Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 40 PERNIKAHAN KANAYA


__ADS_3

Tok...tok...tok...


Suara ketukan di pintu kamar membangunkan Kanaya yang masih terlelap karena kelelahan menangis semalaman.


Kanaya membuka pintu kamar lalu mempersilahkan ibunya masuk.


"Lihat matamu, nduk. Bengkak semua. Biar ibu ambilkan air hangat untuk kompres ya." ujar sang ibu khawatir karena hari ini adalah hari pernikahan putrinya.


Kanaya mengangguk pelan. Ia merasa sangat tidak bersemangat hari ini.


Setelah sang ibu keluar dari kamar, Kanaya merapikan tempat tidur. Ia menepikan koper dan tas ransel yang telah selesai dikemasnya kemarin.


Tak lama kemudian ibu Kanaya masuk membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil.


"Sini nduk ibu bantu mengompres."


Kanaya menurut saja. Pikirannya benar-benar kacau hari ini. Ia membiarkan ibu merawatnya. Hari ini adalah hari terakhirnya menjadi seorang anak karena setelah ijab qobul nanti statusnya akan berubah menjadi seorang istri. Ia tidak bisa lagi bermanja-manja kepada sang ibu.


"Nduk, apa kamu bahagia?" tanya sang ibu sambil berlinang air mata.


"Entahlah, bu. Yang jelas Nay tidak ingin melihat bapak jatuh sakit lagi. Jika Nay memang harus berkorban perasaan, Nay ikhlas bu. Mungkin ini takdir yang harus Nay jalani."


Kanaya dan sang ibu berpelukan erat. Keduanya berusaha saling menguatkan satu sama lain.


Pukul 8 pagi.


Seorang perias pengantin dari salon Mita telah datang untuk merias Kanaya. Sang ibu mempersilahkan si perias untuk menunggu di kamar depan sementara ia memanggil Kanaya di kamarnya.


"Nduk, ayo waktunya berhias." ajak sang ibu sambil menggenggam tangan anaknya itu.


"Baiklah, bu."


Selama hampir satu jam, Kanaya berhias. Gadis itu mengenakan kebaya berwarna putih dengan hiasan tiara kecil di atas kepalanya. Sang ibu menangis terharu melihat penampilan Kanaya yang sangat anggun dan mempesona.


Putri kecilku sudah dewasa sekarang, batin sang ibu sambil berlinang air mata.


"Ayo, nduk kita tunggu di ruang tamu." ajak sang ibu. Acara akad nikah akan diselenggarakan pukul 10 tepat.


Di ruang tamu telah berkumpul beberapa kerabat keluarga pak Karno. Ada paman, bibi, sepupu dan keponakan. Mereka semua akan menyaksikan ikrar pernikahan antara Kanaya dan Galih.


Di teras depan, ada beberapa tamu yang sengaja diundang yaitu ketua RT, RW, tetua kampung dan beberapa tetangga dekat.


Sementara di dapur, ada beberapa orang yang membantu memasak dan menyiapkan hidangan sederhana untuk tamu dan keluarga.


"Pak, coba bapak telpon lagi mas Dibyo. Ini sudah jam berapa kok belum datang juga." kata sang ibu mengingatkan. Jam di ruang tamu sudah menunjukkan angka 9.45.

__ADS_1


"Assalamualaikum." seru suara dari luar.


Orang-orang yang hadir serempak menjawab salam. Semua mata tertuju pada Galih dan rombongannya. Pak Dibyo datang bersama beberapa kerabat mereka.


"Maaf, kami datang terlambat." ucap pak Dibyo merasa tidak enak karena telah membuat semua orang menunggu.


Kedua calon pengantin duduk di berdampingan di hadapan penghulu sementara pak Karno sebagai wali Kanaya mengambil tempat di depan mempelai pria.


Kanaya tertunduk. Wajahnya sedikit tersembunyi di balik kerudung putih yang menjuntai di sisi wajahnya. Ada air mata yang tertahan di sana. Hati dan fikiran gadis itu tertuju pada Reino.


Maafkan aku mas, Reino. Mungkin ini jalan akhir cinta kita. Semoga mas mendapat jodoh terbaik yang dapat mas miliki seutuhnya, ucap Kanaya dalam hati, memberi do'a terbaik untuk orang yang sangat dicintainya itu.


"Baiklah. Semua sudah berkumpul di sini. Mari kita mulai saja acaranya." ujar pak penghulu membuka acara.


Semua mengangguk setuju. Terlihat wajah-wajah tegang orang-orang yang akan menyaksikan acara sakral itu.


Galih dengan setelan baju adat Jawa Timuran berwarna hitam dengan corak berwarna emas terlihat sangat gagah. Beberapa kerabat Kanaya berbisik-bisik membicarakan pesona pengantin pria.


"Sungguh beruntung Kanaya dapat jodoh ganteng begitu." tukas salah seorang perempuan paruh baya yang masih kerabat pak Karno.


"Dia juga anak orang kaya loh mbakyu. Bapaknya itu yang membiayai operasi jantung dik Karno." celetuk wanita lainnya.


Perbincangan kedua wanita tadi terhenti saat penghulu mulai menuntun pak Karno untuk mengucapkan ikrar sebagai wali sahnya Kanaya.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Galih Pramudityo bin Sudibyo Pramono dengan putri saya yang bernama Kanaya Anggraini binti Sukarnomo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin emas 50 gram dibayar tu-nai." seru pak Karno lantang seraya mengguncang jabat tangannya dengan Galih.


Seketika semua mata tertuju kepadanya. Seorang wanita cantik berperawakan tinggi terlihat sedang berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal dan dapat berbicara. Galih terlihat sangat terkejut.


"Samira???!" seru Galih seolah tak percaya dengan penglihatannya.


Wanita yang bernama Samira itu pun masuk dan berjalan mendekati Galih.


"Iya, Galih. Ini aku. Aku kembali untukmu!"


"Ta-tapi bagaimana mungkin? Bukankah papamu tak pernah mau menerimaku?"


"Papa sudah merestui kita, Galih. Makanya aku kemari. Aku tidak ingin kamu menikahi gadis lain!"


Semua orang yang hadir di ruangan itu saling berpandangan heran.


Ada apa ini? Kenapa seperti adegan di sinetron saja? batin mereka kompak.


"Galih! Apa-apaan ini?? Bapak tidak mengerti!" seru pak Dibyo malu.


Namun, Galih terlihat sebaliknya. Ia berdiri lalu membawa Samira ke hadapan sang ayah.

__ADS_1


"Pak, ini Samira. Dia adalah wanita yang sangat ku cintai sejak dulu." aku Galih jujur. Matanya sedikit berkaca-kaca karena masih tak percaya jika Samira ada di hadapannya sekarang.


"Jelaskanlah. Bapak benar-benar tak mengerti, le!"


Samira mendekat.


"Maafkan saya om. Sebenarnya saya dan Galih sudah berpacaran cukup lama. Namun, saat saya menyampaikan maksud Galih untuk menikahi saya setahun lalu, papa saya marah besar. Dia menolak Galih mentah-mentah karena merasa Galih tak pantas untuk saya. Papa memisahkan saya dan Galih. Dia mengancam tidak akan mengakui saya sebagai anak jika tetap memilih Galih. Waktu itu saya tidak bisa bertemu Galih karena papa menjaga saya dengan ketat hingga akhirnya saya menyerah pada keadaan. Galih tidak bisa lagi menghubungi saya om." panjang lebar Samira menceritakan kejadian yang dialaminya.


Galih terenyuh. Ternyata selama ini dugaannya salah. Ia tidak menyangka Samira masih mencintainya.


"Jadi selama ini kamu masih mencintaiku, Samira?"


Samira beralih menghadap Galih dengan deraian air mata membasahi kedua pipinya.


"Tentu saja, Galih. Saat mendengar kabar bahwa kamu akan menikah karena perjodohan, aku langsung kemari. Aku tidak ingin kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya." ucap Samira lirih membuat orang-orang di sekitarnya merasa iba.


Galih mendekat, menggengam jemari Samira untuk memberinya kekuatan.


Sementara itu, keluarga Kanaya terlihat syok. Ibu Kanaya segera mendekat kepada suaminya. Ia merasa khawatir jika sang suami tidak bisa menerima kenyataan mengejutkan ini.


"Pak...Bapak nggak apa-apa?" bisik Ibu Kanaya.


Sang suami menggeleng. Ia memang sedikit syok, tapi ia merasa baik-baik saja.


"Ibu tenang aja. Kita lihat dulu bagaimana ini akhirnya."


Alhamdulillah, ternyata bapak baik-baik saja.


Melihat adegan tersebut, pak penghulu merasa bingung harus berbuat apa. Ia menoleh sekilas ke arah Kanaya, sang pengantin wanita.


"Bagaimana ini bapak-bapak dan ibu-ibu, apa pernikahan ini mau dilanjutkan atau bagaimana? Kasihan ini pengantin wanitanya menunggu." seru penghulu itu mengingatkan.


Pak Dibyo menatap Galih. Ada gurat kebahagiaan dalam sorot mata putranya itu, namun ia sadar kebahagiaan itu memang bukan untuk Kanaya. Pak Dibyo berdiri mematung tak tahu harus berkata apa.


"Ayo kita teruskan saja pak penghulu. Saya yang akan menikahinya!" sahut sebuah suara yang begitu familiar di telinga Kanaya. Semua orang serempak menoleh ke arah sumber suara.


Reino berjalan masuk lalu menghampiri kedua orang tua Kanaya.


"Saya meminta izin bapak untuk menikahi Kanaya." pinta Reino dengan sorot mata serius.


Kali ini Kanaya yang merasa sangat terkejut. Ia sampai menutup mulutnya dengan sebelah tangan karena tak percaya mendengar permintaan Reino barusan.


"Ba-bagaimana ini, bu?" tanya pak Karno mencari jawaban pada sang istri karena jujur pikirannya sekarang sedang kacau.


"Pak penghulu, mari kita kanjutkan acaranya." putus sang ibu yakin. Ia menatap Kanaya sejenak dengan senyuman menghias di wajah beliau.

__ADS_1


"Alhamdulillah, nduk. Ternyata dia memang jodohmu." ucap sang ibu terharu.


...----------------...


__ADS_2