Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 52 BATAL PULANG


__ADS_3

Kanaya sedang menyiapkan makan malam di meja makan. Sesuai permintaan, Kanaya memasak ayam goreng tepung kesukaan Sesilia. Mereka berdua menghabiskan waktu di dapur sepanjang sore.


"Om, coba liat! Yang ini aku loh yang buat." terang Sesilia seraya memamerkan sepotong ayam goreng hasil buatannya yang bentuknya sedikit aneh.


Kanaya tersenyum. Ia menata ayam goreng di piring lalu mengambil botol saus tomat untuk Sesilia.


"Ini untuk Sesil."


Untuk sang suami ia mengambil sebotol saus cabai lalu menuangkannya di piring.


"Ayo mas makan dulu. Aku mau ambil air minum." ujar Kanaya beranjak menuju dapur.


"Om, mbak Kanaya itu baik ya? Pinter masak lagi. Kenapa om nggak menikah aja sama mbak Kanaya?"


"Uhuk-uhuk!" Reino tersedak ayam goreng yang sedang dikunyahnya.


Menikah? Darimana dia tahu kata seperti itu?? Pasti keracunan sinetron ini bocah.


"Om memang sudah me...."


"Sesil, kalo makan jangan bicara nanti keselek kayak om kamu tuh."


Kanaya mendekati suaminya lalu berbisik,


"Mas jangan ngomong macem-macem." ancam Kanaya sambil mencubit pinggang Reino.


"Siap, mbak Nay!" seru Sesilia patuh pada ucapan Kanaya.


Makan malampun berlalu dengan suasana tenang. Dengan ditemani Kanaya, Sesilia makan dengan lahap tanpa drama sama sekali. Berbeda jika sedang berada di rumah sendiri. Mama dan neneknya selalu ribut saat menemani Sesilia makan.


"Alhamdulillah, piring Sesil udah bersih. Sekarang minum dulu, kalo makan dan minum kamu harus duduk ya. Nggak boleh sambil berdiri." terang Kanaya seraya menyeka mulut gadis kecil itu dengan jarinya.


"Om, Sesil mau liat tv boleh ya?"


Reino yang masih belum selesai makanpun mengangguk mengiyakan.


"Sesil liat tv sendiri dulu ya? Mbak mau nyuci piring-piring ini."


"Iya, Sesil pergi dulu sana. Om Reino mau bantuin mbak Nay dulu." Reino berdiri dengan penuh semangat lalu segera membawa piring-piring kotor itu ke dapur.


"Mas, biar aja taruh di situ. Mas temenin Sesil."


Reino meletakkan piring-piring itu, berjalan menuju pintu dapur kemudian menguncinya.

__ADS_1


"Kok malah dikunci sih mas?" protes sang istri kesal dengan kelakuan suaminya.


"Cuma pengen peluk kamu seperti ini." ucap Reino pelan sambil memeluk Kanaya dari belakang.


"Kamu boleh lanjut nyuci piring."


Kanaya menggelengkan kepalanya, menyerah dengan tingkah konyol Reino.


...***...


"Om, kenapa mama belum datang ya?"


Reino melirik sekilas ke arah jam dinding di ruang TV. Pukul 9.30 malam.


"Sebentar ya om telpon mamamu dulu."


Reino beranjak ke kamar untuk mengambil ponselnya.


"Mau kemana mas?" tanya Kanaya begitu berpapasan dengan Reino.


"Ambil HP sayang. Mau telpon kak Wanda. Sesil nanya terus dari tadi."


"Biar aku ambilkan ponselnya. Mas tolong bawain susu ini buat Sesil ya."


"Iya sayang, makasih ya."


"Kok om tau sih aku suka susu coklat?" tanya Sesil polos.


"Eh, om juga nggak tau sih. Bukan om yang buatin."


"Wah, pasti mbak Nay ya om?"


Reino mengangguk, pandangannya tertuju pada televisi yang sedang menayangkan acara berita malam.


"Udah malam, Sil. Kamu nggak ngantuk?" tanya Reino.


Sesilia menggeleng.


"Aku nunggu mama, om."


"Sesil bentar lagi bobok aja dulu. Kalo mama datang nanti mbak bangunin Sesil. Gimana?" Kanaya masuk lalu memberikan ponsel Reino.


"Tuh, nurut sama tantemu. Biar om yang telpon mama."

__ADS_1


Kanaya melotot karena sekali lagi Reino sengaja menyebut "tante" di hadapan Sesil.


"Mas ini!"


"Ayo sayang kita ke kamar om kamu." ajak Kanaya seraya menggandeng tangan Sesilia.


Reino mencoba menghubungi kakaknya. Terdengar beberapa kali nada sambung sebelum Wanda mengangkatnya.


"Halo, Rei. Maaf, aku belum bisa pulang malam ini. Mungkin besok siang aku pulang."


Besok siang? Sepertinya malam ini aku akan tersingkir lagi.


"Baiklah, kak. Nanti aku kasih tau Sesil. Bye."


Dengan langkah malas, Reino berjalan ke kamarnya. Pintu kamar sedikit terbuka. Ia melihat ke dalam, Kanaya sedang membacakan buku dongeng untuk Sesil. Keduanya terlihat akrab. Sesil mendengarkan dengan antusias cerita yang sedang dibacakan oleh Kanaya. Tak ingin mengganggu, Reino menutup pintu kamarnya perlahan lalu kembali ke ruang TV.


Tak lama kemudian, Kanaya masuk lalu duduk di sampingnya.


"Sesil udah tidur, sayang?" tanya Reino seraya merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Udah mas. Baru aja tidur. Mbak Wanda belum datang mas?"


"Dia masih di Bandung, sayang. Mungkin besok baru bisa jemput Sesil." jawab Reino, tangannya mulai usil mengusap-usap perut Kanaya.


"Geli, mas."


Reino tak berhenti di situ. Ia mulai menggoda istrinya dengan menelusupkan tangannya di balik kaos yang dipakai Kanaya, mengusap punggung istrinya itu dengan lembut.


"Mas...Jangan gitu, nanti Sesil liat loh."


"Dia kan lagi bobok, sayang." sanggahnya bersemangat.


"Kamu ini mas, baru sehari nggak diperhatiin manjanya minta ampun."


Reino tertawa nakal. Diraihnya tengkuk Kanaya agar ia bisa mencium bibirnya. Sejenak mereka berdua tenggelam dalam dunianya sendiri, saling memadu kasih. Tangan Reino sudah mulai tak bisa dikendalikan lagi. Nafas keduanya memburu. Sebelum kehilangan akal, Kanaya mendorong dada suaminya peelahan untuk memberi jarak.


"Jangan di sini, mas." pinta Kanaya.


Dengan gerakan cepat Reino bangun lalu menarik tangan istrinya.


"Kita ke kamar tamu ya."


Keduanya segera berpindah ke kamar tamu. Reino mengunci pintu kamar dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mulai bergerilya menjelajahi inchi deni inchi tubuh istrinya.

__ADS_1


Malam ini akan mereka lewati dengan penuh tetesan peluh dan aroma percintaan panas seperti malam sebelumnya.


...----------------...


__ADS_2