
Sesuai janjinya pada Reino, Andini segera meluncur menuju apartemen putranya itu meskipun malam sudah semakin larut. Dengan diantar sopir, ia dan Rahardian memutuskan untuk menginap di rumah Reino.
"Mama? Papa? Tumben malam-malam kemari?" tanya Kanaya begitu ia membukakan pintu.
"Malam ini kami akan menginap di sini. Reino bilang kamu sakit tapi kamu tidak mau diperiksa dokter." omel Andini dengan alis berkerut.
Duh, mas Reino ada-ada saja. Cuma masuk angin begini sampai merepotkan orang tua.
"Maafin, Nay, ma. Nay nggak apa-apa, cuma masuk angin biasa." kilah Kanaya berusaha meyakinkan Andini.
"Sudah, kamu jangan bandel. Kamu sudah makan?"
"Sudah ma barusan. Nay juga sudah minum obat."
Andini meletakkan tasnya di atas meja lalu mendekati Kanaya. Dengan punggung tangannya, ia memeriksa kening Kanaya.
"Kamu tidak panas, Nay. Tapi wajahmu pucat. Apa masih pusing?"
Kanaya menggeleng.
"Sudah nggak pusing, ma. Cuma tadi sempat mual. Tapi setelah Nay makan buah yang ada di kulkas, perut Nay jadi enakan."
"Mual? Apa ada sesuatu yang kamu muntahkan?" tanya Andini lebih detail.
"Nggak ada, ma. Cuma air aja. Pahit rasanya."
Jangan-jangan menantuku ini sedang hamil, batin Andini senang.
"Nay, kapan terakhir kali kamu haid?" todong Andini terus terang.
Haid? Kapan ya?
"Nay, lupa ma. Tapi sepertinya bulan kemarin Nay belum haid." akunya jujur.
"Wah, sepertinya kita akan segera dapat cucu, pa."
"Cucu? Maksud mama?" tanya Kanaya polos.
__ADS_1
"Aduh, kamu ini Nay. Sepertinya kamu ini sedang hamil sayang. Besok pagi ikut mama ke dokter langganan Wanda. Kamu harus segera di periksa."
"Tapi, ma..."
"Jangan membantah. Sekarang istirahatlah."
"Iya, ma. Nay ke kamar dulu ya."
Usai berpamitan kepada Andini dan Rahardian, Kanaya kembali ke kamar sambil terus memikirkan ucapan sang ibu mertua tadi.
Benarkah aku hamil? Aku mengandung anak mas Reino? Ya Tuhan, semoga ini benar.
...***...
Setelah menunggu beberapa menit, Kanaya akhirnya dipanggil masuk ke sebuah ruangan ditemani Andini. Keduanya menunggu dokter Syifa di meja kerjanya.
"Selamat pagi, tante." sapa seorang perempuan berhijab seusia Wanda.
"Pagi, sayang. Kenalkan, ini menantu tante, istrinya Reino."
"Oh, ya? Saya dr. Syifa."
"Syifa, coba kau periksa menantuku ini. Sepertinya dia sedang hamil."
"Benarkah? Kalau begitu berbaringlah di sana, kita mulai pemeriksaannya."
Dengan sabar dan telaten, Andini menemani Kanaya selama pemeriksaan. Ia nampak tak sabar menunggu hasilnya.
"Bagaimana, sayang?" tanya Andini tanpa basa-basi begitu melihat dokter Syifa kembali.
"Selamat, tante. Sebentar lagi tante akan memperoleh cucu lagi."
"Alhamdulillah. Nay, kamu hamil sayang!" pekik Andini bahagia. Dipeluknya Kanaya dengan erat. Tak terasa bulir bening mengalir di sudut mata tuanya.
"Nay hamil, ma? Benarkah dokter?" tanya Kanaya tak percaya pada pendengarannya.
Dokter Syifa tersenyum lalu mengangguk yakin.
__ADS_1
"Kamu sedang hamil 2 bulan. Pada trimester pertama ini kamu harus berhati-hati menjaga janin dalam kandunganmu karena pada usia ini kondisi janin masih lemah. Kamu harus makan dengan gizi yang seimbang dan perbanyak istirahat. Kurangi aktifitas yang menyita tenaga dan pikiran ya?" ujar dokter Syifa menjelaskan.
"Baik, dok. Terima kasih nasehatnya." ucap Kanaya bahagia.
"Kami pamit dulu, sayang. Terima kasih atas waktumu." pamit Andini sebelum meninggalkan ruangan dokter Syifa.
Andini dan Kanaya segera pulang untuk memberitahu Rahardian tentang berita bahagia ini.
"Ma, tolong jangan beritahu mas Reino dulu ya? Nay ingin kasih kejutan sepulang mas Reino dari Batam nanti." pinta Kanaya pada Andini saat keduanya dalam perjalanan pulang.
"Tentu saja, sayang. Dia pasti bahagia mendengar berita ini."
Cepatlah pulang, mas. Aku tidak sabar untuk memberitahumu.
Sementara itu di kota Batam...
Reino dan Nina sedang mengunjungi lokasi proyek dengan ditemani beberapa orang staf kantor. Mereka berdua sibuk berkeliling ke seluruh lokasi meninjau kesiapan pembangunan proyek kerja sama itu.
"Semua sudah siap, Rei. Proses pembangunannya tidak akan melewati deadline yang telah kita sepakati." jelas Nina saat keduanya berjalan menuju parkiran mobil. Mereka berdua akan segera kembali ke hotel.
"Aku harap juga begitu. Aku tidak ingin membuang-buang waktu."
"Oh, ya, Rei. Sebelum kembali ke Jakarta besok, bagaimana kalau malam ini kita makan malam di luar? Bukankah kau sudah janji padaku?" ajak Nina sedikit merajuk.
Sebenarnya Reino enggan pergi. Pikirannya sedang tertuju pada sang istri di rumah karena seharian ini ia sangat sibuk hingga tidak sempat menghubungi Kanaya untuk menanyakan keadaannya. Tetapi ia juga merasa tidak tega jika harus menolak ajakan Nina untuk yang kedua kalinya.
"Baiklah, Nin, tapi kita kembali ke hotel dulu." pinta Reino.
Baguslah, ini dia kesempatanku.
"Aku akan memesan tempat, Rei."
"Terserah kau saja, Nin."
Nina terlihat sibuk dengan ponselnya, mencari restoran untuk makan malam sementara Reino sedang menikmati pemandangan sore yang terlihat indah di luar kaca mobilnya.
Bagaimana kabarmu hari ini, sayang? batin Reino merindukan Kanaya.
__ADS_1
...----------------...