Merindukan Rembulan

Merindukan Rembulan
Penghalang Masa Depan


__ADS_3

Radit berdiri mematung disamping ranjang pasien tempat Mentari kini terbaring lemah tak berdaya dengan pergelangan tangan yang sudah terbalut perban dan juga terpasang selang infus.


Radit menatap datar wanita yang masih memejamkan mata dengan wajah yang sedikit pucat itu.Tidak ada lagi rasa cemas dan juga simpati terhadap Mentari yang selalu melakukan hal yang sama disaat mereka ditimpa masalah.


Jengah dengan semua yang telah terjadi antara dirinya dan sang istri membuat Radit menjadi bersahabat dengan minuman beralkohol.


Ingin sekali megakhiri hubungan yang sudah tidak sehat itu sejak satu tahun menjalani pernikahan mereka namun tanpa keluarga dan yang lain tahu kalau Tari selalu melakukan hal yang sama


Dan itu yang membuat Radit masih tetap bertahan karena Radit tidak ingin kalau dirinya menjadi alasan seseorang mengakhiri hidupnya.


*


*


Flash Back...


Radit mengerjapkan matanya saat suara ponselnya terus menerus berbunyi dan mengganggu tidur lelapnya dengan Rembulan disamping nya.


"Halo,ada apa Bi?"tanya Radit malas saat melihat nama Fabian tertera dilayar ponselnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Kerumah sakit sekarang Kak.Mbak Tari masuk rumah sakit"jawab Fabian dari sebrang sana.

__ADS_1


"Dia melakukan itu lagi?"tanya Radit santai saat mendengar Tari masuk rumah sakit


Tidak ada lagi rasa cemas didalam diri Radit saat istrinya kembali masuk rumah sakit karena percobaan bunuh diri yang selalu dia lakukan untuk menekan Radit agar tidak pergi dari sisinya.


"hhmmm"jawab Bian datar seolah itu juga sudah biasa untuknya.


"Baiklah Kakak akan kesana.Tinggalah disana dulu sampai Kakak datang"


Radit pun menutup panggilan telpon nya dengan Bian setelah mendengar jawaban dari Bian yang lagi lagi hanya deheman.


Namun bukannya segera beranjak dari tidurnya Radit malah semakin mempererat pelukan nya pada tubuh Bulan dan kembali menarik selimut yang sempat merosot untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Rembulan yang masih sama sama polos.


Disaat akan memejamkan matanya kembali Radit dikejutkan dengan sebuah gerakan yang berasal dari perut buncit Bulan.


"Bangun Dek,perut kamu dari tadi gerak terus"ucap Radit membangunkan wanita yang masih terlelap dengan nyaman nya diatas lengan Radit yang dia gunakan sebagai bantal untuk kepalanya.


"Kenapa Kak?Kakak mau pergi ya?"tanya Bulan yang belum tersadar sepenuhnya


"Nggak Kakak belum mau pergi kok,cuma itu perut kamu gerak terus apa baby Bintang baik baik saja?"tanya Radit yang masih awam dengan kehamilan secara walaupun sudah tiga tahun menikah namun Tari tak kunjung bersedia mengandung anaknya.


Dan hal itu baru Radit rasakan saat ini,saat dimana ada wanita lain yang menmgandung anaknya,darah daging nya.

__ADS_1


"Tentu"jawab Bulan singkat


"Aku baik baik saja papah,aku hanya senang Papa ada disini bersama aku dan Mamah"lanjut Bulan menirukan suara anak kecil.


Radit terkejut saat mendengar jawaban Bulan yang menirukan gaya anak kecil yang sedang menjawab pertanyaan Papahnya dan itu membuat Radit terharu.


Pasalnya ini yang selalu dinanti selama umur pernikahan nya dengan Mentari namun Mentari selalu saja menolak untuk hamil dengan berbagai alasan yang membuat Radit akhirnya menyerah untuk mendapatkan keturunan dari Mentaru.


Radit menatap lekat muka bantal Bulan dan seketika Bulan menyembunyikan wajahnya dibalik selimut yang masih menutupi tubuh polos kedua nya.


Perlahan Radit menarik selimut yang wajah merona Bulan.Radit tersenyum sembari membelai sayang surai hitam legam milik Bulan yang masih acak acakan namun itu tidak membuat kecantikan Rembulan pudar.


"Boleh Kakak tanya sesuatu?"ucap Radit saat kedua nya berbaring saling berhadapan.


"Apa?Kakak mau tanya apa?"jawab Bulan gugup mendapat tatapan yang cukup intens dari pria yang membuat hatinya bergetar.


"Kenapa kamu tetap mempertahankan anak ini?padahal bisa saja kamu membuangnya disaat dia masih berbentuk gumpalan darah.Apa kamu tidak merasa kalau anak ini akan menghalangi masa depan kamu?karir yang kamu impi impikan mungkin saja akan terhambat dengan adanya dia"


Bulan tersenyum mendengar pertanyaan Radit.Namun apa yang dikatakan Radit ada benarnya tapi Bulan bukanlah monster yang harus melenyapkan kehidupan baru didalam tubuhnya demi impian dan cita citanya.


*

__ADS_1


*


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2