke Rita kalo hari ini aku pulang ke Jakarta." jawab Kanaya seraya berbalik menghadap sang suami. Mengalungkan tangan ke leher Reino dengan mesra.


Reino mengecup sekilas bibir Kanaya.


"Terus aku gimana?"


"Mas di sini dulu. Paling tiga atau empat hari lagi aku pulang ke sini, mas. Boleh ya?"


"Baiklah, sayang. Tapi kamu harus cepat kasih tau Rita soal pernikahan kita ya? Aku nggak mau lama-lama pisah dari kamu."


"Iihh..manja banget sih, mas."


Reino memeluk tubuh Kanaya. Dielusnya punggung istrinya itu dengan lembut.

__ADS_1


"Manja sama istri boleh kan, sayang." bisiknya di telinga Kanaya.


"Udah ah, mas. Ayo sana selesaikan dulu kerjaannya. Aku mau lanjutin masukin barang belanjaan." Kanaya mendorong tubuh suaminya menjauh, memaksa Reino agar cepat menyelesaikan pekerjaan kantornya sementara ia akan kembali berkutat dengan bahan makanan yang dibelinya tadi.


...***...


Pukul 8 malam Kanaya bersiap-siap untuk menginap di tempat kosnya. Ia memasukkan koper yang berisi oleh-oleh untuk teman-teman dan ibu kos.


"Sayang, apa nggak bisa ditunda besok perginya? Malam ini ujan loh, sayang." rajuk Reino manja.


"Mas, aku udah terlalu lama cuti, nanti temen-temen bisa curiga. Mas sabar ya?" pinta Kanaya memasang wajah manisnya.


Reino beringsut bangun dari tempat tidur, membantu istrinya menutup koper yang penuh dengan oleh-oleh.


"Jangan lama-lama ya, sayang? Tiga hari!" ucap Reino memberi ultimatum.


Kanaya berseru senang.


"Siaaaap, bos." jawabnya jenaka membuat Reino tak segan segera menciumnya.


"Beri aku ciuman pengganti sekarang untuk kesepianku selama tiga hari ke depan."


"Iih mas Reino ada-ada aja, sih. Ya, udah sini." Kanaya bersiap memberikan ciuman di pipi untuk suaminya namun ternyata laki-laki itu berhasil menarik tubuhnya dengan cepat.


"Mas..."


"Maaf, sayang keenakan sih. Hehe."


Kanaya merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan akibat ulah suaminya.


"Ayo, mas, berangkat sekarang." ajak Kanaya sebelum keadaan semakin tak terkendali.


"Siaaap, nyonya!"


Tengah malam di tempat kos..


Rita dan Kanaya duduk berdua dia atas kasur. Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Keduanya tidak bisa tidur. Sejak Kanaya pulang, beberapa teman kos berkumpul di kamar mereka untuk sekedar ngerumpi berbagi cerita dan oleh-oleh. Ada beberapa makanan dan kue khas dari kampung halaman Kanaya. Semua penghuni kos mendapat jatah oleh-oleh darinya. Begitulah Kanaya, dikenal selalu ramah dan murah hati pada teman-temannya.


Kamar Rita dan Kanaya mulai sepi. Satu-persatu teman mereka telah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


"Nay, gimana kabar ayahmu?" tanya Rita.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Rit. Beliau udah pulih. Kondisinya membaik setelah operasi."


"Syukur deh kalo gitu. Oh ya, besok kamu masuk kerja?"


"He em. Aku udah lewat masa cuti, Rit. Pasti gajiku bulan depan dipotong. Hiks."


"Ya sabar aja. Kamu sih kelamaan pulangnya."


Kanaya tersenyum meringis. Rasanya ia tidak bisa menahan diri untuk bercerita tentang apa yang telah terjadi padanya sewaktu di kampung pada Rita.


Kalo aku udah siap pasti aku cerita ke kamu, Rit. Maaf ya.


"Ayo kita tidur, Rit. Biar besok nggak kesiangan."


Sebelum tidur Kanaya sempat melihat ponselnya. Deretan pesan dan panggilan masuk memenuhi berandanya. Tentu saja semua dari sang suami.


Panggilan Tak Terjawab Reino (7)


Reino


Selamat tidur sayang. Mimpi indah ya😘


Reino


Jangan tidur larut malam!


Reino


Besok aku jemput, berangkat ke kantor sama-sama.


Reino


Aku nggak bisa tidur sayang.


Kanaya mengulum senyum. Sebenarnya ia ingin membalas telepon dari suaminya sebelum tidur, tetapi ada Rita di sana. Akhirnya, ia hanya membalasnya pesan dengan singkat saja.


Kanaya


Maaf mas tadi hp nya dicharge. Mas cepet tidur. Sampai ketemu besok ya.😘😘


Pesan dari Kanaya belum sempat terbaca karena Reino sudah tertidur saat menunggu balasan dari istrinya tadi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2