Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 66 BERHENTI BEKERJA


__ADS_3

Kanaya lama duduk termenung di atas tempat tidur sementara Reino tengah menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor di ruang kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Reino mematikan laptopnya. Setelah membereskan berkas, ia kembali ke kamar dan menemukan istrinya belum juga tidur.


"Belum tidur, sayang?" sapa Reino membuyarkan lamunan Kanaya.


"Nggak bisa tidur, mas. Apa pekerjaan mas sudah selesai?" tanya Kanaya, ia turun dari ranjang lalu mengambilkan piyama untuk suaminya dari dalam lemari.


"Iya, sayang. Sudah."


Reino mengenakan piyama yang disodorkan Kanaya. Sekilas ia melirik istrinya yang sedang menyisir rambut di depan meja rias, pantulan wajahnya di cermin terlihat murung.


"Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan, sayang?" tanya Reino mendekati Kanaya lalu memeluknya dari belakang. Ia mencium leher Kanaya dengan lembut.


"Mas...geli ah." protesnya seraya memanyunkan bibir.


"Hehehe, maaf. Sekarang coba katakan, apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Reino sekali lagi.


Kanaya menyandarkan kepalanya di dada Reino. Ia menatap pantulan dirinya dan Reino di cermin.


"Aku bingung, mas."


"Bingung kenapa, sayang?"


Kanaya menarik nafasnya dalam-dalam.


"Pasti besok aku jadi bahan pembicaraan di kantor."


"Apa yang kau khawatirkan? Mereka tidak akan berani bergosip tentangmu."


Kanaya menghembuskan nafasnya dengan keras seolah ingin menghempaskan beban yang mengganjal di hatinya. Ia teringat cemoohan orang-orang di kantor waktu itu. Kalimat-kalimat yang mereka lontarkan masih terasa menyakitkan hati hingga detik ini.


"Nay... Jangan dengarkan mereka. Yang penting kamu bahagia. Masih banyak teman-temanmu yang lain, yang benar-benar peduli padamu, iya kan?" nasehat Reino sembari membelai rambut hitam istrinya itu.


"Iya, sih mas."


"Bagaimana kalau kamu berhenti bekerja, sayang?" tanya Reino berhati-hati takut menyinggung perasaan Kanaya.


"Kalau aku nggak kerja, aku mau ngapain di rumah, mas?" tanya Kanaya menoleh ke arah suaminya.


Dengan satu gerakan cepat Reino menggendong tubuh Kanaya, membawanya ke tempat tidur.


"Kamu bisa mengerjakan apapun yang kamu mau. Pergi ke salon, shopping, spa. Biasanya wanita menyukai hal-hal seperti itu." usul Reino membuat Kanaya meringis.


"Aduh, mas. Aku bukan tipe perempuan seperti itu. Mas kan tahu sendiri, aku terbiasa bekerja. Rasanya aneh bila aku hanya duduk di rumah atau seharian keluar rumah hanya untuk menghabiskan uang mas Reino. Hehehe." ocehnya membuat sang suami tersenyum simpul.


Itulah yang membuatku jatuh cinta padamu, sayang. Kamu berbeda dari perempuan lain yang pernah dekat denganku.


Reino mencubit hidung Kanaya lalu mengacak rambutnya.


"Dasar aneh. Biasanya perempuan suka belanja, sayang."

__ADS_1


Reino berbaring telentang sementara Kanaya bersandar di dadanya. Sebelah tangannya memeluk pinggang Reino.


"Aku suka belanja, kok, mas. Tapi belanjanya ke pasar. Beli kebutuhan dapur. Hahaha."


Reino mencium puncak kepala Kanaya kemudian mengangkat tubuh kecil istrinya ke atas tubuhnya sendiri.


"Mas...!" seru Kanaya saat Reino mengunci pinggangnya dengan kedua tangan. Ia berusaha melepaskan diri.


"Jangan gerak-gerak dong, sayang. Nanti ada yang bangun, loh." goda Reino senang.


"Iih...mas genit. Lepasin, mas. Apa mas nggak ngantuk? Besok kan kerja."


"Sekarang belum ngantuk, sayang. Bagaimana kalau kita olahraga malam dulu?"


Pipi Kanaya seketika merona saat tangan Reino mulai masuk ke dalam piyama yang dikenakannya, menelusuri dengan lembut punggung istrinya itu.


"Ayo kita buat Reino junior, sayang." lanjut Reino penuh hasrat disambut ciuman mesra dari sang istri.


Begitulah mereka berdua menghabiskan malam ini penuh dengan gelora cinta yang menggebu. Desahan demi desahan mengiringi pelepasan di puncak kenikmatan yang mereka rasakan bersama hingga keduanya pun terlelap dalam buaian mimpi.


...***...


Pagi ini, Reino dan Kanaya berangkat bersama ke kantor. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, kali ini laki-laki itu sengaja menggandeng tangan Kanaya agar mau berjalan di sisinya saat mereka berdua memasuki gedung.


Pak Dadang yang sedang berjaga di pintu lobi menyambut keduanya dengan sopan.


"Kenapa harus memanggilku seperti itu sih, mas? Kan aneh jadinya." omel Kanaya setengah berbisik pada suaminya.


"Mulai sekarang kamu harus terbiasa, sayang. Kamu adalah nyonya Reino Rahardian." ujar Reino santai.


Beberapa karyawan yang berpapasan dengan merekapun sedikit membungkuk untuk memberi hormat. Kanaya merasa canggung diperlakukan seperti itu karena ia yakin, di belakangnya mereka pasti akan bergunjing.


"Mas, aku ke belakang dulu ya." pamit Kanaya.


Sebelum sempat beranjak, Reino memegang pergelangan tangan Kanaya dengan cepat.


"Mau kemana, sayang?"


"Tentu aja mau kerja, mas." sahutnya.


Reino tersenyum.


"Mulai saat ini, kamu aku berhentikan dengan hormat dan penuh rasa cinta nona Kanaya Rahmasari. Kewajibanmu sekarang adalah mematuhi ucapanku." ujar Reino tegas lalu membawa Kanaya menuju ke ruangannya.


"Selamat pagi, pak, bu." sapa Maya begitu Reino dan Kanaya datang.


"Pagi, May. Oh ya, aku ingin kamu urus berkas pengunduran diri istriku. Mulai hari ini dia resign."


"Siap, pak."

__ADS_1


"Ayo, sayang." ajak Reino.


Kanaya sempat melirik sekilas ke arah Maya yang sedang tersenyum padanya.


"Mas, kalau aku nggak boleh kerja lagi, terus kenapa mas ajak aku ke kantor?" tanya Kanaya saat mereka berdua sudah berada di ruangan Reino.


Reino meletakkan tas kerjanya di meja kemudian duduk.


"Kemarilah, sayang." pinta Reino.


"Kamu bisa menemaniku seharian di sini. Apa kamu keberatan, nyonya?" goda Reino senang.


"Kalau aku di sini, mas Reino nggak akan bisa konsentrasi kerja." ujar Kanaya yakin.


"Hahaha. Betul juga, sayang. Kalau dekat kamu, bawaannya pengen peluk terus." jawab Reino tergelak.


Tok..tok...tok...


"Masuk." seru Reino.


"Maaf, pak, di luar ada nona Karenina." ujar Maya memberitahu.


Mendengar nama wanita itu, hati Kanaya berdesir.


"Suruh dia menunggu sebentar." jawab Reino dijaeab anggukan oleh sekretarisnya itu.


"Mas, aku tunggu di luar aja ya? Sekalian aku mau pamit sama teman-teman di bawah."


Reino bangkit lalu memeluk pinggang Kanaya.


"Mas...ini di kantor. Nggak enak kalau dilihat orang."


"Jangan takut, sayang. Ada Maya di depan. Nggak akan ada yang berani masuk tanpa ijin." dikecupnya lembut bibir Kanaya.


"Mas, lanjutin dulu kerjaan mas. Nanti aku kemari lagi, boleh kan?"


Reino mengangguk.


"Pergilah, sayang. Bersenang-senanglah."


Kanaya beranjak meninggalkan ruangan suaminya dan berpapasan dengan Nina di


ruangan Maya.


"Mbak May, aku ke bawah dulu ya." pamit Kanaya sebelum pergi. Sekilas ia merasa Nina sedang memperhatikannya.


Jadi ini istrinya Reino? Lihat penampilannya, Ya Tuhan, apa Reino tidak salah pilih? batin Nina tertawa dalam hati dengan sombongnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2