
"Sayang, kamu jangan terlalu lelah ya? Jagalah bayi kita. Nanti aku akan menghubungimu begitu sampai di Bogor."
Kanaya mengangguk. Ia mencium punggung tangan Reino untuk berpamitan.
"Mas hati-hati menyetirnya ya. Jangan ngebut."
"Iya, sayang. Bu, pak, saya berangkat dulu ya? Kalian bersenang-senanglah." pamit Reino sebelum melajukan mobilnya keluar dari basemen apartemen.
"Ayo kita berangkat, pak Dahlan." pinta Kanaya pada sopir pribadi suaminya itu.
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Tak henti-hentinya kedua adik Kanaya yang masih bau kencur itu berdecak kagum mengamati detil interior mobil mewah kakak iparnya itu.
"Wuiihhh, mbak, kalau naik mobil mewah kok rasanya beda ya?" seru Ali.
"Beda apanya sih? Sama aja dek."
"Ya beda lah, mbak. Iya kan, bu?" tukasnya meminta dukungan sang ibu.
Sang ibu hanya tersenyum menanggapi tingkah dua bocah lelakinya itu.
"Kita mau kemana, nduk?" tanya sang ayah dari kursi depan.
"Jalan-jalan pak. Nay ingin membelikan sesuatu untuk ibu dan bapak."
"Beli opo toh, nduk? Ibu tidak ingin beli apa-apa. Melihatmu dan suamimu hidup rukun saja ibu sudah bersyukur. Alhamdulillah. Iya kan, pak?"
"Betul kata ibumu, nduk."
Kanaya melengkungkan senyum.
"Tetap saja Nay ingin memberikan sesuatu. Ibu dan bapak tenang saja."
Mobil mereka melintasi kompleks pertokoan. Kanaya meminta pak Dahlan untuk berhenti di sana.
"Ayo turun." ajak Kanaya pada semuanya.
Sang ibu mendongak, menatap takjub pada deretan pertokoan mewah yang tidak pernah beliau jumpai di desa.
"Kamu sering ke sini ya, nduk?" tanya sang ibu penasaran.
Kanaya mengulum senyum.
"Ah, nggak kok bu. Nay pernah satu kali kemari, itupun sama mama waktu memesan cincin kawin bu."
"Lah, sekarang kok kemari lagi?"
"Nay mau ambil cincinnya. Kata pemilik toko, cincinnya sudah selesai." jelas Kanaya dijawab anggukan oleh ibunya.
Kanaya dan keluarganya masuk ke sebuah toko perhiasan langganan keluarga Rahardian. Di sana mereka disambut oleh seorang pelayan toko yang sangat ramah.
__ADS_1
"Maaf, kak, saya mau ambil cincin pesanan saya." ujar Kanaya memberitahu pelayan itu.
"Atas nama siapa ya?"
"Kanaya."
Tak lama datanglah seorang pria berpakaian rapi menghampiri Kanaya. Senyum ramah mengembang di wajahnya.
"Selamat datang di toko kami Nyonya Reino. Pesanan anda sudah siap. Ini dia."
Kanaya menerima sebuah paper bag dan mengeluarkan isinya. Sebuah kotak perhiasan berwarna biru navy dengan pita emas di atasnya.
"Silahkan di cek dulu." lanjut pria itu.
Dibukanya kotak perhiasan itu dengan hati-hati.
Wah, cantik sekali cincinnya! Selera mama benar-benar tinggi.
"Cantik sekali." puji Kanaya takjub.
Setelah cukup lama Kanaya mengamati cincin itu, tiba-tiba ia teringat maksud lain kedatangannya ke toko itu.
"Maaf, pak. Saya ingin membeli sebuah cincin lagi, untuk ibu saya."
Sang ibu terkejut. Ia menoleh ke arah putrinya.
Kanaya mendekat. Digenggamnya tangan sang ibu dengan lembut.
"Bu, kali ini ibu nggak boleh menolak. Nay ingin mengganti cincin ibu yang dulu Nay pinjam. Alhamdulillah ini rezeki buat ibu." mata Nay mulai berkaca-kaca.
"Diterima saja bu, ini bakti anakmu padamu." pak Karno menasehati sang istri.
" Tapi bakti tidak perlu diukur dengan materi kan, pak?"
"Iya, aku ngerti. Tapi apa salahnya? Nay ingin membahagiakan ibu. Iyo kan, nduk?"
"Iya bu. Lagian tadi Nay sudah minta ijin sama mas Reino untuk membelikan cincin buat ibu."
Setelah didesak akhirnya sang ibu mau menerima. Kanaya meminta sang ibu untuk memilih sendiri cincin mana yang beliau suka.
Berbagai model cincin diperlihatkan satu persatu oleh pemilik toko sendiri mengingat keluarga Rahardian adalah pelanggan VIP di toko tersebut. Jelas ia harus melayani mereka dengan sangat baik. Demi reputasi tokonya.
Setelah memilih akhirnya ibu Kanaya menambatkan hatinya pada sebuah cincin yang desainnya sangat sederhana, sesuai dengan kepribadian beliau.
"Ini saja, nduk. Tapi tanyakan dulu harganya. Kalau mahal jangan diambil. Ibu cari model lain saja."
Sang pemilik toko tersenyum.
"Anda tidak perlu khawatir bu, berapapun harganya menantu anda tidak akan keberatan sama sekali. Tadi pak Reino sudah menghubungi saya dan meminta saya untuk melayani ibu mertuanya dengan baik."
__ADS_1
"Begitu ya?"
"Nah, sekarang ibu bisa pilih yang ibu mau. Yang mana saja boleh kok bu."
Air mata berjatuhan di pelupuk mata tuanya. Beliau merasa beruntung memiliki menantu yang amat baik seperti Reino. Keluarga Rahardian juga sangat menyayangi putrinya seperti anak sendiri.
Alhamdulillah ya Allah. Semoga Kanaya dan Reino selalu bahagia.
...***...
Setelah puas berkeliling kota Jakarta, Kanaya dan keluarganya makan malam di sebuah restoran. Perut mereka benar-benar keroncongan.
Di saat asyik menikmati hidangan di atas meja, ponsel Kanaya berdering.
"Assalamualaikum, mas." sapa Kanaya ceria begitu melihat nama suaminya muncul di layar ponsel.
"Wa'alaikumsalam, sayang, ada di mana?"
"Nay lagi makan di luar mas. Mas belum selesai meeting?"
"Sudah sayang. Ini perjalanan pulang. Bagaimana kabar anak kita, sayang? Rewel?"
"Nggak, mas. Hari ini dia jadi anak baik. Sama sekali nggak rewel."
"Anak pintar. Oh ya sayang jangan lupa makan yang banyak ya? Biar sehat."
"Nanti aku tambah gemuk loh, mas."
"Nggak apa-apa, sayang. Kan jadi tambah seksi. Haha."
"Ish...ngeledek ya. Awas nanti di rumah. Nggak dapat jatah." ancam Kanaya di sambut tawa di seberang sana.
"Ya, sudah. Sampai ketemu di rumah ya? Hati-hati di jalan, sayang."
Kanaya meletakkan kembali ponselnya ke atas meja sebelum melanjutkan acara makan malam. Suasana hangat benar-benar terasa. Kanaya bersyukur karena keluarga kecilnya itu bisa hadir di acara resepsi pernikahannya nanti sebagai saksi.
"Mbak, ibu sudah dapat cincin. Bapak juga sudah dapat hadiah dari mbak Nay. Terus kami dapat apa dong?" todong Abi dan Ali kompak.
Kanaya mengulas senyum. Ia teringat perkataan suaminya tadi pagi bahwa dirinya telah membeli dua sepeda motor keluaran terbaru untuk kedua adiknya itu. Semua akan dikirim setelah acara resepsi pernikahan mereka selesai digelar.
"Sstt..kalian ini ngomong apa, sih? Nggak boleh minta-minta gitu sama mbakyu mu. Nggak sopan, le."
"Ali, Abi, kalian tenang aja. Nanti akan dapat kejutan dari mas Reino. Sabar ya?"
Kedua adik Kanaya tersenyum lebar membayangkan hadiah apa yang akan mereka dapatkan dari sang kakak ipar.
"Ayo, lanjut makannya." pinta Kanaya.
...----------------...
__ADS_1