
Ponsel Kanaya dan Reino tak henti-hentinya berdering dan mulai mengusik ketenangan mereka. Entah sudah berapa banyak notifikasi yang masuk sejak tadi malam. Keduanya sengaja mengabaikan benda itu sejak kemarin agar bisa berkonsentrasi pada acara resepsi pernikahan mereka.
"Mas, sini deh." panggil Kanaya pada suaminya.
Reino menghampiri sang istri yang sedang sibuk membuka notifikasi di ponselnya.
"Banyak sekali ucapan selamat yang masuk mas. Bahkan aku tidak kenal siapa pengirimnya." celoteh Kanaya heran. Ia membalas satu persatu pesan yang masuk.
"Tidak perlu dibalas semua, Nay. Nanti jarimu bisa keriting." seloroh Reino sembari mengacak rambut istrinya. Gemas.
"Iya, mas. Aku tau."
Reino mengambil ponsel dari tangan Kanaya, memaksa istrinya berhenti membalas pesan-pesan itu.
"Mas...." protes Kanaya kesal. "Aku belum selesai."
"Aku ingin berdua saja denganmu, sayang. Tanpa ada gangguan apapun. Titik." ujar Reino membuat sang istri manyun. Dibelainya perut Kanaya perlahan.
"Aku juga ingin menyapa anak kita, sayang. Boleh kan?" pinta Reino dengan wajah mengiba.
"Tentu saja. Sapalah dia, mas."
"Assalamualaikum, sayang."
Reino menempelkan telinganya ke perut Kanaya sambil mengelusnya perlahan.
"Ini papa, sayang. Bagaimana kabar anak papa sekarang? Sehat-sehat ya di perut mama? Papa nggak sabar pengen ketemu kamu, sayang."
Kanaya tersenyum. Dengan lembut ia membelai rambut sang suami. Dalam hati tak henti-hentinya ia bersyukur atas kebahagiaan yang Tuhan anugerahkan pada keluarga kecilnya itu.
"Oh ya, Nay, besok kita pergi ke dokter ya? Aku ingin melihat perkembangan kesehatan bayi kita."
"Iya, mas. Kita ke dokter Anggi aja ya? Dia temennya kak Wanda, mas."
"Iya, sayang."
Kanaya membetulkan posisi duduknya agar Reino lebih leluasa menyapa si jabang bayi di dalam perutnya.
"Oh ya, sayang, bagaimana kalau kita membeli sebuah rumah lagi?" tanya Reino tiba-tiba seraya mendongak menatap wajah istrinya.
"Rumah? Tapi untuk apa, mas?" dahi Kanaya berkerut karena heran mengapa suaminya tiba-tiba mengutarakan hal itu.
__ADS_1
Menurutnya, apartemen yang mereka tempati sekarang ini sebenarnya cukup nyaman.
"Sayang, sebentar lagi kita akan memiliki anak. Dan yang pasti aku ingin punya banyak anak nantinya. Aku rasa akan lebih baik jika kita membesarkan mereka di sebuah rumah besar dengan halaman yang luas agar mereka bisa bermain dengan leluasa di sana."
Kanaya memikirkan kata-kata suaminya barusan.
Benar juga ucapan mas Reino, batin Kanaya.
"Jika mas pikir itu hal yang baik, aku sih setuju aja, mas."
"Kalau begitu aku akan mulai mencarinya. Nanti aku tunjukkan padamu beberapa properti yang bagus, sayang. Kamu yang pilih ya?"
"Iya, mas. Tapi kita turun dulu yuk. Aku lapar mas."
"Baiklah, sayang. Ayo kita sarapan. Sekalian kita bisa ngobrol di restoran hotel sama bapak-ibumu."
"Apa mama dan papa masih di sini juga?"
"Nggak sayang, pagi-pagi tadi mereka sudah check out. Papa ada urusan lain di Bandung. Hanya Kak Wanda dan Sesil yang masih menginap di sini." terang Reino.
Tok...tok...tokk
"Sebentar mas biar aku yang buka pintu." tawar Kanaya cepat sementara Reino mengganti bajunya.
"Maaf ya, Nay. Dia maksa banget pengen makan bareng kalian berdua." ujar Wanda merasa tak enak hati karena mengganggu mereka pagi-pagi begini.
"Nggak apa-apa, kak. Kebetulan aku sama mas Reino juga mau turun sarapan."
"Tuh kan, mi, tante Nay nggak bakalan keberatan kalau Sesil kemari. Iya kan, tante?" ocehnya penuh semangat.
"Iya, bawel." jawab Wanda sambil menoel pipi putrinya gemas.
"Nah, ini dia om Reino, mi. Ayo om kita sarapan sama-sama. Om sama tante Nay sudah ditunggu loh."
"Iya. Ayo."
......................
Keluarga Kanaya sedang menikmati sarapan pagi mereka ketika Kanaya dan Reino ikut bergabung. Bapak dan ibu Kanaya nampak tidak terbiasa dengan hidangan yang tersaji di meja panjang itu. Sambil tersenyum lugu sang bapak pun bertanya,
"Nduk, sakjane iki opo toh kok yo aneh rasane?"
__ADS_1
Kanaya tersenyum.
"Siapa yang pesan ini pak?"
"Ibumu kui sing pesen. Bapak pengen sarapan nasi pecel atau nasi lodeh gitu loh nduk."
"Lah wong ibu ya nggak ngerti nduk. Tulisannya itu pake bahasa inggris semua. Mana paham. Yo wes lah asal tunjuk wae. Hehe."
Reino menarik kursi untuk Kanaya kemudian ia duduk di sampingnya.
"Maaf pak, bu. Bagaimana kalau kita cari makan di luar saja? Kita makan nasi pecel seperti yang bapak mau?" tawar Reino dibalas anggukan oleh kedua mertuanya kompak.
"Kita makan di dekat tempat kos Nay aja ya mas. Bapak pasti suka." usul Kanaya.
Akhirnya merekapun berangkat menuju sebuah warung makan sederhana yang sering dikunjungi Kanaya dan Rita sewaktu masih jadi anak kos. Tempat itu lumayan besar. Menu yang dihidangkan adalah menu ala rumahan. Ada sayur lodeh, sayur asem, sayur bening dan berbagai macam tumis-tumisan. Sedangkan untuk lauk tersedia berbagai jenis masakan yang menggugah selera. Telur balado, ayam bakar, tempe tahu goreng, asem-asem ikan, perkedel dll. Semuanya tertata rapi memanjakan mata.
"Kak Wanda nggak apa-apa makan seperti ini?" tanya Kanaya pada kakak iparnya itu. Ia takut makanan di warung ini tidak sesuai dengan seleranya.
"Kamu bercanda, Nay? Ini semua kesukaanku!" seru Wanda kegirangan. Sudah lama ia ingin menikmati masakan sederhana seperti ini.
"Apalagi sambel itu!" tunjuk Wanda pada secobek sambel rawit di ujung meja.
"Alhamdulillah kalau begitu. Ayo kita makan." ajak Kanaya pada semuanya.
Di balik etalase besar, sang pemilik warung nampak grasak-grusuk sembari memegang ponsel. Malu-malu akhirnya ia menghampiri Kanaya yang sedang mengambil makanan untuk sang suami.
"Neng Kanaya, boleh dong minta foto neng bareng suami? Nanti emak mau cetak yang besar terus dipajang deh di sini. Biar semua pada tau kalau ada orang terkenal seperti suami neng Kanaya yang makan di warung emak ini. Berita resepsi neng Kanaya tuh heboh banget dah ya kayak selebriti gitu. Nggak bosen-bosen emak mantengin tipi. Neng cantik banget dah."
Kanaya tersipu mendengar ucapan emak Romlah, pemilik warung makan langganannya itu.
"Iya, boleh kok mak. Tapi kami makan dulu ya? Udah pada laper soalnya. Hihi."
"Oh, asiaaaapp." seru mak Romlah girang.
Setelah mengambil makanan untuk Reino, Kanaya kembali ke mejanya.
"Tuh, mas. Mak Romlah ngefans banget sama mas. Nanti mau minta foto katanya." bisik Kanaya di telinga sang suami sambil terkekeh.
"Ada-ada aja ya, sayang."
"Abisnya mas ganteng banget sih." puji Kanaya tersenyum geli.
__ADS_1
......................