Merindukan Rembulan

Merindukan Rembulan
Bab.85


__ADS_3

Setelah selesai menuliskan resep vitamin dan obat anti mual untuk Mentari,Selia pun segera pamit dari kamar itu.


Terlalu sesak untuknya jika harus terus berada diruangan yang sama dengan Abra yang jelas jelas sudah dimiliki wanita lain.


Dan bodohnya Selia tidak tahu tentang pernikahan Abra yang entah dilakukan kapan.Ayah Abra pun nampaknya tidak tahu akan hal ini karena baru minggu kemarin membahas perjodohan Abra dan Selia.


Hubungan Abra dan sang ayah memang ditidak sebaik yang dilihat orang.Bahkan jika diluar kantor mereka bak orang asing yang tidak pernah bertegur sapa sama sekali.


Dan setelah mengantarkan Selia hingga depan pintu,Abra pun kembali kekamar dan ijin kepada Mentari untuk keluar sebentar untuk pergi membeli obat dan vitamin tadi.


Mentari menatap sendu punggung Abra yang sudah hilang dibalik pintu.Mentari tahu betul kalau kini diamnya Abra karena keteledoran dan kecerobohan nya yang suka lupa meminum pil KB yang sudah disiapkan.


Sekuat tenaga Mentaroi menahan sesak saat Abra tiba tiba berubah jadi diam dan hanya bicara seperlunya.


"Sesakit inikah yang dirasakan Mas Radit dulu saat aku terus terusan menolak untuk mengandung anaknya?ya Allah maafkan aku,maafkan atas segala kekhilafan ku"lirih Mentari dalam hati sembari mengusap perutnya yang masih terlihat rata.

__ADS_1


Ada rasa haru dan juga bahagia saat tuhan langsung memberikan nya kepercayaan sebuah kehidupan baru,nyawa baru didalam tubuhnya.


Namun tidak dapat dipungkiri kalau rasa takut akan penolakan Abra akan janin nya itu membuat Mentari dilanda kegelisahan yang teramat dalam.


Apa lagi Abra yang biasanya cerewet tadi sempat berubah diam setelah mengetahui kalau dirinya tengah hamil,padahal Abra sudah jelas jelas mengatakan untuk menunda kehamilan.


Setelah 30 menit berlalu Abra pun masuk kembali kedalam kamar yang hanya dihuni oleh Tari seorang,karena semua masih sibuk mengurusi pernikahan Bulan dan Radit.


"Maaf Mas"lirih Tari saat Abra duduk disampingnya menyiapkan obat untuk Tari karena sebentar lagi keduanya harus ikut naik kepelaminan untuk menyambut para tamu.


"Maaf karena aku ceroboh dan tidak bisa menjalankan amanahmu dengan baik"jawab Tari sendu.


"Kamu bicara apa sih sayang,hhmm?"tanya Abra lagi yang langsung menangkup dan menarik wajah Tari agar melihat ke arahnya


"Maaf karena kecerobohan aku,kini aku hamil padahal Mas sudah jelas mewanti wanti untuk menundanya.Maaf"kini Tari mejawab dengan derai air mata membasahi wajah cantiknya.

__ADS_1


Pernah gagal dalam berumah tangga karena ke egoisan nya membuat Tari begitu takut hal itu erulang kembali,apalagi kini didalam hatinya sudah tersemat nama Abra.


Abra tersentak,dia menyadari kesalahan nya.Abra sebenarnya senang mendapat kabar kehamilan Tari.


Hanya saja dia terlalu shock jadi memilih diam karena tidak tahu harus berbuat apa.Namun didalam hati begitu mensyukuri kehadiran sang buah hati didalam rumah tangga mereka meski baru dijalani selama dua minggu.


Tidak tega melihat kesedihan sang istri Abra pun langsung memeluk erat tubuh Tari yang bergetar karena tangisnya.


"Kenapa menangis?bukankah ini kabar bahagia buat kita?kita akan menjadi Papah dan Mamah"ucap Abra membelai sayang surai Tari yang tertutup hijab.


Mendengar ucapan Abra,Tari pun segera menghentikan tanagisnya dan mengurai pelukan Abra.


"Mas tidak marah?"tanya Tari mendongakkan kepalanya menatap ke arah wajah Abra.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2