
Kanaya terbangun tepat pukul 3 pagi dan mendapati tempat tidurnya kosong. Ia baru menyadari jika Reino belum kembali ke rumah.
Kemana kamu mas? batinnya mulai dilanda gelisah.
Untuk menenangkan pikiran Kanaya memutuskan untuk sholat malam. Ia segera berwudhu kemudian sholat, meminta agar diberi kekuatan dan ketenangan hati. Ia menyebut nama Reino dalam lantunan do'anya, memohon pada Tuhan agar suaminya dijauhkan dari segala marabahaya.
Saat Kanaya baru selesai sholat, terdengar suara pintu kamar terbuka. Ia menoleh dan melihat suaminya masuk.
"Mas, baru pulang?" tanya Kanaya memastikan.
Reino meletakkan kunci mobilnya di atas meja rias.
"Iya, sayang. Aku mau ganti baju dulu. Aku lelah sekali." jawabnya.
Kanaya melipat mukena yang baru dilepasnya kemudian segera mengambil piyama Reino.
"Sini mas aku bantu."
Reino membuka jaket dan pakaian yang dikenakannya lalu diberikan pada sang istri. Saat hendak menaruhnya ke dalam keranjang cucian, Kanaya mencium ada aroma parfum lain di jaket Reino. Ia yakin itu bukan aroma parfum yang biasa dipakai oleh suaminya.
Ini aroma parfum siapa? Kanaya membatin.
Selama beberapa saat Kanaya tertegun di tempatnya berdiri. Ia bertanya-tanya apa Reino sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Sayang?" panggil Reino.
"Iya, mas. Sebentar."
Kanaya meletakkan pakaian Reino lalu segera keluar dari kamar mandi.
"Apa mas butuh sesuatu?"
Reino menggeliat di atas tempat tidur, matanya sudah setengah terpejam.
"Nggak, sayang. Aku mau tidur. Kemarilah." pinta Reino sambil menepuk kasur.
Kanaya naik ke tempat tidur kemudian berbaring di sisi Reino. Pikirannya sedang berkecamuk. Ia ingin mengutarakan kegelisahan yang sedang dirasakannya sekarang.
"Mas, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Kanaya hati-hati.
"Iya, sayang. Tanya apa?" jawab Reino seraya mengubah posisi tidurnya. Ia menyandarkan kepalanya di dada sang istri
"Kalau boleh tau mas pergi kemana tadi?" tanya Kanaya akhirnya memberanikan diri.
__ADS_1
Mata Reino terbuka, ia tidak menyangka Kanaya akan menanyakan hal itu.
Flashback on..
"Halo?" ketus Reino menjawab panggilan itu.
"Halo, Rei. Ini aku, Nina."
Reino terdiam sesaat setelah mengetahui siapa yang menelponnya malam-malam begini.
"Rei, apa kau bisa membantuku? Mobilku mogok di jalan, aku tidak tau kenapa. Di sini sepi sekali. Aku takut, Rei. Aku mohon. Aku ada di dekat taman kota." jelas Nina ketakutan.
"Baiklah, tunggu di sana. Jangan kemana-mana." suara Reino terdengar khawatir.
Sesampainya di taman kota, Reino melihat Nina duduk di trotoar sambil memeluk dirinya sendiri. Angin malam yang cukup dingin membuat tubuh Nina menggigil.
"Maafkan aku, Rei, membuatmu repot datang kemari malam-malam begini. Tadi aku menghubungi sekretarismu untuk meminta bantuan tapi putrinya sedang sakit dan tidak bisa ditinggal. Terpaksa aku minta nomor hp kamu."
"Tidak apa-apa, Nin. Jangan kau pikirkan itu. Aku akan mengantarmu. Kau tinggal di mana?"
"Aku menginap di hotel."
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang. Di sini dingin sekali. Besok aku akan menyuruh orang untuk mengurus mobilmu." ajak Reino. Ia juga melepas jaket yang dipakainya lalu memberikannya pada Nina.
"Pakai ini. Tubuhmu sudah menggigil."
Flashback off..
Maafkan aku Nay, untuk saat ini aku belum bisa jujur padamu.
"Tadi ada temanku yang butuh bantuan. Dia dari luar kota jadi tidak ada kerabat di Jakarta, sayang."
"Maaf, mas, apa temanmu itu perempuan?" tanya Kanaya sekali lagi.
Reino terdiam.
"Nggak, sayang. Laki-laki."
Kali ini Kanaya yang terdiam. Ia berusaha menahan gejolak dalam hatinya.
Apa kamu sedang berbohong, mas? tanya hatinya membatin. Bulir bening menggenang di sudut mata Kanaya.
"Tidurlah, mas. Kamu pasti capek." ucap Kanaya seraya bangkit dari tempat tidur.
__ADS_1
"Mau kemana, sayang?"
"Aku mau ke dapur. Sebentar lagi juga udah subuh, mas." jawab Kanaya, meninggalkan kamar tanpa menoleh kepada suaminya. Dengan cepat ia menghapus air matanya yang belum sempat menetes itu.
Reino memandang punggung istrinya hingga menghilang di balik pintu kamar.
Maafkan aku, Nay. Apa aku telah menyakiti hatimu?
...***...
Jam di dinding menunjukkan pukul 9 pagi. Reino terbangun karena cahaya matahari dari jendela kamar menyilaukan matanya.
"Sayang?" panggilnya, namun sepi tak ada jawaban dari luar kamar.
Reino beringsut bangun. Ia mencari Kanaya ke seluruh kamar.
Kemana dia??
Saat melintasi meja makan, Reino melihat hidangan telah tertata rapi di sana. Ada secarik kertas terselip di bawah gelas.
Mas, maaf, aku berangkat kerja tanpa membangunkan mas dulu. Aku liat mas lelah sekali. Jangan lupa sarapan ya mas.
Reino meletakkan kembali kertas itu di atas meja.
Apa kau marah padaku, sayang?
Reino bergegas kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya. Ia bermaksud untuk menghubungi istrinya.
Memanggil Kanaya...
"Assalamualaikum, mas."
"Wa'alaikumsalam, sayang. Kamu udah di kantor ya?"
"Iya, mas. Maaf tadi aku berangkat dulu. Apa mas nggak ke kantor hari ini?"
"Aku ke kantor, sayang. Sebentar lagi aku berangkat."
"Baiklah, mas. Aku tutup dulu telponnya, aku masih ada kerjaan. Assalamualaikum, mas."
Tut....tut...tut...
Kanaya menutup telepon. Ia meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku lalu melanjutkan pekerjaannya membersihkan ruang HRD.
__ADS_1
Aku tahu kamu pasti sedang marah padaku sekarang, Reino membatin.
...----------------...