Merindukan Rembulan

Merindukan Rembulan
Bab.66


__ADS_3

Bruggkkkk....


"Aaawww ssttt"


Mentari dibuat kaget dengan seseorang yang tanpa sengaja menabrak tubuhnya saat keluar dari lift yang menuju area dimana kamar yang dia pesan berada.


"Maaf.maafkan saya.Apa anda baik baik saja nona?"ujar pria yang baru saja akan memasuki lift yang digunakan oleh Mentari.


Deg....


Namun jantung pria itu seakan berhenti berdetak saat netranya mantap wajah cantik yang begitu dia rindukan selama lima tahun ini.


Walaupun keduanya dulu tidak sempat berhubungan dekat dan hanya sebatas saling kenal san saling tahu saja tidak lebih dari itu namun sosok wanita muda yang tengah hamil itu mampu membuat hatinya gelisah tidak bisa tidur.


Namun setelah satu minggu berlalu entah apa dan entah kemana dia pergi,menghilang tanpa jejak dan itu membuat Abra merasa frustasi hingga menerima tawaran sang ayah untuk kembali melanjutkan studinya keluar negri dan baru kembali satu minggu yang lalu untuk mengambil alih hotel yang dulu dipegang oleh sang ayah.


"Bu_Bulan"gumam Abra yang masih terdengar jelas oleh pendengaran Mentari.

__ADS_1


"Maaf anda salah orang saya bukan Bulan"jawab Mentari bergegas keluar dari dalam lift yang hanya berisikan dirinya dan pria asing tadi.


"Tunggu Bulan,kamu Bulankan?"tanya Abra menghentikan langkah Mentari karena cengkraman tangannya dipergelangan tangan Mentari.


"Astaghfirullahaladzim"pekik Mentari menghempaskan tangan Abra yang sudah lancang mencengkram tangan nya.


"Ah,ma_maaf.Tapi kamu benar benar buka Bulan?"tanya lagi yang masih penasaran dengan sosok wanita berhijab syar'i yang ada didepan nya itu.


"Tentu saja bukan.Jika tidak percaya silahkan periksa dimeja resepsionis tentang data penghuni kamar 205.Itupun kalau anda bisa mendapatkan nya"ujar Mentari yang langsung pergi meninggalkan pria yang sudah salah mengenali orang itu.


"Ok kita lihat siapa kamu sebenarnya dan jika itu kamu Bulan.Maka aku tidak akan melepaskanmu lagi"gumam Abra tersenyum licik saat melihat punggung Mentari yang sudah menghilang masuk kedalam kamar 205.


*


*


"Mentari Anindi Laksono"gumam Abra saat melihat data diri Mentari yang diberikan asisten nya 10 menit yang lalu.

__ADS_1


Kini Abra sudah berada didalam kantor yang berada dilantai paling atas gedung hotel itu.Tak henti hentinya dia mantao data diri sari seorang Mentarai Anindi Laksono yang berwajah mirip dengan Rembulan.


Wanita muda yang tengah hamil besar yang sudah mencuri hatinya karena selalu terlihat murung disepanjang liburan nya disana.


Bahkan raut wajah sedih nampak terlihat disaat hari terakhir keduanya bertemu.Saat itu Abra yang tengah menjalankan hukuman dari sang ayah karena kenakalan nya yang kerap melakukan balapan liar.


Yang menjadikan nya seorang roomboy hotel itu bertemu dengan Rembulan yang tengah melakukan pelarian dari Radit dan juga Mentari.


Kehadiran Bulan ternyata mampu membuat pria berumur 21 tahun(saat itu) kembali bersemangat menjalankan hukuman nya yang pada awalnya dia habiskan hanya dengan marah marah.


Namun saat Bulan berada disana Abra cukup getol menjalani tugasnya menjadi seorang roomboy bahkan begiti giat untuk anak sultan seukuran Abra.


Abra pun kembali dibuat frustasi saat mengetahui kalau Bulan telah keluar dari hotelnya dan pergi entah kemana.


Saking stress nya yang tak kunjung mendapatkan informasi apa apa tentang gadis itu Abra pun akhirnya menerima tawaran sang ayah untuk kembali melanjutkan studinya diluar negri agar bisa menggantikan sang ayah jika ayahnya nanti sudah tidak sanggup lagi bekerja.


Dan kini disinilah dia saat ini.Duduk dimeja kebesaran seorang CEO yang dulu menjadi tempat sang ayah bekerja dan kini digantika olehnya.

__ADS_1


Abra tersenyum kecut saat menyadari kalau wanita yang barusan bukan lah wanita yang dia cari dan dia rindukan selama lima tahun ini.


__ADS_2