Merindukan Rembulan

Merindukan Rembulan
Bab.71


__ADS_3

Abra pun semakin panik dibuatnya hingga tanpa pikir panjang Abra bergegas mencari kimar milik Tari didalam kopernya lalu memangkan dikepalanya sebelum membawa Tari keluar dari kamar itu.


Dengan segera Abra membawa Tari masuk kedalam mobilnya lalu melajukan mobil itu ke arah apartemen miliknya.


Selama diperjalanan Abra pun tidak lupa menghubungi dokter pribadi keluarganya untuk memintanya datang ke apartemen untuk membantu memeriksakan kondisi Tari saat ini.


"*Maafkan aku Mentari,sungguh aku tidak tahu kalau itu kamu.Aku tidak bermaksud melakukan itu padamu,semua ini karena wanita dan minuman laknat itu*"gumam Abra menggeram penuh dengan rasa marah yang memuncak hingga ubun ubun kala mengingat seorang wanita yang tadi malam membuatnya mabuk dan melakukan hal yang tidak seharusnya kepada Tari.


Abra pun mempercepat laju mobilnya,berhubung hari juga masih pagi banget jadi jalanan masih nampak lengang dan itu membuat Abra sedikit terbantu untuk tiba di apartemen miliknya jauh lebih cepat.


Sebtiba nya disana Abra segera mengangkan dan membawa Mentari dalam gendongan nya dan bergegas menuju ke unit apartemen miliknya.


Abra membaringkan tubuh lemas Mentari diranjang kamar miliknya dan segera m,enghubungi sang Dokter kembali yang masih belum juga tiba disana.


Saking paniknya Abra pun hingga tidak bisa diam dan terus berjalan mondar mandir didepan ranjang dimana Tari terbaring.


Ting tong...

__ADS_1


Abra segera berlari saat mendengar suara apartemen nya berbunyi dan benar saja itu adalah Dokter pribadi keluarga nya yang nampaknya masih belum siap bertugas namun dipaksa datang oleh pelanggan tetapnya.


"Apa ini tidak kurang pagi untuk memanggil seorang Dokter?"tanya Selia yang merupakan Dokter pribadi baru untukn keluarga Abra yang sebelum nya dijabat oleh sang ayah namun karena sang ayah telah pensiun maka sang anaklah di utus untuk menggantikan nya.


Dan Selia juga merupakan teman masa sekolah Abra jadi sudah cukup akrab dengan nya.


"Sorry mendadak soalnya dan ini tidak terduga sebelumnya"jawab Abra sembari menuntun sang Dokter untuk masuk kedalam kamarnya.


Deg...


"Ayo cepat periksa Sel kok malah diam?"seru Abra yang membuat Selia terbangun dari tidurnya.


"Ah iya maaf.DI_dia siapa Bra?kok aku baru melihatnya?"tanya Selia sebari mengeluarkan alat alat yang biasa digunakan oleh Selia saat bertugas.


"Calon Istri aku"


Traaannngggg...

__ADS_1


Selia yang kaget dengan jawaban Abra tiba tiba menjatuhkan stetoskop yang akan dia gunakan untuk memeriksa keadaan wanita berhijab itu.


"Kamu kenapa Sel?apa ada yang salah?"tanya Abra lagi melihat Selia yang begitu kaget hingga menjatuhkan alat untuk dia memeriksakan pasien nya.


"Ng_nggak,nggak kenapa napa,maaf"jawabnya lagi dan langsung memeriksa keadaan Mentari.


"Bagaimana keadaan nya?"tanya Abra yang terlihat begitu mencemaskan wanita asing yang baru saja Selia lihat sekarang ini.


"Tidak apa apa,dia baik baik saja dia hanya mengalami Hipotermia"jawab Selia yang kembali membereskan peralatan medis yang dia bawa.


"Lalu apa yang harus harus aku lakukan agar dia cepat bangun?"tanya Abra lagi yang begitu awam dengan dunia medis.


"Kamu cukup temani saja dia pastikan tubuhnya mendapatkan kehangatan tapi jangan terlalu panas karena itu juga tidak baik.Langkah pertama lebih baik selimuti tubuhnya dengan selimut tebal lalu beri dia minuman hangat.Setelah suhu tubuhnya sudah kembali normal maka dia pun akan segera terbangun"jelas Selia yang diangguki oleh Abra.


"Baiklah jika sudah jelas aku pulang duli jika kondisinya masih belum membaik lebih baik bawa dia langsung kerumah sakit saja"lanjutnya lagi.


"Baiklah,terima kasih Sel".

__ADS_1


__ADS_2