
Sementara disebuah Bandara internasional Bali terlihat wanita hamil berjalan menelusuri area bandara mencari sebuah taksi yang bisa dia tumpangi untuk membantunya ke tempat yang ditujunya saat ini.
Bulan pun menunjuk satu taksi dan meminta supir taksi itu membawanya kesebuah hotel yang terletak dipinggir pantai kuta.
Sejenak Bulan ingin menepi dan menenangkan diri serta pikiran nya dengan tinggal beberapa saat disana sambil memikirkan akan kemana dia bawa langkah kakinya agar tidak bisa ditemukan oleh Radit dan juga Mentari.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 menit dari Bandara.Bulan pun tiba disebuah hotel ternama disana dan memesan sebuah kamar yang sebelumnya telah dia pesan lewat aplikasi diponselnya.
Dengan dibantu oleh salah satu petugas hotel untuk membawakan kopernya Bulan mengikuti langkah pria muda yang diperkirakan seumuran dengan nya.
"Ini kamar yang anda pesan nyo___???eem maaf saya harus panggil apa ya?nyonya apa nona?"ucap pria yang bername tag Abra Prayan itu kebingungan.
Secara kondisi Bulan saat ini yang terlalu muda untuk dipanggil nyonya tapi sedang hamil besar dan membuat pria bernama Abra itu kebingungan.
__ADS_1
"Panggil senyaman nya kamu saja,aku tidak keberatan kok"jawab Bulan dengan senyum manisnya membuat pria bernama Abra itu terpesona dengan kecantikan alami milik Bulan walaupun tanpa polesan makeup.
"Apa aku sudah bisa masuk?"tanya Bulan saat melihat roomboy itu hanya diam terpaku menatapnya.
Seketika lamunan Abra pun membuyar saat lengan disentuh oleh tangan lembut milik Rembulan.
"Ah,maaf.Iya silahkan masuk,jika butuh bantuan nona bisa menghubungi saya atau rekan yang lain yang sedang bertugas"jelasnya sembari membantu membukakan pintu kamar hotel dan membawakan koper milik Bulan masuk kedalam kamar dan pamit undur diri meninggalkan Bulan dikamar yang akan dia tempati entah sampai kapan Bulan sendiri pun tidak tahu.
Sepeninggalan roomboy tadi Bulan pun mendudukan tubuh lelahnya dipinggir ranjang.Bulan menghela nafas panjang kala rasa sesak itu kembali terasa.
*
*
__ADS_1
Radit sendiri kini tengah disibukan dengan pekerjaan yang sempat terabaikan oleh hilangnya Bulan dan juga urusan perceraian nya dengan Mentari.
Radit mengehentikan gerak tanagn nya yang sedari tadi terus menari nari indah diatas keyboard laptop nya saat seseorang tanpa permisi masuk begitu saja kedalam ruangan nya.
"Ada apa kemari?maaf aku sibuk"ujar Radit yang kembali fokus dengan pekerjaan nya dan tidak memperdulikan orang yang kini duduk didepan nya dengan senyum manis yang dia punya.
"Kita makan siang diluar yuuk.Sudah lamakan kita tidak makan bersama diluar"jawabnya mengabaikan bagaimana dingin nya sikap Radit saat ini.
"Ya itu karena kamu terlalu sibuk dengan dunia kamu Ta dan mengabaikan apa yangh seharusnya menjadi prioritas kamu sebagaoi seorang istri"ucap Radit lagi yang bagaikan sebilah pisau yang menusuk tepat didada Mentari
"Ayolah Mas,beri aku kesempatan untuk berubah dan kita mulai dari awal semuanya"ucap Tari lagi berusaha membujuk Radit agar mau kembali padanya.
Takkk....
__ADS_1
Namun sepertinya hal itu malah membuat pria yang sudah terlihat tenang itu kembali tersuluit emosi oleh tingakah Mentari yang lagi lagi memaksakan kehendaknya terbukti dengan tindakan nya yang menyimpan bolpen yang tengah dia gunakan dengan begitu bertenaga hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring diruangan itu dan membuat Mentari terlonjak kaget.
"Berubah?memulai dari awal?huufftt,ayolah Ta kita sudah tidak berada di umur yang segala sesuatu itu bisa kita mulai dari awal.Dua tahun Ta,dua tahun aku habiskan dengan sia sia berharap masa depan kita akan indah dengan hadirnya anak anak yang lucu namun apa?apa Ta?kamu memberi kejutan yang membuat aku gelap mata dan menjadi orang berdosa dengan mengahancurkan hidup seorang gadis.Lalu dengan mudahnya kamu datang dengan mengatakan 'Ayo kita mulai semua dari awal'.Awal yang mana Ta?awal kita pacaran?awal kita nikah?bahkan saat ini aku berpikir sebenarnya sejak pertama kali kita bertemu dan menjalin hubungan kita memang tidak memiliki kata 'AWAL' itu".