
Kereta yang ditumpangi Kanaya hampir sampai di stasiun tujuan saat fajar menyingsing. Gadis itu merapatkan jaketnya karena di dalam kereta terasa sangat dingin. Sambil menyiapkan tas dan koper, Kanaya melepas hp dari chargernya, menggulung kabel charger itu lalu memasukkannya ke dalam tas.
Tak lama terdengar pengumuman bahwa kereta akan sampai di stasiun tujuan dalam lima menit.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga." gumam Kanaya merasa lega akhirnya bisa menginjakkan kaki kembali di tanah kelahirannya. Kanaya segera memesan mobil online dan menunggu di depan stasiun.
Tak perlu menunggu lama, sebuah mobil berhenti di depan Kanaya. Sang sopir yang terlihat seusia dengannya turun dari mobil dan membantu Kanaya memasukkan barang bawaannya ke bagasi.
Di sepanjang perjalanan, Kanaya menatap ke arah jendela, menikmati suasana kota kecil yang sangat dirindukannya, keramaian jalan, bangunan-bangunan tua, pasar tradisional dekat rumah yang rutin dikunjunginya setiap pagi bersama sang ibu, semua memori itu tersimpan rapi dalam hatinya.
"Sudah sampai, mbak." ujar sang sopir ramah.
Kanaya membayar sejumlah uang lalu turun dari mobil diikuti sang sopir yang dengan cepat menurunkan barang dari bagasi.
"Makasih ya mas."
Kanaya menyeret koper kecilnya memasuki halaman rumah. Di depan pintu sang ibu telah menunggunya dengan setia. Sejak subuh, ibu Kanaya sibuk mempersiapkan hidangan sederhana untuk menyambut anak gadisnya pulang. Sementara adik-adiknya membantu sang ibu membersihkan seluruh rumah karena semenjak bapak masuk rumah sakit, kondisi rumah kurang terawat.
"Ibu..." seru Kanaya seraya menghambur ke arah sang ibu. Satu pelukan hangat mampu meluruhkan rindu yang selama ini dipendamnya.
"Nay kangen sekali, bu."
"Masuklah, nduk. Bapakmu ada di kamarnya."
"Mbaaak Nay..." seru kedua adiknya begitu melihat Kanaya masuk ke dalam kamar.
"Duh, mbak kangen banget sama kalian." ujar Kanaya menciumi satu per satu pipi sang adik lalu segera menghampiri bapak yang sedang duduk di atas tempat tidur bersandar pada kepala ranjang.
"Bagaimana keadaan bapak? Maaf Nay baru bisa pulang sekarang." sapa Kanaya sambil mencium punggung tangan bapak.
"Alhamdulillah, nak. Bapakmu ini masih diberi umur panjang sama Gusti Allah. Berkat do'amu juga."
Kanaya menemani sang bapak mengobrol sembari memijit telapak kaki beliau. Mereka berdua melepas rindu satu sama lain. Kanaya adalah anak sulung yang selalu dimanjakannya dulu. Namun, anak gadisnya itu telah tumbuh menjadi perempuan dewasa sekarang bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Hal itu membuat hati sang bapak terharu.
"Bagaimana pekerjaanmu di Jakarta, nduk?" tanya Ibu saat mengantar teh manis hangat untuk Kanaya di kamar.
"Baik bu. Nay betah kerja di sana. Gajinya juga lumayan besar. Kadang juga dapat bonus dari kantor bu."
"Oh, ya? Alhamdulillah kalau begitu nak. Ibu bersyukur atas rezeki yang Allah berikan pada keluarga kita. Terutama di saat bapakmu sakit."
"Iya bu. Oh ya, Nay ingin ke rumah pakde Dibyo untuk silaturahmi sekaligus berterima kasih atas bantuan beliau pada keluarga kita bu. Apa beliau masih tinggal di rumah yang dulu itu bu?"
"Sepertinya sudah pindah nduk. Kalau yang dulu itu kan rumah dinasnya. Sekarang pakde Dibyo sudah pensiun. Sepertinya dia tinggal sama putranya yang kerja di bank itu loh. Siapa ya namanya ibu lupa."
"Mas Galih ya bu?" ujar Kanaya berusaha mengingat-ingat.
__ADS_1
"Nah iya betul. Galih. Yang dulu sering ngajak kamu main sepeda itu kan?"
Kanaya tersenyum mengingat kenangan masa kecilnya dulu. Keluarga Kanaya dan pakde Dibyo memang terbilang sangat dekat. Meski tidak ada pertalian darah, ayah Kanaya dan beliau adalah sahabat semasa SMA dulu.
"Kemarin pakde Dibyo datang menjenguk. Bahkan dia bawa jajan pasar kesukaan bapakmu, nduk. Baik sekali dia itu. Galih juga ikut. Ibu pangling sama Galih, dewasa sekali sekarang penampilannya."
Bagaimana rupa mas Galih sekarang ya? Terakhir ketemu dulu waktu kami sekeluarga diundang ke acara pernikahan putra sulung pakde Dibyo 7 tahun lalu, kalau tidak salah.
"Tapi kata Dibyo si Galih sampai sekarang belum mau berumah tangga, bu. Padahal umur sudah cukup, pekerjaan juga sudah mapan. Mau tunggu apa lagi? Bapak nggak ngerti sama jalan pikiran anak muda jaman sekarang." terang bapak menimpali pembicaraan.
"Mungkin belum ketemu sama jodohnya kali, pak. Hehehe." jawab Kanaya asal.
Suasana rumah Kanaya terasa hangat karena kedatangannya. Bapak, ibu serta adik-adiknya begitu merindukan kehadiran gadis itu. Hampir enam bulan Kanaya merantau ke Jakarta seorang diri. Namun, selama itu pula, Kanaya menjadi seorang perempuan yang tangguh dan berani. Hal itu membuat kedua orang tuanya merasa bangga.
...****...
Malam ini, Kanaya sedang beristirahat di dalam kamarnya. Seharian ini ia merasa puas bercengkerama bersama seluruh anggota keluarganya. Rasa rindunya pun terbayar sudah. Namun, di dalam hati ia merasa ada yang kurang.
Sedang apa mas Reino ya? Rasanya kangen juga seharian nggak ketemu dia.
Kanaya mengambil Hp dari atas meja belajar sang adik, lalu mengirim pesan lewat chat.
Kanaya
..........................................................
Kanaya menunggu lama namun Reino tak kunjung membalas pesannya hingga akhirnya ia pun tertidur.
Drrtttt...drrttttt....
Hp Kanaya bergetar di bawah bantal, membuat gadis itu terkejut dan bangun.
Reino Memanggil.......
"Assalamualaikum, mas." sapa Kanaya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Wa'alaikumsalam, sayang. Udah tidur ya? Maafin aku ya bangunin kamu."
Kanaya mengucek-ngucek kedua matanya lalu menguap beberapa kali.
"Nggak apa-apa mas. Kok malem banget teleponnya mas? Apa mas baru pulang?" tanya Kanaya setelah melihat jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan angka 10.
"Iya, sayang. Aku baru aja nyampe rumah. Tadi ada undangan acara ulang tahun kolega. Sebenernya, aku mau ajak kamu ke acara itu, tapi keduluan kamu mudik sayang."
"Oh ya? Ulang tahun siapa mas?"
__ADS_1
"Mamanya Jessica."
"Ooo..."
Kenapa saat mas Reino menyebut nama wanita itu hatiku gelisah ya?
Kanaya terdiam. Ia membayangkan Reino bersama Jessica tadi. Ia tahu betul kelakuan wanita itu. Tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati Reino.
"Kok diem aja sayang? Ngantuk ya? Apa kamu nggak kangen sama aku?" rajuk Reino bermanja. Sebenarnya dialah yang sedang merindukan Kanaya.
Seharian di kantor, Reino tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Wajah Kanaya selalu menari di benaknya. Padahal baru sehari mereka tak bertemu.
"Mas,"
"Iya, sayang, ada apa?"
Kanaya kembali terdiam. Otaknya sedang berfikir dan merangkai kalimat agar pertanyaan yang akan dilontarkannya pada Reino tidak menyinggung perasaan laki-laki itu.
"Apa tadi Jessica mendekati mas Reino? Maksudku, apa dia melakukan sesuatu yang membuat mas Reino tertarik? Secara dia kan wanita yang cantik sempurna..."
Kamu cemburu ya Nay.
"Ehemm..sepertinya ada yang sedang cemburu nih." tebak Reino seraya mengulum senyum.
Kanaya menarik nafas dalam-dalam berusaha menetralisir rasa sesak di dadanya.
"Aku serius mas. Tolong jawab pertanyaanku."
"Sayang, dengarkan aku baik-baik. Aku nggak pernah tertarik sedikitpun sama Jessica. Kalo pun tadi aku datang ke pesta, itu cuma untuk menghormati orangtua Jessica aja. Nggak lebih. Lagian kamu ini pikirannya macem-macem sih sayang. Cemburu nih ye..."
"Iyaaa..aku cemburuuu. Nggak boleh?"
"Hahaha. Boleh dong sayang. Itu tandanya, kamu sayang banget sama aku kan. Andai kamu sekarang ada di depanku pasti deh aku peluk."
"Gombaaal."
"Biarin. Sama pacar sendiri juga."
"Awas kalo berani godain perempuan lain ya!" tegas Kanaya memberi ultimatum.
"Ampun sayang, nggak berani deh."
Senyum mengembang di wajah Kanaya. Malam ini kehadiran Reino lewat telepon cukup membuat hati gadis itu sedikit tenang. Tadinya ia juga merasa gelisah karena seharian tadi tidak ada komunikasi sama sekali dengan Reino.
...----------------...
__ADS_1