Merindukan Rembulan

Merindukan Rembulan
Pria Sok Akrab


__ADS_3

"Tolong beri aku kesempatan Mas.Aku janji aku akan melepas alat itu besok dirumah sakit dan akan aku pastikan kalau aku akan segera hamil"ucap Mentari lagi kini dengan nada penuh permohonan.


"Maaf Ta tapi gugatan cerai sudah masuk dan diproses dipengadilan dan secara tidak langsung aku sudah menjatuhkan talak.Sangat tidak mungkin untuk aku menyentuhmu disaat sudah jatuh nya talak akan dirimu.Maaf aku rasa tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan,permisi aku masih banyak pekerjaan"jawab Radit lagi bergegas meninggalkan Mentari disana yang masih saja terus membujuknya untuk kembali.


Namun kali ini Radit benar benar sudah tidak bisa lagi kembali ke titik awal.Selain ada wanita lain yang kini sudah jelas jelas mengandung anaknya yang butuh pertanggung jawaban nya.Radit juga sudah tidak bisa bertahan disebuah hubungan yang membuatnya selalu merasa dikecewakan.


Radit pun pergi dari kantornya menuju kesebuah apartemen yang kenangan manis dan juga indah bersama calon ibu dari anaknya walaupun hanya sebentar namun mampu menumbuhkan sebuah rasa yang belum pernah Radit miliki selama ini.


Marah,kecewa dan juga rindu yang teramat besar yang kadang membuatnya sesak dan tidak membutuhkan waktu lama baginya tiba ditempat itu.


Radit terduduk lesu diujung ranjang milik Rembulan.Mata indahnya menatap sendu sebuah foto seorang gadis yang tersenyum manis dalam balutan seragam putih abu abu.


"Kamu dimana Dek?pulang sayang Mas merindukanmu dan anak kita"gumam Radit lirih mengusap lembut wajah cantik dengan senyum manis itu.


*

__ADS_1


*


Sementara Bulan sendiri baru terbangun disore hari karena perutnya yang sudah merasa lapar.Bulan pun bangkit dari tidurnya lalu bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Selang 30 menit Bulan pun sudah merampungkan acara bersih bersih nya dan mulai keluar kamar untuk mencari makanan.


Bulan menelusuri jalanan pinggir pantai untuk menuju kesebuah restoran yang memang terletak dipinggir pantai.


Sejenak Bulan dapat melupakan segala kegelisahan nya saat memandangi betapa indahnya pemandangan pantai disore hari.


Bulan pun mulai memasuki restoran dan mengambil meja tepat di pinggir pantai.Semilir angin yang menerpa tubuhnya bagaikan obat penghilang gundah hatinya saat ini.


*


Entah mengapa dia begitu merindu calon ayah dari anak yanh kini tumbuh dalam rahimnya.Namun kala ingat kembali dengan penuturan sang Kakak bahwa Radit akan memisahkan nya dari anaknya kelak membuat Bulan tidak akan pernah lagi menemui pria itu.

__ADS_1


Sungguh rasa yang begitu menyiksa,disaat hati begitu mendamba namun terhalang oleh rasa takut akam kehilangan sebuah nyawa baru yang kini tumbuh didalam dirinya membuat nya memilih pergi dan memghilang mengubur dalam dalam rasa yang baru saja tercipta.


"Nggak baik loh ibu hamil melamun dipinggit pantai sore sore begini,sendirian lagi"ucap seseorang yang tanpa di undang dan tanpa diminta duduk begitu saja disisi Bulan saat ini.


Bulan pun terbangun dari lamunan nya akan seseorang yang begitu dia rindukan oleh suara bariton yang baru saja menegurnya.


"Kamu?kenapa kamu disini?"tanya Bulan heran saat melihat Abra duduk disamping nya.


"Tadinya aku mau pulang tapi aku melihat seorang ibu hamil yang lagi melamun sendirian dipinggir pantai.Aku takut kalau tiba tiba dia lari kepantai dan menggelamkan dirinya,iihhh ngeri"ucap Abra bergidik ngeri membayangkan seseorang yang dia ceritakan yang merupakan sebuah sindiran untuk Bulan.


"Memang nya siapa juga yang mau bunuh diri?orang aku mau nenangin diri aja kok.Lagian sayang banget kalau mati sebelum lihat anak ini lahir setelah melalui masa masa sulitnya waktu ngidm dia"jelas Bulan panjang lebar karena merasa tak terima disangka akan bunuh diri oleh orang asing.


"Eehhh aku nggak bilang itu kamu ya,kok sewot?"


"Astaga,kamu kalau mau bikin orang jengkel mending pulang sana.Lagipula kita tidak sedekat itu kan untuk berbincang kaya gini"ucap Bulan yang merasa kesal karena ulah Abra.

__ADS_1


Bulan pun bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan pria asing yang menurutnya sok akrab itu.


Dengan perasaan marah dan juga jengkel Bulan pun kembali lagi ke hotel dan memutuskan untuk beristirahat saja.


__ADS_2