Merindukan Rembulan

Merindukan Rembulan
Bab.78


__ADS_3

Dengan langkah pasti kini Mentari semakin mendekatkan tubuhnya dengan Abra lalu..


Buuukkkk...


Buuukkkk...


Plaaakkkk...


Plaaakkkk...


Sreettt....


"Dasar bajingan,brengsek,kurang ajar,jahat kamu jadi orang,keterlaluan,aku benci kamu,aku benci kamu dasar cowok brengsek"umpat Tari sembari terus memukul perut dan menampar wajah tampan Abra.


Sementara Abra hanya bisa pasrah saat Tari memukulinya tubuhnya secara bertubi tubi.Abra tidak peduli lagi dengan rasa sakit ditubuhnya karena Abra tahu rasa sakit yang dia rasakan saat ini tidak seberapa dengan rasa sakit yang Mentari rasakan.


Meski bukan lagi perawan namun melakukan hal itu dengan dipaksa apalagi di antara keduanya belum terikat pernikahan tentu sebuah hal yang membuat Mentari hancur dan tersiksa.


Melihat Abra yang hanya diam saat menerima hukuman dari Mentari Bu Asih dan Laras pun melepaskan pegangan nya dilengan Abra dan meninggalkan keduanya untuk berbicara dari hati ke hati.


Karena Bu Asih yakin setelah emosinya terlampiaskan Mentari pasti bisa diajak bicara oleh Abra.

__ADS_1


Setelah pukulan Mentari melemah dan tubuh Mentari hampir merosot Abra dengan sigap menangkap tubuh wanita yang masih menangis dihadapan nya itu


"Maafkan aku,sungguh aku tidak bermaksud melakukan itu padamu"bisik Abra setelah berhasil menarik Mentari masuk kedalam pelukan nya.


"Kamu jahat,kamu brengsek,kamu bajingan.aku benci sama kamu"lirih Mentari.


"Iya aku tahu,karena itu maafkan aku.Aku janji aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan padamu,sungguh percayalah padaku,Ok"jelas Abra lagi yang semakin membuat Mentari tambah menangis dipelukan Abra.


*


*


.


Abra masih meringis memegangi pipinya yang terasa panas dan juga perih akibat ditampar lalu dicakar oleh Mentari.


Tidak lupa juga dengan perutnya yang masih berdenyut akibat bugem mentah yang dilayangkan oleh wanita yang kalau dari penampilannya begitu terlihat anggun dan lemah lembut namun cukup bertenaga saat melayangkan pukulan nya.


Terbukti dengan Abra yang terus meringis karena rasa sakit yang dia rasa setelah menerima pukulan,tamparan dan juga cakaran dari tangan Mentari.


Sementara Mentari sendiri sudah kembali masuk kedalam kamar bersama dengan Laras untuk menenangkan diri dan beristirahat setelah aksinya yang terus memukul Abra sembari menangis.

__ADS_1


"Lalu apa yang akan kamu lakukan Nak?"tanya Bu Asih pada Abra sembari membawa kotak obat untuk mengobati luka diwajah sang anak.


"Jika kondisi Mentari sudah lebih baik aku akan mengantarkan nya pulang sekaligus meminta ijin dan restu kedua orang tuanya untuk menikahi dia Mah"jawab Abra mantap akan mempersunting Mentari untuk mempertanggung jawabkan perbuatan nya.


"Baiklah kalau begitu,Mamah akan ikut serta denganmu Nak,biar Mamah yang akan bicara dengan kedua orang tuanya serta meminta maaf atas apa yang sudah kamu lakukan pada putri mereka"


"Iya Mah,Abra akan mempertanggung jawabkan semua kesalahan yang Abra lakukan pada Mentrai"


"Ok,lebih baik kamu obati dulu luka diwajahmu setelah itu beristirahatlah kamu pasti cape"


"Iya Mah terima kasih"


"Mamah pulang dulu ya,besok pagi Mamah akan kembali kemari"


"Kenapa Mamah tidak menginap saja?bukan nya masih ada kamar tamu?biar Abra tidur disofa saja"tanya Abra yang seakan enggan ditinggalkan oleh sang Ibu.


"Mamah harus memeriksa barang yang datang hari ini jadi maaf untuk malam ini Mamah tidak bisa menginap.Tapi tenang saja jika ada apa apa kamu langsung telpon Mamah saja,Ok"


"Iya baiklah kalau begitu,Mamah Hati hati ya.Atau perlu Abra antar?


"Tidak usah Mamah sudah pesan taksi online.Lagi pula lebih baik kamu disini saja,temani Laras dan juga Mentari"

__ADS_1


__ADS_2