Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 37 BERKEMAS


__ADS_3

Suasana ruang tamu menjadi hening setelah Galih menceritakan semua yang dikatakan Reino. Pak Dibyo bersandar ke sandaran sofa, mengelus-elus janggutnya yang sudah bercampur uban itu.


"Jadi Kanaya sudah punya pacar? Lalu bagaimana menurutmu? Apa kita mundur saja?"


Galih menoleh.


"Apa yang bapak katakan? Aku tidak akan mundur, pak!"


Pak Dibyo menarik nafas panjang. Sesungguhnya, ia bahagia karena perjodohan Galih dan Kanaya akan semakin mempererat persahabatan dirinya dengan pak Karno. Tetapi, jika hal ini mengorbankan perasaan Kanaya sendiri, ia tidak tega.


"Tapi le, apa kamu tidak kasihan sama Kanaya? Dia sudah mencintai orang lain."


Galih mendengus kesal. Dimatikannya rokok yang baru terbakar setengah itu. Ia tidak menyangka sang ayah akan berpendapat demikian.


"Maaf aku tidak setuju dengan bapak. Kanaya bisa saja menolak dijodohkan denganku kemarin. Tapi kenyataannya dia menerimanya kan? Itu berarti aku masih punya kesempatan untuk mengambil hatinya."


"Terserah kamu le. Tapi ingat jangan pernah menyakiti hati Kanaya. Bapaknya itu sudah sangat percaya sama kamu. Pikirkan baik-baik." nasehat pak Dibyo akhirnya, mengalah pada sifat keras kepala putranya.


Pak Dibyo beranjak meninggalkan Galih sendirian di ruang tamu. Ia ingin putranya bisa berpikir jernih menanggapi masalah ini.


...****...


Kanaya sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam koper saat terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Ia mengintip dari jendela kamar yang kebetulan menghadap ke arah halaman depan.


"Assalamualaikum." suara Reino jelas terdengar hingga ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam."


Sang ibu tergopoh-gopoh keluar dari dapur untuk membuka pintu.


"Maaf, bu, Kanaya ada?" sapa Reino ramah seraya menyerahkan sebuah paper bag kepada beliau.


"Ada, nak. Mari masuk biar ibu panggilkan Nay dulu. Dia sedang berkemas karena besok harus pulang ke Jakarta."


Sebelum sang ibu masuk, Kanaya sudah keluar terlebih dulu dari kamarnya.


"Mas, Reino.." sapa Kanaya saat mendapati laki-laki itu sedang mengamati sebuah foto lamanya di dinding ruang tamu dengan seksama.


"Ini siapa?" tanya Reino sambil menunjuk foto seorang anak perempuan berseragam putih biru.


"Aku mas. Kenapa memang?"

__ADS_1


Reino mengulum senyum. Sejenak ia mengamati Kanaya yang sedang berdiri di hadapannya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Senyumnya berubah menjadi tawa nakal. Sambil setengah berbisik Reino mengatakan sesuatu di telinga Kanaya.


"Kamu dari dulu emang gemesin rupanya."


Kanaya cemberut. Dilihatnya kembali foto lama itu. Tubuh yang tidak terlalu tinggi dan badan sedikit berisi membuat Kanaya terlihat bulat.


"Biariiin." sungutnya kesal karena Reino menertawainya.


Kanaya duduk di ujung sofa sementara Reino mengambil tempat duduk di seberang gadis itu.


"Mas,"


"Iya, sayang?"


Kanaya melotot mendengar Reino berbicara seperti itu. Ditaruhnya jari telunjuk di depan bibirnya untuk memperingatkan Reino.


"Sstt....ada bapak, mas. Jangan ngomong gitu!" protes Kanaya.


"Jadi kalo nggak ada bapak masih boleh ya panggil 'sayang'??"


Kanaya semakin melotot menanggapi tingkah Reino yang kekanakan.


Reino melangkah menuju sofa lalu duduk. Kanaya memperhatikan air muka laki-laki itu berubah.


"Aku menemui Galih di rumahnya."


"Apaaa? Apa yang kamu lakukan mas? Mas tahu akibatnya kan?"


Reino melirik sekilas ke arah kamar pak Karno. Khawatir beliau keluar kamar tiba-tiba.


"Kamu tenang dulu, sayang. Aku tahu yang aku lakukan. Aku tidak akan membiarkan Galih memilikimu. Aku tidak rela."


Kanaya memijit keningnya yang terasa pening. Masalah ini begitu pelik. Ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Yang jelas, statusnya sekarang adalah calon istri Galih meskipun dalam hati ia tak mau menerimanya.


"Nak, Reino?" sapa sebuah suara mengejutkan keduanya.


"Iya, pak. Maaf mengganggu. Saya hanya ingin tahu apa Kanaya besok jadi pulang ke Jakarta. Kalau memang jadi pulang biar bareng saya pak."


"Wah, baguslah kalau ada teman seperjalanan. Tolong jaga Kanaya."


"Baik, pak."

__ADS_1


Tak lama ibu Kanaya memanggil suaminya, memberitahu jika ada telepon untuknya.


"Siapa yang telepon bu?" tanya Kanaya ingin tahu.


Sang ibu tidak langsung menjawab pertanyaan Kanaya. Ia menoleh ke arah Reino dengan tatapan tak enak hati.


"Da..dari Galih, nduk." jawabnya terbata.


Reino menarik nafas dalam-dalam, teringat adu mulutnya dengan pria itu.


Mau apa dia menelepon pak Karno?? Apa dia mau mengadu?? Dasar pengecut!!


Pak Karno kembali ke ruang tamu setelah menerima telepon dari Galih.


"Nduk, itu tadi telepon dari Galih. Dia menyampaikan sesuatu yang mengejutkan bapak,"


Reino, Kanaya dan sang ibu saling pandang menunggu kelanjutan ucapan pak Karno yang masih menggantung.


"Ada apa toh pak bikin penasaran saja." sahut ibu Kanaya tak sabar.


"Sepertinya kepulanganmu harus ditunda, nduk. Galih ingin kalian menikah dulu secara agama, baru kamu kembali ke Jakarta."


Menikah??? Lelucon macam apa ini??? Kurang ajar kau Galih!! umpat Reino dalam hati.


"Menikah?? Tapi kenapa mendadak, pak? Kan bisa dibicarakan dulu? Lagian Kanaya sudah habis masa cutinya." sela sang ibu berusaha menggagalkan keinginan sepihak Galih.


Pak Karno menarik nafas panjang. Memang benar ucapan istrinya itu. Pertunangan antara Kanaya dan Galih baru dilaksanakan kemarin. Menurutnya, mereka masih harus diberi waktu untuk saling mengenal lebih jauh sifat dan pribadi masing-masing.


Sementara itu wajah Kanaya terlihat cemas. Ia meremas ujung bajunya. Jujur, ia tidak ingin menikah dengan Galih. Dengan wajah memelas ia menatap Reino untuk meminta dukungan laki-laki itu.


Bersabarlah sayang, aku tidak akan membiarkan kamu jatuh ke pelukan Galih. Cih! Aku tak sudi.


"Baiklah, nduk. Bapak akan bicara dengan pakde Dibyo."


"Terima kasih, pak." ucap Kanaya bersyukur.


"Bu, bapak mau keluar sebentar ke rumah Dibyo. Tolong panggilkan Misdi." pinta pak Karno meminta dipanggilkan tukang ojek langganannya yang setia mengantarkan beliau kemanapun ia pergi.


"Biar saya antar, pak. Saya bawa mobil." sahut Reino menawarkan diri.


Akhirnya Reino lah yang mengantar pak Karno ke rumah pak Dibyo untuk merundingkan masalah pernikahan anak-anak mereka.

__ADS_1


__ADS_2