
Malam itu, Reino tidak bisa tidur, ia menunggu telepon dari Bram. Sejak siang belum ada kabar tentang misi yang diperintahkannya pada pria itu.
Kenapa kau lamban sekali, Bram! gerutunya membatin.
Dengan satu gerakan tangan cepat, Reino menyambar Hp dari tempat tidur lalu menghubungi Bram.
"Halo, Bram! Kenapa belum ada kabar??"
…
"Cepatlah!! Jangan buang-buang waktu!"
...
Reino memutus sambungan telepon. Bram memberi informasi kalau ia menemukan tempat tinggal Galih dan ia akan menjemput bosnya itu untuk segera menuju kediaman keluarga Dibyo.
Dengan wajah tak sabar Reino turun dari mobil setelah Bram membukakan pintu untuknya.
"Ini bos rumahnya."
Reino membuang rokok yang baru setengah dihisapnya. Sebenarnya sudah lama ia tidak menyentuh rokok. Namun, jika berada dalam kondisi seperti sekarang ia membutuhkannya.
"Tunggu di luar, aku masuk sendiri." perintahnya tegas di jawab anggukan oleh Bram.
Reino mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka lebar. Muncul seorang wanita paruh baya menanyakan keperluannya.
"Aku ingin bicara dengan Galih." ucap Reino singkat.
"Baik, den. Silahkan duduk. Saya panggilkan tuan Galih."
"Siapa, bi?" tanya Galih saat bi Mina memberitahunya bahwa ada seseorang yang mencari dirinya.
__ADS_1
"Kurang tahu bibi, den. Laki-laki. Sepertinya seumuran dengan den Galih."
Galih mengeryitkan kening, merasa heran siapa gerangan yang bertamu di rumahnya malam-malam begini.
"Maaf, anda siapa?" tanya Galih begitu keduanya bertatap muka di ruang tamu.
Reino yang sedang duduk segera berdiri mengulurkan tangan. Galih menyambutnya dengan perasaan bertanya-tanya.
"Reino."
Reino? Siapa dia?
"Aku kekasih Kanaya!" tegasnya tanpa basa-basi.
Kekasih? Tunggu dulu! Rupanya dia mengigau.
"Maaf! Mungkin kamu salah orang. Kanaya adalah tunanganku." terang Galih dengan nada sedikit meninggi.
Mendengar nama Kanaya disebut sebagai tunangannya, Reino mulai tak sabar. Darahnya mulai naik.
Galih tersenyum dengan angkuh.
"Apa orang tua Kanaya tahu tentang ini?"
"Ibunya tahu."
"Berarti pakde Karno belum tahu masalah ini?" senyum kemenangan menghias di wajah Galih saat menyadari dirinya memegang kartu as untuk menghadapi laki-laki ini.
"Aku akan bicara dengan ayah Kanaya secepatnya."
Dengan langkah santai Galih menuju sofa. Ia duduk sambil menyilangkan kaki dengan sombongnya.
__ADS_1
"Apa kau tidak tahu pakde Karno menderita sakit jantung?"
Senyum kemenangan tersungging di bibir Galih. Ia yakin Reino akan berpikir seribu kali untuk mengatakan semuanya pada ayah Kanaya karena bisa berakibat fatal pada kesehatannya.
Sial!! umpat Reino dalam hati.
Tentu saja ia tak mungkin bisa memberitahu ayah Kanaya tentang hal ini. Resikonya terlalu besar. Ia tak mau Kanaya membencinya.
"Kau tidak ingin sakit jantungnya kambuh kan? Dia dan ayahku adalah kawan lama. Tentu dia akan lebih memilih persahabatan mereka berdua kan? Jadi, sebaiknya kau tinggalkan saja Kanaya. Biarkan dia berbahagia bersamaku."
"Tutup mulutmu!! Jangan mengira aku akan tinggal diam!" seru Reino naik pitam. Tangannya mengepal menahan amarah.
"Jangan buang-buang waktu dan energimu. Lebih baik kau kembali ke Jakarta dan lupakan gadisku."
"Diam kau!! Jangan berani-berani menyebutnya gadismu!! Dia tidak pernah mencintaimu!"
"Aku tak peduli. Yang jelas cepat atau lambat kami akan menikah, bukan? Jadi sebaiknya tinggalkan Kanaya."
"Kurang ajar sekali kau ya!"
Bram yang berjaga di depan pintu mendengar suara kedua orang di dalam yang mulai meninggi pun langsung masuk ke dalam. Ia hafal betul sifat bosnya itu. Jika sedang emosi bisa berbahaya.
"Tenang dulu, Bos. Sebaiknya kita pergi dari sini." ujar Bram menahan Reino yang sudah bersiap melayangkan pukulan. Kedua mata Reino memerah karena marah.
"Ini belum selesai, Galih. Urusan antara kau dan aku belum selesai!!" ancam Reino seraya menunjuk wajah Galih dengan gusar.
Mendengar suara gaduh di ruang tamu, pak Dibyo keluar dari kamarnya namun hanya menemukan sang anak sendirian di sana.
"Ada apa ribut-ribut, Galih?" tanya pak Dibyo penasaran.
"Ada orang datang kemari dan mengaku pacar Kanaya, pak."
__ADS_1
"Apa? Pacar?"
Galih mengambil sebatang rokok di meja lalu menyulutnya.