
Sore itu Kanaya pulang ke rumah tanpa menunggu Reino. Sesampainya di rumah, ia sengaja menyibukkan dirinya di dapur, memasak untuk makan malam mereka berdua. Sejenak, ia ingin melupakan beban di hatinya.
Kanaya mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas lalu mulai mengolahnya. Keahlian memasak Kanaya tak perlu diragukan lagi. Ia mewarisinya dari sang ibu di kampung.
"Assalamualaikum, sayang." tiba-tiba Reino muncul di dapur mengejutkannya. Kanaya sendiri tak mendengar saat suaminya datang.
"Wa'alaikumsalam." singkat saja Kanaya menjawab.
Pandangannya tetap tertuju pada masakan yang sudah hampir matang di atas kompor itu.
Reino tahu istrinya itu sedang marah besar. Tidak ada senyuman sedikitpun yang menghiasi bibir Kanaya.
"Masak apa, sayang?" tanya Reino masih berusaha mencairkan kebekuan namun sepertinya suasana hati Kanaya benar-benar buruk sekarang.
"Masak ayam kecap, mas." jawabnya singkat.
Reino mendekati Kanaya yang sedang mengaduk-aduk masakannya lalu memeluknya dari belakang.
"Mas! Minggir! Aku belum selesai." tandasnya ketus, membuat Reino mau tak mau melepaskan pelukannya.
"Baiklah, sayang, aku mandi dulu ya?"
"Iya!"
Reino sementara memilih menghindar karena Kanaya benar-benar marah padanya. Ia menuju kamar untuk membersihkan diri.
"Ya, Allah, maafkan aku. Tidak seharusnya aku berbicara kasar pada suamiku." ucapnya pada dirinya sendiri, menyesali kata-katanya tadi.
Tapi ketidak jujuranmu telah menyakitiku, mas.
Kanaya segera menyiapkan makan malam di meja lalu memanggil suaminya untuk makan malam.
"Mas, makan dulu. Udah aku siapin di meja."
Kanaya bicara tanpa menatap wajah suaminya.
"Mau kemana, sayang?" cegah Reino menahan tangan Kanaya saat akan pergi.
"Aku mau mandi, mas. Mas makan aja dulu." jawab Kanaya melepas pergelangan tangannya dari genggaman Reino.
"Aku akan menunggumu di meja makan."
"Terserah mas saja."
__ADS_1
Kanaya segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hampir satu jam Reino menunggu Kanaya di meja makan namun istrinya itu tak juga keluar dari kamar. Reino bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kamar.
"Sayang?" panggilnya begitu ia membuka pintu kamar.
Reino mendapati Kanaya sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Sayang?" ulangnya seraya menyentuh pundak sang istri perlahan.
Kanaya tak bergeming. Air mata kembali mengalir di sudut matanya.
"Nay...lihat aku." pinta Reino dengan suara lembut.
Kanaya duduk berhadapan dengan sang suami. Wajahnya menunduk, namun ia sudah tidak bisa menyembunyikan isaknya lagi.
Tangisnya pun pecah. Reino mendekat, merengkuh tubuh Kanaya ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, sayang. Aku tau aku sudah berbohong padamu. Tapi aku bisa menjelaskan semuanya." terang Reino berusaha menenangkan.
"Jadi mas benar-benar membohongiku?" Kanaya menatap bola mata Reino dengan wajah berlinang air mata.
"Tega sekali kamu, mas!" seru Kanaya penuh emosi seraya memukul dada sang suami.
"Maafkan aku, sayang. Tolong maafkan aku. Aku hanya ingin menjaga perasaanmu saja."
"Lepaskan aku, mas!" protes Kanaya, berusaha menjauhkan diri dari dekapan Reino.
"Sekarang aku ingin kejujuran mas. Apa yang mas sembunyikan dariku?!"
"Iya, sayang. Aku akan menceritakan semuanya padamu."
Reino mengusap lembut air mata yang masih saja menitik di sudut mata istrinya itu.
"Kamu ingat wanita yang ada di ruanganku tadi?"
Kanaya mengangguk. Tentu saja ia masih ingat wanita berparas cantik yang juga pernah menabraknya waktu itu.
"Dia adalah Karenina, teman baikku. Kami berteman sejak awal masuk kuliah di salah satu kampus di London. Kami berdua cukup dekat..."
"Mas pasti menyukainya!" potong Kanaya cepat dan penuh emosi.
Reino menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha memilih kata-kata yang tepat agar tidak membuat emosi istrinya semakin menjadi.
__ADS_1
"Aku memang jatuh hati padanya. Tapi aku tak pernah berani mengutarakan perasaanku padanya hingga suatu ketika, Nina datang padaku dan bercerita. Ternyata dia telah lebih dulu mencintai orang lain. Akhirnya akupun mengubur dalam-dalam perasaanku, Nay. Selama bertahun-tahun hingga akhirnya kami lulus kuliah dan menjalani hidup masing-masing. Sejak saat itu kami tak pernah bertemu sekalipun." akhirnya Reino menceritakan semuanya pada Kanaya tanpa ada satupun yang ditutupi. Terutama kejadian kemarin malam saat Nina membutuhkan bantuannya.
Kanaya terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Perasaannya sedang berkecamuk sekarang.
"Lantas, apa yang mas rasakan sekarang setelah bertemu lagi dengannya?" tanya Kanaya penuh perasaan takut. Ia sesungguhnya merasa tidak siap mendengar bila ternyata Reino masih mencintai wanita itu.
"Sayang, percayalah padaku. Sejak pertama kali aku bertemu denganmu, sejak saat itulah aku telah jatuh cinta padamu. Aku sudah melupakan perasaanku pada Nina jauh sebelum aku mengenalmu, Nay."
"Benarkah itu, mas? Tapi aku merasa tidak sebanding dengannya, mas. Dia itu wanita yang sangat cantik dan anggun. Dia juga berpendidikan tinggi. Dia lebih cocok bersanding denganmu, mas." ujar Kanaya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak pernah membandingkanmu dengan siapapun, sayang. Kamu adalah satu-satunya wanita yang sangat berharga di dalam hidupku sekarang."
"Mas, aku tidak tau harus bilang apa lagi. Jujur aku sangat takut kalo mas pergi meninggalkanku suatu saat nanti."
Reino menangkup wajah Kanaya dengan kedua tangannya, menatapnya lekat.
"Dengarkan baik-baik ucapanku ini. Aku adalah suamimu, Nay. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkanmu." janji Reino.
Kanaya mengangguk. Ia berusaha untuk mempercayai kata-kata suaminya. Dipeluknya Reino dengan erat untuk menghilangkan beban di hatinya.
"Maafkan aku, sayang. Seharusnya sejak awal aku menceritakan semuanya padamu." ujar Reino sambil mengelus punggung istrinya itu.
"Maafkan aku ya, mas. Seharian ini aku mengacuhkanmu."
Reino mencium puncak kepala Kanaya, lalu memeluknya lagi.
"Mulai saat ini, jangan pernah menyembunyikan apapun dariku, mas."
"Iya, aku janji, sayang. Sekarang ayo kita makan. Perutku lapar sekali." ajak Reino mengangkat tubuh Kanaya, membawanya ke ruang makan.
"Jadi mas belum makan malam?"
"Bukankah tadi aku sudah bilang, aku akan menunggumu nyonya Reino? Kau harus bertanggung jawab jika aku sampai mati kelaparan." ancam Reino sambil tertawa lepas.
"Isshh..mas ini. Mana mungkin kamu mati kelaparan hanya karena melewatkan makan malam, mas?!"
Keduanya tertawa bersama. Reino menurunkan istrinya di dekat meja makan.
"Silahkan, tuan. Makan malam anda sudah siap." ujar Kanaya.
Reino bersemangat menyantap masakan istrinya yang nampak menggugah selera makannya.
"Lama-lama aku bisa gendut, sayang."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, mas. Itu tandanya mas bahagia bersamaku." ucap Kanaya asal lalu mendapat cubitan di hidungnya.
...----------------...