Merindukan Rembulan

Merindukan Rembulan
Bab.84


__ADS_3

"Mentari kenapa Nak?"tanya Mamah Ayu yang berniat memanggil anak dan menantunya karena sanak saudara yang sudah mulai berdatangan menanyakan tentang Mentari dan suaminya.


"Tari mendadak pusing dan mual Mah,aku tidak tahu dia kenapa"jawab Abra setelah menyelimuti Mentari yang terbaring lesu diranjang.


"Lebih baik kita panggil Dokter saja,bagaimana?"


"Baiklah Mah,aku akan menghubungi temanku yang kebetulan seorang Dokter"


Abra pun segera menghubungi teman nya Selia yang sudah dua bulan bekerja dirumah sakit di Jakarta.


Setalah hampir satu jam menunggu Selia pun tiba dihotel tempat Abra berada.Dengan bantuan petunjuk dari sambungan telpon dari Abra akhirnya Selia pun tiba didepan kamar yang ditempati oleh Abra dan Tari.


Ting tong...


Dengan perasaan berdebar Selia menekan bel pintu kamar hotel dimana Abra berada dan setelah menunggu sebentar pintu kamar itu pun terbuka dan memunculkan wajah tampan Abra dengan balutan jas khas pengantin yang membuat Selia menyatukan kedua alisnya.

__ADS_1


"Hai Sel,sudah datang ya.Ayo masuk"ucap Abra saat melihat Selia berdiri di depan pintu kamar hotelnya


"Memangnya siapa yang sakit Bra?kok tumben kamu di Jakarta terus tinggal di hotel"tanya Selia sembari mengikuti Abra masuk kedalam kamar tanpa menyadari adanya Mentari disana.


"Oh itu,sorry ya ganggu waktu kamu.Aku mau memeriksakan keadaan istriku,tolong ya periksakan keadaannya dari tadi pagi dia muntah-muntah terus"


Deg...


jantung Selia seakan terhenti saat Abra mengatakan istrinya yang akan diperiksa oleh Selia.


Dan hatinya terasa diremas saat melihat wanita yang pernah dia periksa waktu masih bertugas dirumah sakit di Bali tengah terbaring lemah dengan Abra berada disampingnya.


Mereka terlihat serasi dengan baju pengantin yang mereka kenakan saat ini.Selia baru menyadari kalau ucapan Abra dulu saat pertama kali bertemu dengan wanita berhijab itu ternyata bukan lelucon.


Dan terbukti kini dia melihat keduanya kembali dalam balutan baju pengantin yang menandakan kalau keduanya sudah menikah.

__ADS_1


Selia pun segera memeriksa Mentari setelah bisa mengendalikan perasaan nya yang kini benar benar hancur dan sakit saat pria yang dia impikan akan menjadi pendamping nya musnah sudah.


Belum lagi acara perjodohan keduanya yang sudah di atur secara apik oleh kedua orang tua Selia dan juga Ayah Abra kini mungkin hanya angan nya saja.Karena kini Abra sudah memiliki seorang istri.


"Bagaimana sel?ada apa dengan istriku kenapa dia terus muntah-muntah?"tanya Abra saat Selia selesai memeriksa keadaan Mentari


"Tenang saja Bra dia baik-baik saja,hal ini normal dialami oleh wanita hamil di trimester pertama.Selamat ya sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah"jawab Celia Sendu


"Hamil?istriku hamil sel?sungguh?"tanya Abra lagi meyakinkan


"Sungguh Abra istri kamu sedang hamil dan mungkin untuk lebih jelas lagi lebih baik kamu bawa periksa ke Dokter kandungan agar lebih jelas dan lebih detail bagaimana kondisi kehamilan istri kamu.Untuk saat ini aku akan menuliskan resep vitamin biar mual dan pusingnya berkurang"lanjut Celia sembari menuliskan resep obat untuk Mentari.


Mentari yang mendengar kabar kehamilannya itu seketika menjadi murung.Pasalnya Mentari masih ingat jelas dengan obrolan antara dirinya dan Abra saat di Bali.


Meskipun keduanya sudah menjalankan rumah tangga yang normal dan biasa namun Abra sudah mengatakan kepada Mentari untuk menunda memiliki anak karena belum siap untuk menjadi seorang ayah.

__ADS_1


Dan hal itu kini terjadi dan Mentari pun merasa takut kalau Abra akan menolak anak yang ada di dalam rahimnya.


__ADS_2