
Reino menarik tangan Kanaya, membawanya dengan sedikit paksaan menuju mobil meski istrinya itu berusaha meronta melepaskan diri. Ia akan membawa Kanaya pulang ke rumah.
"Mas, lepaskan tanganku." protes Kanaya ketika Reino mencekal pergelangan tangannya dengan erat.
Kali ini Reino benar-benar tak peduli lagi. Ia terus berjalan, mengacuhkan beberapa karyawan yang sedang menatapnya dengan heran.
"Jangan ada yang berani bergosip di kantor ini!" ucap Reino memberi ultimatum kepada beberapa karyawan yang sedang berbisik membicarakan dirinya.
"Mas! Jangan macam-macam!" ucap Kanaya memohon.
"Maaf, Nay. Aku tidak bisa menyimpannya lagi." Reino tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Karyawan lain yang baru saja datang malah ikut berkerumun dan saling berbisik.
Ada apa ini? batin mereka bertanya-tanya.
*Bukankah itu Kanaya, si cleaning service itu?
Kenapa pak Reino bersama dia sih??
Sepertinya ada sesuatu di antara mereka berdua*!
Reino menarik nafas panjang. Dilihatnya wajah sang istri yang sedang menatap tajam ke arahnya. Kanaya menggeleng pelan mengisyaratkan pada suaminya agar tidak mengatakan apapun di hadapan mereka.
"Kalian lihat baik-baik wanita di hadapanku ini," ujar Reino tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Kanaya sedikitpun, "perlu kalian ketahui, dia adalah istriku." dengan tegas akhirnya Reino mengumumkan di hadapan semua orang siapa Kanaya sebenarnya.
Kanaya membelalakkan kedua matanya, ia benar-benar terkejut mendengar ucapan Reino barusan.
"Mas..."
"Mulai detik ini, jangan pernah lagi bergunjing tentangnya. Kalian mengerti?!" ujar Reino menatap satu-persatu wajah-wajah yang ada di sana. Semua orang mengangguk ragu, antara rasa patuh dan takut oleh tatapan tajam Reino.
"Ayo, sayang."
__ADS_1
Reino menggenggam jemari tangan Kanaya lalu segera membawanya keluar dari gedung RR group.
Setelah keduanya menghilang dari pandangan, keriuhanpun terjadi di dalam kantor. Berita dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru gedung, bagaikan virus yang berkembang biak hanya dalam hitungan detik. Semua orang sedang membicarakan Kanaya. Mereka benar-benar tak menyangka, gadis biasa sepertinya bisa mendapatkan cinta Reino, seorang presiden direktur perusahaan besar. Beberapa orang menganggap hal itu adalah sebuah keberuntungan seperti dalam kisah cinta cinderella sementara tak sedikit pula yang mencibir dan mencemooh Kanaya, menilai gadis itu tidak pantas bersanding dengan Reino.
"Pasti dia pakai guna-guna." bisik seorang karyawati bagian HRD pada temannya.
"Iya. Mana mungkin pak Reino jatuh cinta sama upik abu." ujar yang lain menimpali obrolan dengan sengit.
"Heh, kenapa kalian yang ribut sih? Mau siapa yang dinikahin pak Reino, itu bukan urusan kalian kan?! Bilang aja kalian iri sama Kanaya." kilah seorang pegawai laki-laki yang kebetulan melintas dan perbincangan perempuan-perempuan itu.
Mereka kompak mencibir, merasa tidak terima dengan hujatan yang ditujukan pada mereka.
"Untuk apa iri sama dia, nggak level kali." seru mereka hampir bersamaan.
...***...
Di apartemen...
Reino dan Kanaya baru saja sampai di rumah. Mereka berdua tak saling bicara sepatah katapun selama dalam perjalanan pulang.
Kanaya mengikuti Reino duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu. Keduanya saling menatap intens. Reino menyelipkan anak rambut yang menjuntai ke belakang telinga Kanaya.
"Maafkan aku soal kemarin, sayang. Aku ingin menjelaskan semuanya padamu agar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kita."
Kanaya menundukkan kepala sementara Reino menggenggam jemari tangannya dengan lembut. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba mengalir di hatinya.
"Kemarin mama datang ke kantor tanpa memberitahu lebih dulu. Dia mengajakku makan siang, kebetulan ada Nina juga di ruanganku. Jadi mama mengajaknya serta. Aku memang salah karena tidak jujur padamu. Tetapi, rupanya mama punya rencana lain, sayang. Dia tiba-tiba saja pergi meninggalkan kami berdua di restoran sesaat sebelum kamu datang bersama teman-temanmu itu." jelas Reino berterus terang tentang kejadian yang sebenarnya pada Kanaya.
"Mas...katakan sejujurnya sekarang. Jangan ada yang mas sembunyikan lagi dariku. Apa mas masih mencintai Nina?" tanya Kanaya dengan perasaan getir. Sebuah pertanyaan yang tanpa sadar selalu membuatnya menitikkan air mata.
Reino mendekat. Menangkupkan kedua tangan Kanaya dengan tangannya sendiri. Ditatapnya lembut wajah istrinya itu.
"Nay...perasaanku pada Nina sudah lama menghilang. Sekarang aku sudah memilikimu. Aku sangat bahagia. Aku bersyukur pada Tuhan karena Dia telah memberiku seorang wanita yang sangat aku cintai. Kamu terlalu berharga untuk aku tukar dengan masa laluku, Nay. Percayalah."
__ADS_1
Air mata Kanaya berjatuhan. Reino menghapusnya dengan jemari tangannya.
"Maafkan aku, mas. Selama ini aku terlalu egois. Aku mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi."
"Sayang, dengarkan aku. Sekarang semua orang di kantor sudah tahu kalau kau adalah istriku. Dan tentu saja berita ini akan segera sampai pada keluargaku. Aku harap kamu siap menghadapi apapun reaksi mereka, terutama mama. Karena seperti yang kamu tahu, saat ini mama menganggap Nina adalah calon menantunya."
"Iya, mas. Selama mas ada di sisiku, aku siap menghadapi nya." ujar Kanaya disambut pelukan hangat dari sang suami.
"Terima kasih, sayang. Kita akan menghadapinya bersama."
Kanaya membenamkan diri di dada Reino, merasakan kedamaian hati yang selama ini belum pernah dirasakan karena ia terlalu takut untuk menghadapi kenyataan.
"Sayang, badanmu panas. Sepertinya kamu demam." ucap Reino begitu menyadari tubuh istrinya terasa panas di pelukannya.
"Aku sedikit pusing, mas. Perutku rasanya nggak enak."
Reino melepas pelukannya lalu menggendong Kanaya menuju ke kamar mereka.
"Istirahatlah. Aku akan mengambilkan obat." pinta Reino sembari menyelimuti tubuh Kanaya.
"Kamu sudah makan?"
"Belum, mas."
"Ck...kamu ini. Tadi berangkat kerja nggak sarapan dulu?"
Kanaya tersenyum, menggelengkan kepalanya perlahan.
Mana bisa aku makan saat tahu kamu nggak ada di rumah, mas, batin Kanaya sambil tersenyum.
"Kamu mau makan apa, sayang? Biar aku pesankan."
"Bakso mang Ujang. Rasanya aku lagi pengen makan itu. Gimana kalau kita ke sana sekarang, mas? Mumpung masih pagi kan nggak begitu ramai." celetuk Kanaya tiba-tiba.
__ADS_1
"Tapi kamu kan lagi sakit, sayang. Biar aku yang beli, kamu tunggu di rumah." perintah Reino tegas. Ia segera mengambil kunci mobil kemudian berangkat menuju kedai bakso mang Ujang langganan Kanaya.
...----------------...