Merindukan Rembulan

Merindukan Rembulan
Bab.70


__ADS_3

Paginya...


Mentari terus menangis dibawah guyuran air shower yang membasahi seluruh tubuhnya.Entah sudah berapa jam dia duduk dan menangis tersedu meratapi nasibnya yang harus mengalami pelecehan disaat dirinya benar benar mantap berhijrah.


Tuhan sepertinya belum sepenuhnya memaafkan kesalahan nya dulu terhadap Rembulan yang dengan sengaja Mentari pisahkan dari Radit dan harus menderita seorang diri dalam menjalani masa kehamilan dan juga membesarkan anaknya dan juga Radit.


Mungkin Tuhan masih belum cukup menerima penyesalan Mentari hingga Mentari harus mengalami apa yang dulu Bulan alami.


Hancur,marah,kecewa,benci,malu dan merasa jijik pada dirinya sendiri kini Mentari mengalaminya.Walaupun Mentari bukan lagi seorang perawan namun apa yang baru saja dia alami benar benar hal yang sama sekali tidak dia inhinkan ddan tidak dia duga sebelumnya.


Nampaknya Mentari kini tengah menerima hukum alam dimana dia kini merasakan apa yang pernah Bulan alami dan Mentari menyalahkan Bulan akan kejadian itu bahkan dengan kejamnya Mentari menuduh Bulan merayu Radit.


Lantas sekarang?siapa yangbakan dia salahkan?penampilannya?yang jelas jelas sudah menutupi aurat semampu yang dia bisa.Pria yang beberapa jam lalu menggagahinya?jelas jelas pria itu melakukan hal keji itu pun tanpa sadar karena pengaruh minuman beralkohol.


Kembali lagi Mentari di ingatkan akan kesalahan kesalahan nya dimasa lalu.Betapa banyak orang yang sudah dia sakiti karena ke egoisan nya.


Dan kini Mentari pun harus merasaka bagaimana sakit,malu,hancurnya seorang Rembulan saat Radit menerobos masuk kedalam kamarnya dan merenggut kesucian yang selalu dia jaga.

__ADS_1


"Maafkan Kakak Bulan,kakak salah,kakak berdosa padamu dek,maafkan kakak"racau Mentari yang kini wajahnya sudah memucat dan bahkan bibirnya telah membiru saking lama nya tubuh itu diterpa guyuran air dingin kamar hotel miliknya.


Pandangan Mentari tiba tiba kabur dan detik kemudian menggelap.Mentari jatuh terkulay lemas tak berdaya.


Untung saja dengan sigap Abra menangkap tubuh lemas itu hingga selamat dari berbenturan dengan lantai marmer kamar mandi hotel tempatnya menginap.


"Hey bangung,Mentari aku mohon bangunlah"ucap Abra menepuk nepuk pipi Mentari yang sudah tidak sadarkan diri didalam pangkuan nya.


Abra pun segera membawa tubuh Mentari masuk kembali kedalam kamar dan mengganti baju basah Mentari dengan pakaian yang kering yang ada didalam kopernya.


*


*


Abra pun terlonjak kaget saat mendapati dirinya tengah tidur dikamar yang begitu asing untuknya.Keterkejutan Abra pun belum sampai disitu saja.


Jantung Abra seakan loncat dari tempatnya kala mendapati tubuhnya tertidur dengan keadaan polos tanpa sehelai benang pun.

__ADS_1


Abra pun dibuat penasaran dengan siapa wanita yang semalam menemaninya atau lebih tepatnya dia paksa menemaninya.


Dengan tergesa Abra pun turun dari ranjang dan memungut celana boxer nya lalu memakainya sebelum pergi menuji ke kamar mandi untuk mengetahui siapa wanita yang tengah menangis tersedu itu.


Disaat Abra masuk si pemilik suara nampaknya sudah tidak bisa menopang lagi tubuhnya hingga tubuh itu limbung dan ambruk.


Untung saja Abra dengan sigap menangkap tubuh lemas Mentari hingga selamat dari benturan dengan lantai marmer yang dingin dan keras.


"Me_mentari"ucap Abra saat dapat melihat dengan jelas wanita yang menjadi lawannya dalam pergulatan panas semalam.


"Mentari ayo bangun Mentari,aku mohon bangun lah"ucap Abra menepuk nepuk pipi Mentari yang sudah tidak sadarkan diri didalam pangkuan nya.


Abra pun segera membawa tubuh Mentari masuk kembali kedalam kamar dan mengganti baju basah Mentari dengan pakaian yang kering yang ada didalam kopernya.


Setelah beberapa saat Mentari pun tak kunjung bangun hingga tubuhnya semakin dingin dan wajahnya semakin pucat pasi.


Abra pun semakin panik dibuatnya hingga tanpa pikir panjang Abra bergegas mencari kimar milik Tari didalam kopernya lalu memangkan dikepalanya sebelum membawa Tari keluar dari kamar itu.

__ADS_1


__ADS_2