
Maya sedang menerima telepon saat Dewi masuk ke ruangannya. Di tangannya ada nampan berisi makan siang untuk Reino.
"Masuk aja." ucapnya berbisik sambil menutup speaker telepon dengan sebelah tangannya.
Tok..tok...tok...
"Masuk!" Reino menjawab dari dalam ruangannya, tangannya masih sibuk membubuhkan tanda tangan pada berkas-berkas yang ada di atas meja.
Dewi meletakkan piring makan siang Reino tanpa bersuara. Sekilas ia melirik si bos sambil senyum-senyum sendiri mengingat cerita Kanaya barusan.
Reino menyadari tingkah aneh karyawannya itu.
"Ada apa, Dewi? Kenapa kamu senyum-senyum?"
Dewi salah tingkah.
"Maaf, pak. Tidak ada apa-apa. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi...saya cuma ingin mengucapkan selamat atas pernikahan bapak dengan Kanaya." akhirnya berani juga Dewi bicara meski sebenarnya ia takut Reino marah.
Reino tersenyum. Diletakkannya pena kembali ke tempatnya semula.
"Terima kasih. Rupanya istriku sudah memberitahu kalian ya?"
Dewi mengangguk.
"Baguslah kalau kalian sudah tahu. Aku ingin kamu dan Rita selalu mendukung Kanaya. Kalian berdua adalah orang yang paling dekat dengannya."
"Tentu saja, pak. Jangan khawatir. Dia sudah seperti adik saya sendiri."
Reino merasa lega karena Kanaya dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan perhatian padanya.
"Kamu boleh pergi. Oh, ya, tolong minta Kanaya segera kemari."
"Baik, pak. Saya permisi."
Kamu beruntung, Nay punya suami ganteng dan baik hati. Bakal banyak yang patah hati nih kalo tau pak Reino sudah menikahi Kanaya. 😍
Reino berpindah duduk di sofa. Dilepasnya jas yang melekat di tubuhnya yang atletis itu. Hari ini benar-benar melelahkan. Ia ingin beristirahat sejenak untuk makan siang, karena sejak pagi ia belum sempat makan apapun.
"Assalamualaikum, mas." kepala Kanaya menyembul dari balik pintu menunggu ijin masuk dari si pemilik ruangan itu.
"Wa'alaikumsalam. Masuklah, sayang."
Kanaya menutup pintu besar itu perlahan dan segera menghampiri sang suami yang sedang menikmati makan siangnya.
"Kemarilah." Reino menepuk sofa agar Kanaya duduk lebih dekat dengannya.
"Mas, nanti ada mbak Maya loh. Malu ih."
"Nggak apa-apa, sayang. Biar aja Maya tau. Sini." ulangnya sekali lagi memberi isyarat agar istrinya itu mendekat.
Kanaya pun menurut. Ia duduk di sebelah suaminya.
__ADS_1
"Kamu udah makan, sayang?"
Kanaya menggeleng. Ia memang belum sempat makan siang barusan karena Dewi menyuruhnya segera ke ruangan Reino.
"Mas, nyuruh aku ke sini, jadi aku belum sempat makan di kantin."
"Ayo buka mulutmu." titah Reino seraya menyuapkan makanan ke mulut istrinya.
"Nggak usah mas. Mas makan aja. Nanti aku bisa makan di kantin."
"Cerewet, ayo buka mulut."
Mau tak mau Kanaya menerima suapan nasi dari tangan suaminya. Dalam hati ia merasa terharu mendapat perhatian yang begitu besar dari sang suami. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan atas kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang ini.
"Kenapa kamu malah nangis, sayang? Ada apa?" selidik Reino melihat air mata menggenang di medua mata istrinya.
Kanaya mengusap air mata dengan punggung tangannya.
"Aku nggak apa-apa, mas. Hanya saja, apa yang terjadi di hidupku saat ini rasanya bagaikan mimpi."
Reino meletakkan piringnya di meja lalu meraih kedua tangan Kanaya.
"Lihat aku, sayang. Aku nyata di sini. Dan bisa menikahimu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Kau harus yakin itu."
Kanaya mengangguk. Air mata yang dihapusnya tadi malah semakin berjatuhan membasahi kedua pipi. Kanaya merengkuh pundak Kanaya, berusaha memberinya ketenangan.
"Terima kasih, mas." ucap Kanaya, bersandar di dada sang suami.
Kruukkk...kruukk...
Tiba-tiba terdengar bunyi keroncongan dari perut Reino hingga membuat keduanya spontan tertawa lepas.
"Maafin aku, mas. Seharusnya aku ada di rumah melayanimu."
"Makanya cepatlah pulang, sayang. Aku kangen banget sama kamu." bisiknya genit.
"Gombaaal. Udah ayo dimakan nasinya, mas." seru Kanaya, mengambil piring dari atas meja lalu berganti menyuapi sang suami.
Siang ini berlalu dengan romantis dan menyenangkan bagi Kanaya dan Reino. Sementara di luar ruangan, Maya tersenyum mendengar tawa lepas si bos dan istrinya itu.
Semoga mereka selalu bahagia, do'a Maya dalam hati.
...***...
"Ayo, mas kita pulang." ajak Kanaya begitu ia masuk ke dalam mobil Reino.
Reino membantunya memasang sabuk pengaman.
"Tadi temanmu itu bilang apa, sayang?" tanya Reino sambil melajukan mobilnya meninggalkan restoran tempat Kanaya bekerja.
"Siapa? Kak Bisma?"
"Iya." jawab Reino singkat.
Hmm..jadi mas Reino liat waktu kak Bisma bicara padaku.
__ADS_1
"Nggak ada, mas. Dia cuma tanya kenapa aku berhenti kerja. Ya, aku bilang aja kalo aku dapet kerja lain yang tempatnya lebih deket sama kos, gitu." ujar Kanaya menjelaskan. Ia menoleh ke arah Reino, namun suaminya itu tak bergeming, pandangannya lurus ke depan.
Apa mas Reino masih cemburu sama kak Bisma?
"Kenapa nggak bilang aja kalo kamu udah nikah sama aku sekarang. Jadi nggak perlu repot-repot kerja lagi."
Kenapa jadi sensi begini, sih.
"Mas cemburu ya?"
"Ah, nggak. Ngapain juga cemburu."
Nggak cemburu tapi nada bicaranya sewot melulu. Sebel.
"Ya, udah. Kalo gitu anter aku pulang ke kosan ya mas?"
"Iya."
Tuh, kan. Masih ngambek. Dasar bayi gede.
Sepanjang perjalanan pulang Reino tak bersuara. Kanaya menarik nafasnya dalam-dalam berusaha memahami suaminya.
Maafkan aku mas. Aku janji secepatnya jika aku sudah merasa siap, aku akan memberitahu semua orang tentang pernikahan kita.
"Mas, hati-hati ya pulangnya. Jangan lupa makan." pamit Kanaya sesaat sebelum turun dari mobil.
Reino mengangguk tanpa bicara. Melihat sikap dingin suaminya, Kanaya urung keluar dari mobil. Ia meraih tangan sang suami.
"Mas marah ya sama aku?"
Reino menoleh, Kanaya menatapnya dengan lekat. Bola matanya yang bulat memandang suaminya dengan tatapan sedih. Reino tak tega melihatnya.
"Aku nggak marah, sayang. Udah kamu masuk, gih. Istirahat. Besok aku pagi aku jemput." suaranya mulai melunak. Ia berusaha meredakan rasa cemburunya yang memang tak beralasan.
"Iya, mas. Mas hati-hati ya?"
Reino menarik tengkuk Kanaya, mendaratkan kecupan singkat dan lembut di bibir sang istri.
Kanaya tersenyum melihat suaminya sudah kembali normal. Dibalasnya kecupan Reino dengan ciuman hangat yang sedikit lebih lama.
Kamu sudah mulai pintar ya sayang, batin Reino senang.
Reino tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tangannya memeluk pinggang sang istri agar ia leluasa mencium bibir Kanaya yang terasa memabukkan baginya.
"Mas.."
Kanaya menghentikan ciumannya dengan terpaksa. Ia tahu jika diteruskan suaminya tidak akan bisa menahan diri lagi.
"Hmm..iya, maaf sayang."
Reino mengusap bibirnya dengan ibu jari. Tersungging senyuman nakal di sana dan Kanaya memahami itu.
"Aku masuk dulu ya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Reino mengemudikan mobilnya pulang menuju apartemen dengan hasrat yang masih tertahan. Ia berharap Kanaya bisa segera pulang bersamanya. Ia merasa tak tahan lagi berjauhan dengan istrinya itu dalam waktu lama.
...----------------...