Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 27 PERASAAN APAKAH INI?


__ADS_3

Kanaya kembali ke ruangannya untuk mengambil lap dan cairan pembersih kaca dari dalam lemari di ruang kebersihan sebelum menuju ke lantai 2 untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Sambil mengelap jendela, pikirannya menerawang jauh. Hatinya sedikit terusik oleh kedatangan Jessica ke kantor Reino.


Untuk apa dia kemari? Mungkinkah pak Reino akan terpengaruh? Jessica itu terlalu sempurna untuk diabaikan oleh seorang laki-laki normal. Wanita itu begitu cantik dan seksi bak model internasional. Siapa yang tidak tergoda?


Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam hati Kanaya. Pernyataan cinta Reino padanya beberapa waktu yang lalu belum mampu meyakinkan hati Kanaya seutuhnya. Jujur ia masih ragu untuk menerima perasaan laki-laki itu meskipun sebenarnya belakangan ini Reino sering menunjukkan perhatian yang tulus padanya.


Kanaya merasa dirinya tidak pantas bersanding dengan Reino. Alasan klise yang tak terbantahkan adalah karena perbedaan status sosial di antara mereka berdua. Memang jelas Reino tak pernah mempermasalahkan hal itu, tetapi bagaimana dengan keluarganya? Kanaya terlalu takut membayangkan bagaimana tanggapan keluarga Reino jika tahu bahwa ia mencintai seorang gadis yang tak sekelas dengan mereka.


Hal itulah yang membuat Kanaya hingga detik ini masih belum berani memberikan jawaban secara pasti tentang pernyataan cinta Reino. Ia tidak punya keberanian untuk itu, meski jujur saja, perhatian Reino yang tulus mulai menyentuh lubuk hatinya.


Apa yang sedang mereka bicarakan di sana ya?? Ah..apa hakmu mempertanyakan itu, Nay? ujar hati Kanaya mengingatkan.


Terjadi perdebatan di dalam hati Kanaya.


Sementara itu di ruangan Reino...


"Ada perlu apa kamu kemari, Jess?!" tanya Reino sedikit sinis namun tentu saja tak mempengaruhi kepercayaan diri wanita itu sedikitpun.


Jessica mendekati meja Reino lalu duduk di tepinya. Pakaiannya yang mini membuat paha mulusnya pun terlihat, entah disengaja atau tidak yang jelas Reino mulai jengah. Ia berdiri dan berpindah duduk di sofa untuk menghindari Jessica.


"Cepat katakan keperluanmu lalu pergilah." pinta Reino berusaha menahan diri.


"Aku cuma mau ngasih ini. Aku harap kamu mau datang, Rei."


Reino menerima sebuah amplop dari tangan Jessica. Ternyata sebuah undangan pesta ulang tahun nyonya Renata, ibu Jessica.


"Aku akan datang kalo nggak sibuk. Sampaikan salamku untuk ibumu." jawab Reino acuh.


"Tentu saja akan ku sampaikan. Mama sangat berharap kau mau meluangkan waktu."


"Kalo nggak ada perlu lagi silahkan pergi. Aku masih banyak pekerjaan."


Oke Reino kali ini aku akan bersabar menghadapimu, tunggu tanggal mainnya. Kamu akan jadi milikku.


"Oke. Aku pergi sayang." ucap Jessica seraya mencoba memeluk Reino untuk berpamitan namun gagal karena Reino menepis tangannya.


"Pergilah, Jess."


Suatu saat kau akan bertekuk lutut di hadapanku, Reino Rahardian.


...**...


Kanaya sedang berjalan menuju halte bus sepulang kerja. Suasana jalanan macet karena ini jam pulang kantor. Rita sudah pulang duluan tadi karena mendadak ada urusan lain.


Masih ada waktu satu jam sebelum jam masuk kerja di restoran. Kanaya duduk santai menunggu bus datang sembari membuka Hp nya.


Apa pak Reino sudah pulang ya?


Tak ada satu pesan pun yang masuk ke hp nya.


Mungkin dia lagi sibuk sama Jessica. Hiks. Kenapa aku jadi kepikiran mereka berdua ya?


Setelah menunggu 10 menit akhirnya bus yang ditunggu datang. Kanaya segera naik dan mencari kursi kosong.

__ADS_1


"Maaf, bisa geser mas?" tanya Kanaya pada seseorang yang duduk di hadapannya. Ia menutup wajahnya dengan sebuah koran, karena silau oleh cahaya matahari sore dari kaca jendela.


"Kak Bisma?" seru Kanaya kaget karena orang itu adalah Bisma.


"Kanaya! Ayo sini duduk."


Keduanya duduk berdampingan. Kanaya tak menyangka bisa bertemu Bisma di bus karena biasanya laki-laki itu mengendarai sepeda motor untuk pergi bekerja.


"Tumben kak naik bus?"


"Motorku lagi di bengkel, Nay. Besok baru selesai. Biasalah, waktunya diservis."


"Oh, gitu."


"Kamu sendiri kok naik bus? Bukannya ada yang antar jemput?" tanya Bisma sedikit memancing. Sebenarnya ia ingin tahu siapa laki-laki yang ia lihat menjemput Kanaya malam itu.


"Nay sering naik bus kok kak, kadang naik ojek kalo lagi buru-buru. Nggak tentu sih."


"Ooh...."


Lantas siapa laki-laki yang bersamamu malam itu Nay?


Bisma memandang wajah Kanaya yang diterpa cahaya matahari.


Dia bukan gadis yang cantik tapi dia manis sekali. Apalagi senyumnya yang ramah itu, ujar Bisma membatin.


Rupanya Bisma mulai jatuh hati pada Kanaya, mungkin sejak pertemuan pertama mereka di restoran. Sikap ramah dan sopan Kanaya membuat pria itu luluh hatinya. Tapi Bisma tak berani mengatakan hal itu pada Kanaya. Tidak untuk saat ini.


"Ayo, kak, turun." ajak Kanaya begitu bus berhenti di halte dekat restoran itu berada.


Keduanya segera masuk dan memulai pekerjaan mereka masing-masing.


Jam sepuluh malam, restoran tutup. Kanaya dan karyawan lainnya bersiap untuk pulang.


"Nay! Tunggu." seru Bisma saat Kanaya hendak menuju pintu.


"Kamu naik apa pulangnya?"


"Aku mau telpon ojek langganan, kak."


"Ooh..ayo bareng ke depan." ujar Bisma sembari membukajan pintu untuk Kanaya.


Keduanya berjalan beriringan menuju jalan di depan restoran. Bisma berniat menemani Kanaya sampai tukang ojek yang dimaksud itu datang karena ia masih merasa penasaran siapa laki-laki yang menjemput Kanaya.


Tin..tin...


Sebuah mobil membunyikan klakson lalu berhenti di hadapan mereka. Kanaya tahu pasti siapa pemilik mobil itu.


Reino turun dari dalam mobil lalu menghampiri keduanya. Laki-laki itu masih memakai setelan kantor tadi pagi.


"Halo sayang. Maaf aku terlambat menjemputmu." ucap Reino seraya mencium kening Kanaya dengan sengaja karena melihat seorang laki-laki sedang bersama gadisnya. Ia ingin menunjukkan penegasan status Kanaya di hadapannya.


Kanaya salah tingkah diperlakukan seperti itu di depan Bisma.


"Mas, Reino. Kenalkan ini kak Bisma, teman kerja Nay di restoran." ujar Kanaya memperkenalkan Bisma pada Reino.

__ADS_1


"Bisma...., anda?"


"Reino, calon suami Kanaya." jawab Reino dengan sorot mata tajam.


Glek!! Kanaya menelan ludah. Ia tak menyangka Reino akan berkata demikian mengingat status hubungan mereka yang belum resmi.


Calon suami? Apa pak Reino serius?


Bisma memahami arti tatapan laki-laki di depannya itu. Jelas tersirat dalam pandangan mata Reino bahwa ia harus menjaga jarak dengan Kanaya.


"Kalo gitu aku pulang duluan ya, Nay. Sampai ketemu besok." pamit Bisma dengan langkah kecewa setelah mengetahui bahwa gadis incarannya sudah ada yang punya.


"Iya, kak. Hati-hati di jalan."


Reino membukakan pintu mobil untuk Kanaya dengan wajah dingin tak bersuara.


Kanaya jadi tak enak hati dibuatnya karena sejak mobil mulai melaju Reino tak berbicara sedikitpun.


"Mas Reino kenapa?" tanya Kanaya hati-hati.


"Nggak apa-apa."


Singkat banget jawabnya.


"Tapi dari tadi kok diem aja nggak ngomong?"


Reino tak menjawab, membuat hati Kanaya gelisah.


"Apa karena kak Bisma?"


Reino memperlambat laju mobilnya sebelum akhirnya menepi. Ditatapnya lekat wajah Kanaya di sampingnya.


" Aku cemburu, Nay. Aku takut ada lelaki lain di hatimu. Apa kamu lupa, kamu belum pernah sekalipun memberitahuku tentang perasaanmu?"


Kali ini Kanaya yang terdiam. Ucapan Reino memang benar adanya.


"Maafkan aku, mas. Bukan maksudku menggantung perasaan mas Reino. Aku...aku hanya merasa takut."


"Takut? Apa yang kamu takutkan, Nay?"


"Aku takut jika aku menerima cinta mas Reino, keluarga mas akan menentang hubungan kita. Aku cukup tahu diri mas. Dunia kita berbeda."


Tak terasa bulir-bulir bening membanjiri kedua pipi Kanaya saat gadis itu mengutarakan apa yang sedang dirasakannya.


"Nay..." ucap Reino lirih seraya merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.


Kanaya semakin terisak dalam pelukan Reino membuat laki-laki itu semakin mempererat pelukannya.


"Percayalah, Nay. Aku mencintaimu."


Kanaya merasakan ketulusan dalam ucapan Reino, membuat hati gadis itu akhirnya luluh.


"Aku akan mencobanya mas."


"Terima kasih, sayang. Percayalah aku akan membahagiakanmu."

__ADS_1


Keduanya larut dalam haru biru kebahagiaan. Reino bersyukur akhirnya bisa meyakinkan Kanaya akan perasaan cintanya. Ia berjanji akan selalu menjaga perasaannya hanya untuk Kanaya.


...----------------...


__ADS_2