Merindukan Rembulan

Merindukan Rembulan
Bab.50


__ADS_3

"Ini minum dulu,jangan dulu pulang nanti kita makan siang bersama setelah Bintang bangun"ujar Bulan pada pria yang baru saja keluar dari kamar Bintang.


"Iya terima kasih nyonya Bagaskara Herlambang"ucap si pria sembari menerima gelas minuman dingin kesukaan nya dari tangan Bulan.


"Kebiasaan,ck"cebik Bulan sembari berlalu kembali kedapur.


"Lan apa kamu nggak ada niat buat kembali ke Jakarta?"tanya Si pria yang sontak menghentikan langkah Bulan.


"Bukankah aku sudah bilang jangan bahas apapun tentang itu.Aku sudah cukup bahagia disini bersama Bintang dan itu sudah cukup"jawab Bulan lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.


Sementara si pria hanya bisa menghela nafas panjang karena kembali gagal memintanya untuk kembali pulang ke Jakarta.


Bulan pun kembali mengsibukan diri dengan menyiapkan makan siang untuk mereka.Dengan begitu Bulan bisa menyamarkan perasaan rindunya pada keluarga yang ada disana.


Ingin sebenarnya kembali kesana,kembali berkumpul dengan keluarganya apalagi kini ada Bintang yang menjadi anggota keluarga baru untuk keluarga Laksono.


Namun kembali lagi rasa takut akan Radit mengambil Bintang jauh lebih besar dari pada rasa rindu yang dia rasa saat ini.

__ADS_1


*


*


"Yee,Papah Bian masih disini ternyata"ucap Bintang yang baru saja keluar dari kamarnya masih dengan wajah bantalnya mencari sosok Papahnya tadi dan berhambur kedalam pelukan pria dewasa yang tengah asik memainkan ponselnya.


"Bintang sudah Mamah bilang panggil yang benar Nak.No Papah Bian tapi uncle Bian"protes Bulan dari dalam dapur.


"Kenapa sih Mah?Papah Bian aja suka Bintang panggil begitu"jawab Bintang berenggut.


"Ya karena Uncle Bian bukan Papah Bintang sayang"jelas Bulan yang kini melembutkan suaranya.


"Hey,Papah kan sudah bilang Bintang nggak boleh nangis sayang,You are a strong woman and a strong woman is not a crybaby " bujuk Bian pada gadis kecil yang kini ada dalam pelukannya.


"but i want to have daddy"lirih Bintang yang jujur begitu menyayat hati Bulan.


"Sssttt,sudah jangan nangis lagi.Bukan nya Papah tidak keberatan Bintang panggil Papah?jadi kenapa harus nangis?"ucap Bian sembari mengusap air mata Bintang.

__ADS_1


"Tapi Mamah Bil___"


"Sssttt,jangan dengarkan Mamah cerewet kamu itu.Panggil Papah sampai Bintang bosan,ok"ucap Bian yang membuat Bintang kembali tersenyum.


"Ayo lebih baik kita makan,Papah sudah lapar ini nungguin putri Papah bangun"lanjut Bian manggandeng tangan Bintang menuju keruang makan.


"Jangan melarang Bintang untuk memanggilku Papah,karena aku sudah menganggapnya anakku sendiri"tegas Bulan yang kerap melarang Bintang memanggil Bian dengan sebutan Papah.


"Tapi Bi___"


"Stop aku tidak mau dengar pembahasan ini lagi"ucap Bian lagi sembari menempelkan jari telunjuknya dibibir Bulan.


"Ayo lebih baik kita makan"Bian pun segera menempati kursinya untuk menyantap makanan yang telah Bulan masak hari ini.


Lima tahun sudah mereka bersama namun tidak merubah sedikit pun hubungan diantara keduanya.Bulan memang begitu mangagumi Bian yang begitu bertanggung jawab menjaga dan merawatnya dan juga Bintang.


Namun Bulan tidak tahu perasaan apa yang ada didalam hatinya untuk Bian saat ini.Bulan tidak menampik kalau pesona Bian begitu membuat para wanita tergoda.

__ADS_1


Namun setiap kali Bulan manatapa wajah Bian,Bulan akan selalu teringat pada Radit.Cintakah Bulan pada pria yang sudah menghancurkan hidupnya itu?entahlah yang pasti selama lima tahun berpisah dari nya tak sehari pun Bulan lewatkan tanpa memikirkan nya.


Namun Bulan terus berusaha mengubur rasa itu dalam dalam saat mengingat bagaimana Mentari menceritakan betapa cintanya Radit pada Kakaknya itu hingga Bulan pun akhirnya memilih pergi karena sadar akan menjadi penghalang kebahagiaan dua orang sekaligus.


__ADS_2