
"Maaf, sebenarnya neng mau diantar kemana?" tanya sopir taksi itu merasa bingung setelah bertanya beberapa kali namun tak sekalipun Kanaya menjawab pertanyaannya.
Sang sopir melirik sekilas kaca spion dan melihat penumpang yang dibawanya itu malah menitikkan air mata.
"Maaf, kalau saya lancang. Apa boleh saya tahu neng tinggal di mana? Biar saya antar pulang, neng." ujar sang sopir yang sudah berusia setengah baya itu merasa iba pada Kanaya.
"Jangan bawa saya pulang, pak. Saya tidak mau pulang." jawab Kanaya pada akhirnya. Tangisnya pun pecah. Ia tidak sanggup lagi menahan sesak di dalam dadanya.
"Maaf, neng, kalau tidak mau pulang, neng mau pergi kemana?"
"Saya juga tidak tahu, pak."
Perlahan sang sopir menepikan taksinya di pinggir jalan dekat sebuah warung. Ia merogoh saku kemeja yang dikenakannya lalu meraih selembar uang dua puluh ribuan sebelum turun dari taksi.
Tak berapa lama, ia kembali ke dalam taksinya, menyerahkan sebotol air minum kemasan pada Kanaya.
"Ayo silahkan diminum dulu, neng."
"Terima kasih, pak. Maaf merepotkan." jawab Kanaya sedikit sungkan.
"Maaf, kalau saya lancang, tetapi sebaiknya neng pulang ke rumah. Saya yakin keluarga neng pasti khawatir. Apalagi ini sudah hampir sore." nasehat sopir tua itu bijak.
Apa benar mas Reino mengkhawatirkanku? Atau jangan-jangan dia senang aku pergi.
"Entahlah, pak. Saya benar-benar bingung."
"Neng, kalau kita sedang ada masalah, apapun itu, sebaiknya jangan dibiarkan berlarut-larut apalagi dihindari. Itu bukan jalan keluarnya. Lebih baik dihadapi dan diselesaikan dengan kepala dingin. Kesampingkan ego dan emosi agar kelak kita tidak menyesal neng. Eh, maaf loh neng. Bukan maksud saya ikut campur ke masalah neng." ujar sopir itu menyadari kelancangannya.
Kanaya berusaha mencerna baik-baik kalimat yang diucapkan laki-laki tua itu.
"Iya, pak. Saya mengerti. Mungkin saya hanya butuh waktu untuk menenangkan diri sejenak."
"Setelah neng tenang hatinya, saya siap mengantar ke manapun neng mau pergi." ucapnya sambil tersenyum.
"Terima kasih. Bapak bisa antar saya sekarang." jawab Kanaya yakin. Ia memilih kembali ke tempat kost Rita. Ia berharap bisa menenangkan diri di sana.
...***...
"Nay?! Ayo masuk. Kamu kemana aja? Pak Reino nyariin kamu tadi." tanya Rita terkejut melihat Kanaya datang lagi ke tempat kostnya.
Kanaya masuk dengan langkah gontai. Wajahnya sedikit pucat sedangkan kedua matanya sembab.
"Kamu kenapa, Nay???" tanya Rita cemas melihat keadaan sahabatnya itu.
Belum sempat menjawab pertanyaan Rita, tubuh Kanaya limbung lalu jatuh pingsan.
__ADS_1
"Nay! Kamu kenapa, Nay? Bangun, Nay!" teriak Rita membuat seisi rumah berhamburan keluar dan mengerumuni Kanaya.
"Cepat tolong Kanaya! Kalian kok malah bengong sih!" teriak ibu kost ikutan panik.
Beberapa orang membopong tubuh Kanaya ke ruang tamu lalu menidurkannya di sofa. Sementara ibu kost segera ke dapur untuk membuat teh manis hangat untuk gadis itu.
"Nay kenapa, Rit?" tanya ibu kos begitu beliau kembali dari dapur dengan membawa teh hangat dan minyak kayu putih. Ia mendekatkan botol minyak kayu putih itu ke hidung Kanaya.
"Rita nggak tahu, bu. Tiba-tiba dia pingsan."
"Cepat kamu telpon suaminya."
"I-iya, bu."
Rita kembali ke kamar untuk mengambil ponsel. Ia menghubungi Reino dan memintanya segera datang menjemput Kanaya.
...***...
Kanaya terbaring lemah di ranjang. Kepalanya berkunang-kunang. Ia mencoba membuka mata perlahan. Diamatinya sekeliling ruangan yang terasa tidak asing baginya.
"Ini kamar kita, sayang. Aku membawamu pulang." kata Reino memberitahu, seolah ia bisa mengerti maksud tatapan bingung sang istri.
Kanaya memaksakan diri untuk bangun meski rasanya tidak ada lagi tenaga yang tersisa dalam dirinya. Tubuhnya begitu lemas.
"Sayang, jangan bangun dulu. Sebaiknya kamu istirahat. Kamu pucat sekali." cegah Reino seraya menyentuh pundak Kanaya.
Melihat Kanaya menangis, Reino semakin bingung. Ia merasa bersalah atas kejadian di kantornya tadi siang.
"Sayang, aku mohon maafkan aku. Apa yang kamu lihat tadi adalah sebuah kesalahpahaman."
Kanaya mendengus kesal. Ia teringat peristiwa tadi saat Nina memeluk tubuh suaminya. Kejadian itu membuatnya semakin yakin bahwa memang ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua.
"Salah paham? Mas, apa mas pikir aku ini bodoh?"
"Nay, percayalah padaku. Nina sengaja melakukan hal itu meski tadi aku sudah menyuruhnya pergi. Aku dan Nina tidak ada hubungan apa-apa, sayang."
Benarkah? Lalu foto itu? Apa itu juga kesalahpahaman saja?
"Lalu ini apa, mas?" tanya Kanaya akhirnya memberanikan diri untuk menunjukkan foto yang dikirim Nina padanya. Ia ingin mencari tahu kenyataan yang sebenarnya meskipun nantinya ia akan merasakan kekecewaan.
Reino meraih ponsel Kanaya dan melihat foto yang dikirim Nina pada istrinya. Seketika itu emosinya memuncak.
Pantas saja Kanaya marah besar.
"Sayang maafkan aku. Aku bisa menjelaskannya padamu."
__ADS_1
Deg!! Jantung Kanaya seakan berhenti berdetak. Rasa ngilu mulai menjalari lubuk hatinya.
Jadi benar Mas Reino mengkhianatiku?
"Jadi semua ini benar, mas?" tanya Kanaya dengan hati yang terluka. Disekanya air mata yang semakin deras turun membasahi kedua pipinya.
"Nay, mana mungkin aku berpaling darimu? Ini pasti sudah direncanakan oleh Nina. Dia tidak suka melihat kita bahagia."
"Mas, sekarang katakan sejujurnya. Masih adakah rasa cinta untuk Nina di hati mas Reino walaupun sedikit saja? Karena bila mas masih mencintainya, aku bersedia mundur." tegas Kanaya sambil berlinang air mata.
"Nay! Mana mungkin aku masih mencintainya?? Itu tidak mungkin, Nay. Jangan berpikiran macam-macam!"
Reino menangkup wajah Kanaya dengan kedua tangannya. Dengan lembut ia mendaratkan bibirnya di atas bibir sang istri. Kanaya terkesiap.
"Kalau aku masih mencintai Nina, aku tidak mungkin bersamamu sekarang." ujar Reino berusaha meyakinkan Kanaya.
"Tapi mas..."
"Sayang, apa kau ingat kepulanganku dari Batam kemarin?"
Kanaya mengangguk. Waktu itu ia juga merasa heran kenapa Reino pulang lebih awal dari rencananya semula.
"Malam itu, Nina mabuk berat di bar hotel. Aku membawanya kembali ke kamar karena aku merasa kasihan. Tapi sekarang, setelah melihat foto itu, aku yakin ini hanya bagian dari rencana Nina untuk menghancurkan rumah tangga kita, Nay. Percayalah padaku."
Ya Allah, jadi ini ulah wanita itu? Mengapa dia tega melakukan itu semua?
"Kenapa Nina melakukan itu, mas? Kenapa dia begitu membenciku?"
"Sayang, dia tidak suka melihatmu bahagia bersamaku."
"Karena dia masih mencintai mas Reino?"
"Iya, mungkin saja. Tapi itu bukan urusanku. Dulu, aku memang mencintainya, Nay. Tetapi dia memilih orang lain, tentu saja aku menghormati keputusannya. Dan saat ini, semuanya telah berlalu. Aku memiliki kehidupanku sendiri bersama orang yang aku cintai sekarang. Tidak ada sedikitpun rasa cinta untuk Nina karena seluruh hatiku telah menjadi milikmu, Nay."
Reino membelai pipi Kanaya dengan penuh rasa cinta. Ditatapnya kedua bola mata sang istri yang masih berlinang air mata itu lalu dikecupnya lembut.
"Aku mencintaimu, Kanaya." aku Reino sekali lagi. Dipeluknya tubuh Kanaya dengan segenap perasaan yang dimilikinya.
Kanaya membalas pelukan Reino. Ia ingin menghapus seluruh perasaan gundah yang ia rasakan sejak kemarin. Sekarang, ia telah menyadari kesalahannya dan dalam hati ia berjanji bahwa ia akan selalu mempercayai sang suami.
"Maafkan aku, mas." ucap Kanaya tulus.
"Mulai saat ini, berjanjilah padaku, jangan hiraukan apapun yang dikatakan atau dilakukan Nina. Aku yakin, ia masih akan terus mengganggumu. Asalkan kau percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja, sayang."
"Iya, mas. Aku janji."
__ADS_1
...----------------...