
Bulan terlonjak kaget saat sepasang tangan kekar melingkari tubuhnya dan memeluk erat tubuhnya dari arah belakang.
"Kalau rindu kenapa terus bersembunyi,hhhmm?"bisik pria yang kini memeluknya itu.
"Kamu tahu?aku juga hampir gila karena merindukanmu tapi tidak juga bisa menemukanmu"lirih si pria yang kini menenggelamkan wajahnya dibahu Rembulan.
Bulan kembali terkesiap saat merasakan tubuh kekar itu kini bergetar.Apakah Radit tengah menangis?dan iya,benar saja terbukti dengan bahu Bulan yang kini telah basah oleh air mata Radit.
"Jangan pergi lagi,aku mohon tetaplah disampingku,percaya padaku Dek,aku benar benar membutuhkan mu dan anak kita"lirih Radit disela isak tangisnya.
Bulan bergeming namun Radit semakin mengeratkan pelukan nya saat tangan Bulan menyentuh dan menumpukan tangan mungilnya diatas tangan Radit yang masih melingkari tubuhnya.
Keduanya pun begitu larut dalam momen pertemuan ini,larut dalam dekapan masing masing hingga tidak menyadari ada orang yang menatap dengan senyum haru diluar sana.
"Non Bintang mau jalan jalan dan beli es crem nggak?"tanya Dani pada Bintang aya ada disamping nya namun tengah asik dengan mainan baru yang tadi Dani belikan hingga tidak menyadari kalau sang Ibu tengah berpelukan mesra dengan seorang pria didalam sana.
__ADS_1
"Tapi Mamah akan marah Om kalau Bintang pergi sama orang asing"jawab Bintang yang sedari tadi menolak kehadiran Dani.
Bahkan butuh waktu Setengah jam untuk Dani agar bisa membawa Bintang pulang dan membuat Bintang percaya padanya.
"Kan Mamah sudah nitipin Bintang sama Om selama Mamah pergi.Nggak jauh kok,itu disana ada penjual es crem,bagaimana kalau kita beli dan makan disana"ujar Dani menunjuk sebuah stand penjual es crem yang tidak jauh dari toko Bulan.
Dani yang begitu pengertian mencoba membawa Bintang agar Bulan dan Radit memiliki waktu berdua untuk berbicara dari hati ke hati.
Bintang pun mengangguk dan menyetujui ajakan Dani,selain tempatnya dekat Bintang juga cukup kenal dengan penjual es crem itu jadi kalau ada apa apa Bintang bisa minta tolong padanya.
*
*
"Kak kakiku pegal"lirih Bulan yang sudah setengah jam berada didalam dekapan Radit dalam posisi berdiri.
__ADS_1
"Tapi janji nggak akan kabur lagi?maka aku akan melepaskan pelukan ini.Kalau kabur lagi aku akan ikat kakimu dan aku akan mengurungmu sehingga kamu tidak akan pergi kemana mana lagi"jawab Radit yang semakin erat memeluk tubuh mungil Rembulan.
"I_iya,tapi bisakah kita bicara sambil duduk?"jawab Bulan yang merasa canggung setelah bisa mengendalikan perasaan nya.
Sungguh Bulan juga rindu padanya namun Bulan tidak ingin menyakiti sang Kakak yang begitu teramat mencintai pria yang sudah memberikannya seorang putri itu.
Radit pun mulai mengurai pelukan nya namun secepat kilat Radi membalik dan mengangkat Bulan membawa dalam gendongan nya dan mendudukkan tubuh mungil Bulan dimeja kasir sehingga aksi mesra dan intim kedua nya tidak terlihat dari luar.
"Kakak..."pekik Bulan yang begitu terkejut dengan aksi Radit yang mengangkat dan membawanya dalam gendongan Radit lalu mengungkung Bulan disebuah ruangan kasir yang sempir dan kecil.
"Katakan kenapa pergi dan menghilang,hhmm?kenapa tidak bertanya dulu padaku tentang kebenarannya?kamu tahu betapa gilanya aku karena tidak kunjung menemukan mu dan anak kita"ucap Radit menatap tajam dan dalam pada wajah Bulan yang kini ada tepat didepan wajahnya.
"Ma_maksud Kakak apa?Bu_Bulan tidak mengerti"jawab Bulan yang begitu gugup kala bersitatap dengan wajah yang selama ini dia rindukan namun juga dia takuti.
"Aku sudah tahu kalau Mentari mengatakan hal hal yang tidak benar tentang aku dan dia.Hubungan kami tidak seperti yang dia katakan padamu dan sekarang kami bahkan sudah bercerai".
__ADS_1