Merindukan Rembulan

Merindukan Rembulan
Bab.56


__ADS_3

"Maksud Kakak apa?ke_kenapa kalian berpisah?bukankah kalian saling mencintai"tanya Bulan tak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini.


Radit menatap dalam wajah Rembulan yang kian merona karena ulahnya.Bagaimana tidak kini tubuh kekar Radit berdiri diantara paha Bulan yang memang duduk di atas meja kasir.


Tangan Radit berada disisi kanan dan kiri pinggang Bulan yang bertumpu pada meja.Sudah kebayangkan bagaimana dekatnya wajah Bulan dan juga Radit saat ini hingga Bulan pun bisa merasakan hangatnya hembusan nafas yang Radit keluarkan dari hidungnya.


"Dulu aku memang mencintainya.Tapi seiring waktu berjalan aku menyadari kalau yang aku rasakan mungkin bukanlah cinta namun hanya rasa simpati dan juga rasa takut jika Tari melakukan hal yang berbahaya dengan namaku sebagai alasannya dan kamu tahu?aku bahkan jauh lebih tersiksa berpisah denganmu dari pada berpisah dengan nya"ucap Radit yang semakin memajukan wajahnya namun dengan cepat Bulan memalingkan wajahnya saat merasa kalau wajah Radit sudah terlalu dekat dan membuat jantungnya tidak baik baik saja.


"Ja_jangan begini Kak,Bi_Bintang sebentar lagi pulang"lirih Bulan yang bertambah gugup saat Radit tanpa rasa malu dan canggung terus mengendus dan menciumi pipi dan leher jenjang Bulan.


Seketika pergerakan Radit pun terhenti saat Bulan menyebutkan nama Bintang.Radit teringat akan niatnya datang kemari namun hilang kendali saat melihat tubuh indah Bulan yang nampak lebih berisi namun nampak seksi dimatanya.


"Kamu hutang penjelasan untukku tentang Bulan dan juga nama Sekar yang kini kamu pakai"ucap Radit memberi jarak dan segera menurunkan Bulan dari atas meja.

__ADS_1


"Nanti aku akan jelaskan tapi sekarang aku harus jemput Bintang dulu disekolah"ujar Bulan segera berlalu dari hadapan Bulan namu baru saja dua langkah Radit kembali membawa Bulan dalam pelukkan nya.


"Kakak"pekik Bulan saat Radit kembali memeluknya begitu erat.


"Bintang sudah didepan dia bersama dengan orang yang akan menjaganya dengan baik jadi tenang saja.Biarkan kita begini sebentar lagi saja,ya?aku benar benar kangen sama kamu Dek"


Bulan pun membiarkan Radit memeluknya karena jujur Bulan juga sangat merindukan pria itu.Pria yang sudah memberikan nya seorang anak yang cantik,lucu dan juga pintar.


*


*


Bintang mengerutkan dahinya saat melihat sang Mamah duduk berdua bersama orang yang kemarin bertabrakan dengan nya dan membantunya mengobagi luka dilututnya.

__ADS_1


Melihat sang anak sudah masuk Radit pun beranjak dari duduknya dan berjongkok dihadapan Bintang.


"Hai sayang,anak Papah sudah sebesar ini ternyata"ucap Radit sembari membelai pucuk kepala Bintang yang menatap bingung pada Radit.


"Papah?maksud Om apa?kenapa Om menyebut Papah?apa Om mau bilang kalau Om adalah Papahku?"tanya Bintang bingung.


"Iya sayaàang,ini Papah Nak.Papah Bintang,Bintang nggak mau peluk Papah?"tanya Radit dengan mata yang berkaca kaca.


Bintang yang masih belum percaya dengan apa yang pria dewasa itu katakan menoleh dan menatap Bulan untuk meyakinkannya.


Dengan senyum tipis Bulan pun menganggukan kepala nya sebagai tanda kalau apa yang dikatakan Radit benar adanya.


Bukannya memeluk sang ayah yang begitu dia rindukan itu yang kini ada dihadapan nya Bintang malah berjongkok dan menangis yang membuat Bulan maupun Radit kebingungan dengan reaksi Bintang saat bertemu langsung dengan sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2