
Seketika Radit tersadar dari lamunan nya saat menatap wajahnya dimasa kecil dulu namun dalam persi yang berbeda tengah mengembun dan cairan bening itu hampir saja turun ke pipi mulusnya.
"Hey,kenapa menangis?apa sakit sekali?"tanya Radit meneliti luka yang ada dilurut Bintang dan Bintang hanya menganggukkan kepalanya.
"Tidak apa apa,nanti om akan bantu obati ya.Mau ikut om kedalam?"tanya Radit lagi setelah berhasil menguasai dirinya dari rasa keterkejutan nya bertemu dengan gadis kecil yang entah siapa namun wajahnya begitu mirip dengan nya dimasa kecil dulu.
Namun gelengan kepala yang cepat menandakan kalau gadis kecil itu menolak untuk di ajak pergi.Kekehan kecil pun terdengar lirih dari seorang Radit yang membuat Dani asisten nya terkesiap saat melihat sebuah senyuman hadir diwajah yang selalu menampakan wajah dingin nya.
Lima tahun sudah wajah tampan Radit kehilangan senyum itu.Senyum yang dulu selalu mengisi hari hari pemuda yang kini sudah menginjak kepala 3 itu.
"Seprtinya Ibumu mendidikmu dengan baik Nak"gumam nya yang terus menatap wajah imut itu seakan tidak ingin kehilangan lagi kesempatan menatapnya.
"Baiklah kalau duduk dibangku taman itu,mau?"tanya Radit lagi sembari menunjuk sebuah kursi kayu yang terdapat ditaman tempatnya biasa main.
__ADS_1
"Iya ayo Bin,lebih baik obati dulu luka mu nanti tante Sekar tidak akan mengijinka kita main disini lagi"ucap Gusti yang khawatir melihat lutut Bintang yang berdarah.
"Sekar?siapa Sekar?"tanya Radit menoleh ke arah Gusti yang tadi menyebut nama yang cukup asing ditelinga nya.
"Itu Mamahnya Bintang om.Tente Sekar memang baik tapi akan sangat marah kalau Bintang terluka dana ku takut tidak diperbolehkan lagi main dengan Bintang"jelas Gusti menundukan kepalanya dan meremas tangannya yang saling bertautan.
"Mamah nggak akan marahin kamu kok Gus.Kamu tenang aja Mamah pasti masih ijinkan kita main.Baiklah om Bintang mau di obatin tapi dikursi taman aja ya"ucap Bintang,akhirnya mau menerima bantuan Radit karena tidak ingin sang Mamah marah dan melarang nya lagi untuk bermain bersama dengan Gusti.
"Baiklah.Dan tolong ambilkan kotak P3K didalam resort ya,aku tunggu dibangku taman itu"titah Radit pada Dani asisten nya.
Radit pun membawa Bintang ke kursi taman dalam gendongan nya.Namun entah mengapa jantung Radit berdebar dengan begitu cepat dan ada gelenyar aneh dalam diri Radit saat membawa Bintang dalam dekapan nya.
Perlahan Radit pun menurunkan Bintang untuk duduk dikursi kayu itu di ikuti oleh Gusti yang duduk disamping nya dan Radit sendiri langsung berjongkok didepan Bintang meneliti dengan seksama luka yang ada dilutut Bintang.
__ADS_1
"Ini Pak kotak obatnya"ujar Dani yang tak lama dari Radit tiba di kursi taman Dani pun ikut menyusul dengan membawa kotak yang diminta oleh Radit tadi.
"Iya Dan,terima kasih"ucap Radit sembari mengambil kotak itu dari tangan Dani.
"Om akan bersihkan dulu lukanya baru akan Om kasih plester ya.Kalau perih tahan ya cuma sebentar kok"ucap Radit lagi yang kini dia tujukan pada Bintang.
"Iya Om,maaf Bintang sudah merepotkan Om"ujarnya sendu.
"Nggak apa apa,itukan kecelakaan.Lain kali lebih hati hati lagi ya,jangan berlarian bahaya apalagi dijalan yang cukup ramai"Radit menasehati gadis kecil itu sembari mulai membersihka lika Bintang.
"Nah selesai.Ingat kata Om jangan lari lari lagi,Ok"ucap Radit setelah selesai memasang plester di lutut Bintang.
"Iya siap Om,terima kasih"jawab Bintang tersenyum dan lagi lagi membuat Radit terkesiap melihat senyuman diwajah mungil itu.
__ADS_1
Betapa tidak,senyuman itu kembali mengingatkannya pada wanita yang sudah lima tahun ini dia cari tapi belum juga menemukan titik temu dimana keberadaannya saat ini.
"Bintang..."seru seseorang dari arah belakang tubuh Radit yang lagi lagi membuat jantung Radit seakan terhenti saat mendengar suara yang begitu dia rindukan dan dia cari selama ini.